
Maafkan ayah sayang, jika selama ini ayah tidak pernah memperhatikanmu selama kamu ada di dalam kandungan ibumu.
Kamu harus tahu nak, bahwa keberadaan mu ini sesungguhnya tidak diinginkan.
Tetapi karena kamu sudah ada di dunia dan hidup di dalam rahim ibumu. Maka kamu pun harus tumbuh dan terlahir di dunia dengan selamat.
Dan aku sebagai ayah biologis mu, ayah sungguh minta maaf jika selama kau ada di dalam kandungan ibumu. Ayah tidak bisa memberikan kasih sayang ayah sama kamu.
Saat kamu sudah lahir nanti, dan saat kamu tumbuh besar. Ayah juga tidak bisa disisimu. Karena Ayah dan ibumu bukanlah seorang pasangan yang sah.
Suatu saat kamu pasti akan mengerti dan paham dengan keadaan kita. Semoga ibumu, mungkin nanti akan mendapatkan jodoh. Dan suaminya akan menjadi ayah sambung mu.
Meski begitu, sebagai ayah biologis mu. Ayah tidak akan pernah melupakan dirimu sayang. Dan akan selalu menyayangimu dan juga mencintai mu.
Salam sayang dan cinta ayah dari jauh untuk mu putri ku. Ucap Prasetya membatin sambil terus memandangi gambar foto USG itu.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
"Mau diambilkan lagi Mas lauknya?" Tanya Hanin pada Prasetya. Ketika mereka saat ini sedang makan malam di ruang makan.
"Boleh, tapi sedikit aja ya." jawab Pras, yang pada malam hari itu oleh Hanin di masakan cumi goreng saus tiram kesukaan Prasetya.
Tidak hanya melayani sang suami, Hanin juga melayani putranya dengan sangat baik.
Suasana penuh kehangatan setiap makan malam kembali terasa di meja makan.
Selama empat bulan terakhir ini. Hanin sepertinya sudah kembali menjadi Hanin yang dulu. Hanin yang penuh kehangatan, penuh perhatian, dan sangat mengurusi Pras dan juga putranya.
Sambil menikmati makan malam, keluarga kecil itu menikmati makan sambil berbincang-bincang ringan.
Selesai menikmati makan malam. Seperti biasa Prasetya selalu meluangkan waktunya untuk Ali.
Sibuk dengan pekerjaannya di kantor. Membuat Pras harus bisa meluangkan waktunya untuk bersama sang putra. Walau hanya beberapa jam pada saat ia sudah pulang dari kantor.
Biasanya Pras akan di ajak bermain oleh Ali di kamarnya.
Jika tidak, Pras akan menjadi pendengar yang baik untuk Ali ketika anak itu berceloteh tentang apa yang sudah ia lakukan di siang hari.
Setelah selesai menidurkan Ali di kamarnya. Prasetya dengan langkah perlahan lahan meningalkan kamar anak laki-lakinya.
Dengan menahan rasa letih karena lelah bekerja seharian di kantor. Prasetya berjalan ke kamarnya.
__ADS_1
Baru saja ia masuk ke kamarnya. Mata Prasetya disuguhi dengan pemandangan yang begitu indah.
Pras melihat Hanin sudah tertidur di sisi ranjang dengan mengenakan gaun malamnya yang indah. Hanin tertidur begitu lelapnya..
Tidak biasanya Hanin tidur awal. Biasanya ia akan tidur jika Pras juga sudah siap bersamanya di atas ranjang mereka.
Karena Hanin sudah tidur dengan begitu lelapnya, membuat Prasetya tidak tega untuk membangunkan sang istri.
Duduk tepat di sisi rajang, di samping Hanin. Prasetya nampak memperhatikan wajah Hanin dengan begitu lekat dan intens.
Wajah yang selalu berseri-seri, wajah yang cantik, yang selalu patuh terhadap dirinya dan yang selalu mengurusinya dari hal kecil.
Prasetya kemudian mengangkat tangannya untuk menyingkirkan beberapa helai rambut yang menutupi pipi Hanin. Kemudian ia menyelipkannya rambut itu ke sisi telinga Hanin.
Betapa wanita ini sangat kuat. Hingga kini, Prasetya tidak pernah berhenti untuk mengagumi sang istri yang telah ia nikahi empat tahun lalu itu.
Pikiran Pras kembali teringat dengan pesan-pesan yang sudah Kinanti kirimkan padanya tadi siang.
ia sengaja menghapus pesan tersebut karena ia tidak ingin Hanin tahu jika Kinanti mengirim pesan terhadap dirinya.
Maksud Pras menghapus pesan itu tidak lain hanyalah karena Pras takut Hanin akan salah paham.
Setelah itu ia bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah selesai dengan ritual bersih-bersih. Tidak lupa Prasetya menunaikan sholat malam.
Baru setelah itu ia bergegas naik ke atas rajang untuk beristirahat. Pras tidak bisa tenang tidur jika di sisi nya tidak ada Hanin.
Sambil memeluk tubuh Hanin dari belakang. Prasetya kini menyusul sang istri yang sudah tertidur pulas sejak tadi. Tidur dengan posisi berpelukan seperti itu sudah menjadi kebiasaan pasangan suami-istri tersebut.
🌸🌸🌸🌸🌸🌸
Karena perutnya kini sudah semakin besar. Membuat Kinanti menjadi serba salah setia kali ia ingin mendapatkan posisi nyaman untuk tidur.
Semakin mendekati hari lahir. Entah kenapa bayangan wajah Prasetya selalu menghiasi pikiran Kinanti.
Ia sadar, Pria yang selalu ada dalam pikirannya saat ini adalah suami orang.
Kinanti tau itu, tapi ia sendiri tidak mampu membuang rasa kagumnya terhadap Prasetya.
Apakah salah, jika Kinanti hanya sekedar memikirkan Pria itu.
__ADS_1
Dan ia tidak bermaksud untuk menjadi seorang pelakor.
Yang Kinanti harapkan dari Prasetya hanyalah. Ia ingin Pria yang menjadi ayah biologis anaknya itu menengok anaknya ketika nanti anaknya lahir.
Hanya itu yang menjadi harapan Kinanti, tidak lebih.
Tapi Kinanti sendiri juga tidak bisa memungkiri bahwa. Sampai detik ini ia masih mengagumi Prasetya.
Dan perasaan itu tidak bisa ia lenyapkan begitu saja.
Apalagi saat ini dirinya mengandung benih Pria yang sangat ia kagumi tersebut.
Terkadang Kinanti merasa miris dan merasa cemburu ketika ia memeriksakan kandungannya dokter.
Orang-orang yang memeriksakan kandungannya ke dokter ditemani oleh suaminya. Sedangkan dirinya hanya ditemani oleh ibunya.
Dan sang Ibu pun memberikan pembelaan jika suami Kinanti sedang dinas ke luar kota. Padahal dirinya belum punya suami, bahkan tidak punya pasangan.
Karena tidak bisa tidur pada malam itu. Kemudian Kinanti mengambil ponselnya dan ia kembali membaca balasan pesan-pesan yang telah Prasetya balas tadi siang.
Hanya membaca balasan pesan dari Pras saja sudah membuat hati Kinan bahagia.
Maafkan aku Bu Hanin. Jika aku sampai saat ini masih saja mengangumi suami mu.
Tapi aku tidak pernah bermaksud untuk merebut Pak Prasetya dari Bu Hanin. Saya tau Pak Pras sangat mencintai Bu Hanin.
Sudah sejak lama aku mengagumi Pak Pras. Dan saya mengaguminya dalam diam tanpa pernah ingin merebut Pak Pras dari Bu Hanin.
Sampai sekarang saya hamil pun. Saya bisa menerima kenyataan bahwa Pak Pras tidak bisa bertanggung jawab untuk menikahi saya.
Saya cukup bahagia memiliki anak dari seseorang yang saya kagumi.
Dan jujur, semua itu tidak aku rencanakan sama sekali. Kejadian malam itu benar benar tidak di sengaja.
Biarlah saya tidak bisa memiliki Pak Prasetya.
Tapi saya aku cukup bahagia karena telah memiliki anak dari pria yang sangat aku cintai.
Semoga kehidupan rumah tangga Bu Hanin dan Pak Prasetya selalu langgeng dan harmonis.
Saya sudah cukup bahagia melihat Pak Pras bahagia bersama Bu Hanin.
__ADS_1