Maafkanlah Aku Istriku

Maafkanlah Aku Istriku
Rahasia Yang Menjadi Beban


__ADS_3

Satu Bulan Kemudian


"Mas Prasetya kenapa? Akhir-akhir ini aku perhatiin, Mas sering sekali melamun. Mas Pras sering terlihat gelisah. Dan di malam hari saat tidur pun, Mas seperti banyak menyimpan beban pikiran. Sehingga tidur mu tidak bisa nyenyak. Ada apa mas? Apa ada masalah di kantor?" Tanya Hanin kepada Prasetya, ketika mereka hendak beristirahat bersama pada malam itu.


"Tidak apa-apa sayang, biasalah, masalah pekerjaan." kilah Prasetya berbohong. Padahal dirinya sedang memikirkan Kinanti. Yang saat ini tengah mengandung benihnya.


"Mas." Pangil Haningrum, memanggil sang suami dengan suaranya yang merdu dan lembut. Sambil mengelus paha Prasetya yang saat itu berada di sisinya.


"Berbagi bebanlah dengan ku Mas. Meski kamu hanya bercerita tentang masalah yang kau hadapi. Aku siap menjadi pendengar. Aku siap untuk mendengarkan keluh kesah mu. Meskipun aku tidak bisa membantu jika masalah itu tentang pekerjaan. Setidaknya Mas bisa bercerita dengan ku. Agar beban pikiran Mas Pras bisa sedikit berkurang. Atau mungkin aku bisa memberikan saran. Ceritalah sama aku Mas, aku ini kan istri mu. Aku adalah diri mu dan aku adalah diri mu. Kitakan biasanya memang selalu terbuka. Aku tidak pernah menutupi sesuatu darimu. Dan kamu pun juga seperti itu kan. Tidak ada hal yang Mas rahasiakan."


Mendengar kata-kata Hanin, Pras kemudian menoleh ke arah sang istri dengan lekat.


Saat itu, Hanin mengenakan gaun malamnya dengan potongan yang terbuka dan seksi. Dengan rambut yang Ia biarkan tergerai.


Jika sedang berada di dalam kamar bersama sang suami. Hanin memang sengaja menyuguhkan pemandangan yang indah dari tubuhnya untuk sang suami.


Ia selalu berpenampilan menarik di hadapan sang suami yang sangat ia cintai itu.


Hanin pun tak canggung bila harus berpakaian seksi di dalam kamarnya. Toh kamarnya adalah wilayah pribadi dirinya dan juga Prasetya.


Tapi, jika Hanin ingin keluar kamar. Ia kembali memakai hijab nya dan berpakaian tertutup.


"Han, apa kamu melihat aku sedang merahasiakan sesuatu?Tanya balik Prasetya menyelidik kepada sang istri. Karena Pras mulai takut jika apa yang ia pendam bisa dibaca oleh sang istri.


"Jujur sih Mas, akhir-akhir ini aku memperhatikanmu. Kamu sering melamun, kamu gelisah di saat malam hari. Dan aku tidak tahu apa yang membuatmu seperti itu. Aku pikir, mungkin saja itu karena Mas banyak pekerjaan. Makanya aku tanya sama Mas, ada apa? Jika ada masalah ceritalah sama Hanin. Ngak apa apa ko, kalau Mas berbagai masalah sama aku." Ucap Hanin, begitu menaruh rasa perhatian pada sang suami, Prasetya.

__ADS_1


Kemudian Prasetya memposisikan tubuhnya untuk menghadap ke arah sang istri.


Hanin yang saat itu sedang duduk bersandar di tempat tidur nampak memperhatikan wajah Prasetya dengan begitu intens.


"Hanin, aku ingin bertanya sama kamu. Jika aku melakukan kesalahan, kesalahan apa yang tidak bisa kamu toleransi dari ku?" Tanya Prasetya dengan wajah serius.


"Maksud Mas Prasetya apa? Aku tidak mengerti?" Tanya Hanin nampak bigung.


"Maksud Mas, seandainya Mas melakukan kesalahan. Dan kesalahan itu sangat besar dan bagimu itu tidak termaafkan, kesalahan seperti apa itu?"


"Kok mas malah bertanya pertanyaan seperti itu. Memang Mas melakukan kesalahan apa?" Tanya Hanin lagi, justru bertanya.


"Kan Mas hanya bertanya, misal Mas melakukan kesalahan besar, kesalahan besar apa yang tidak akan pernah Hanin maafkan. Jika Mas sampai melakukan kesalahan itu?" Setelah mencerna sejenak perkataan sang suami, akhirnya Hanin mengerti.


"Semua kesalahan itu ada dua sebabnya Mas. Yaitu kesalahan pertama adalah kesalahan yang disengaja dan kesalahan yang kedua adalah kesalahan yang tidak disengaja. Antara kesalahan sengaja dan tidak disengaja ini pun juga tergantung kesalahannya apa." Terang Hanin pada sang suami.


"Ya tergantung Mas. Kamu lakukan kesalahan apa. Seperti yang aku bilang kan, kesalahan itu ada dua macam. Kesalahan yang disengaja dan kesalahan tidak disengaja. Dan mungkin aku akan melihat dulu, kesalahan macam apa itu. Kok Mas Prasetya mempertanyakan pernyataan seperti itu? Ada apa sih Mas! Apa Mas melakukan kesalahan?" Dan pertanyaan Hanin sudah cukup membuat Prasetya panas dingin.


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


Tempat Kost Kinanti


Selang sebulan kemudian, kandungan Kinanti kini sudah berjalan kurang lebih 5 Minggu.


Dan saat ini, Kinanti sudah mulai merasakan berbagai gejala yang di alami oleh orang yang sedang hamil muda pada umumnya.

__ADS_1


Seperti mual, pusing, badan rasanya nyeri dan lain sebagainya.


Sejak mengetahui dirinya positif saat di tespek waktu itu. Kinanti berinisiatif untuk mengecek kandungannya ke dokter. Dan dari hasil pemeriksaan dokter. Memang benar, saat ini Kinanti sedang berbadan dua.


Berada sendirian di kamar kost. Kinanti yang saat itu baru saja muntah muntah di kamar mandi. Merasa tubuhnya kini lemas dan tidak berdaya.


Sejenak, Kinanti bersandar pada pintu kamar mandi setelah ia merasa tubuhnya kini lemas.


Setelah merasa tubuhnya cukup kuat untuk berjalan. Kinanti kemudian berjalan ke arah jendela yang ada di kamarnya.


Di sebrang jalan, ada tukang nasi goreng gerobak yang mangkal. Karena ia lapar dan kini perutnya kosong. Ia ingin mengisi kembali perutnya.


Kemudian Kinanti mengambil jaket tebal nya dan keluar kamar kost. Ia berniat untuk membeli nasi goreng tersebut.


Satu jam kemudian, setelah Kinanti selesai melahap sebungkus nasi goreng yang ia beli. Ia kemudian duduk di atas tempat tidur lantai nya sambil bersandar pada dinding kamar.


Aku harus melakukan sesuatu. Tidak mungkin aku hanya berdiam diri seperti ini.


Semakin lama kandunganku pasti akan semakin besar. Dan aku tidak bisa menutupi ini dari semua orang.


Aku harus memberitahu seseorang tentang kehamilanku. Tapi kepada siapa aku harus berterus terang.


*Ibu, Ibu lah satu-satunya orang yang bisa menolongku.


Hanya pada ibuku lah aku bisa berbagi. Aku tidak mungkin memikul ini semua sendiri*.

__ADS_1


Sedangkan Pak Prasetya juga tidak punya solusi apapun. Meski dia sudah tau aku hamil anaknya.


__ADS_2