
"Mas, kamu sengaja ya. Semalam tidak memakai pengaman saat kita berhubungan?" tanya Hanin pada Prasetya.
"Aku lupa, tapi kan memang biasa aku tidak pake kan." jawab Pras.
"Masalahnya aku tidak meminum pil KB ku Mas. Kalau terjadi apa-apa denganku bagaimana?" ucap Hanin nampak kawatir.
"Maksudmu, jika kamu hamil? Ya bagus kalau kamu bisa hamil lagi. Sudah waktunya Ali mempunyai adik kan." jawab Prasetya enteng.
"Kita kan sedang proses perceraian Mas."
"Tidak akan ada perceraian diantara kita Hanin! Kamu harus membatalkan gugatan cerai itu." tegas Prasetya dengan nada suara agak tinggi.
Paham kata kata sedikit meninggi. Pras kemudian menghela nafas panjang.
Ia kemudian berdiri dari kursinya dan berjalan ke arah Hanin yang saat itu masih terduduk di kursinya.
Duduk berjongkok sambil menggenggam kedua tangan Hanin. Pras yang saat itu berada di hadapan Hanin nampak melembutkan sikapnya.
"Maafkan Mas Aku tidak bermaksud membentak mu tadi. Aku hanya ingin, kamu membatalkan gugatan cerai itu. Kita masih sama-sama saling mencintai Han. Ada Ali, dia masih butuh kita untuk ada di sisinya, pikirkan itu. Untuk kali ini aku benar-benar menyesal dan tak akan mengulanginya. Mari kita sama sama bangun lagi rumah tangga kita."
Hanin yang terdiam dan menunduk itu kemudian menarik tangannya dari genggaman tangan Prasetya.
"Mas masih saja egois. Ingin aku memaafkan kesalahan Mas."
"Aku hanya bisa bilang seperti itu Han."
"Sudah siang Mas, antar aku pulang." ucap Hanin yang kemudian ia berdiri dari duduknya dan menaruh piring bekas makannya ke wastafel.
__ADS_1
Di sepanjang perjalanan menuju rumah Hanin. Pasangan suami istri itu saling diam di tempatnya masing-masing.
Hanin sepertinya di buat dilema dengan situasi yang saat ini dia hadapi.
Beberapa menit kemudian, mereka kini telah sampai di depan gerbang rumah Hanin.
Hanin langsung melepaskan seatbelt yang melekat di tubuhnya. Ketika Hanin hendak membuka pintu mobil. Pras kemudian mengatakan sesuatu.
"Katakan pada Ali, kalau nanti malam aku akan datang. Terimakasih untuk kegiatan yang kita lakukan berdua semalam Han. Itu sungguh menyenangkan." ucap Pras, Hanin hanya menatap Pras dengan tatapan datar.
"Sama sama Mas." Jawab Hanin, setelah itu ia keluar dari mobil dan kemudian menutup kembali pintu mobil.
Setelah itu ia berjalan menuju pintu rumah nya. Setelah memastikan Hanin telah masuk kedalam rumah. Barulah Pras melajukan mobilnya kembali untuk menuju kantor.
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
"Mama, tumben datang ke kantor Pras." ucap Prasetya dengan nada kaget saat melihat mamanya memasuki ruang kerjanya.
Pras kemudian berdiri dan langsung menyambut mamanya. Kemudian ia mengajak mamanya untuk duduk di ruang tamu yang ada di ruangan kerja.
"Kenapa tidak menelpon Pras untuk datang ke rumah saja. Jadi Mama tidak perlu repot-repot kemari." ujar Pras.
"Kebetulan tadi Mama sedang ada keperluan di luar. Jadi Mama mampir. Ada sesuatu yang ingin Mama sampaikan sama kamu."
"Memangnya ada sesuatu yang penting apa Ma?" Tanya Pras penasaran.
"Ini tentang Kinanti." jawab Bu Damayanti.
__ADS_1
"Ada apa dengannya?"
Kemudian Bu Damayanti memberikan ponselnya kepada Prasetya. Dan, Bu Damayanti menyuruh Prasetya untuk membaca sendiri pesan yang sudah Kinan tulis.
Pesan yang ditulis oleh Kinanti itu menyatakan bahwa itu adalah pesan terakhirnya.
Kinanti menjelaskan bahwa terhitung pada hari itu adalah hari terakhir ia mengirimkan pesan.
Kinanti juga berpesan agar Bu Damayanti ataupun Prasetya tidak perlu lagi mengirimkan uang tunjangan.
Kinan menjelaskan bahwasanya ia dan keluarganya tidak membutuhkan uang tunjangan yang Pras berikan setia bulannya untuk anaknya.
Kinanti juga telah memutuskan hubungan kontak dan komunikasi antara dirinya dan juga Prasetya.
Setelah membaca isi pesan tersebut. Pras kemudian memberikan ponselnya kepada sang Mama.
"Oh, jadi dia tidak memerlukan uang dari Pras, untuk membiayai anaknya. Ya mau bagaimana lagi, Pras sejauh ini sudah berusaha untuk bertanggung jawab untuk anak itu. Jika dia tidak mau menerima uang tunjangan dari ku ya harus bagaimana lagi Ma." ucap Prasetya.
"Iya, Mama tau. Yang Mama pikirkan bukan Kinan. Tapi anak itu, bagaimanapun, dia juga anak mu Pras. Darah daging mu. Apalagi bayi itu perempuan. Kamu tau sejak dulu Mama ingin sekali punya anak perempuan. Tapi Mama hanya punya anak satu laki laki yaitu kamu. Jujur, sebagai seorang nenek, Mama sedikit sedih. Saat Kinan memutuskan komunikasi dan tidak mau lagi menerima uang tunjangan itu. Tapi, kembali lagi. Itu hak dia."
Pras pun terlihat berfikir.
"Ya, Prasetya harus bagaimana Ma. Sekarang Pras sedang berjuang untuk memperbaiki hubungan Pras dengan Hanin. Pras bukannya tidak peduli dengan anak itu. Pras sudah menyerahkan semuanya sama Kinanti. Sekarang Pras hanya bisa berdoa untuk anak itu." Imbuh Pras yang kini terlihat sedih.
Karena bagaimanapun, anak tetaplah anak. Pras bisa merasakan bagaimana rasanya jika dekat dengan anak. Seperti dirinya dekat dengan Ali. Tapi, untuk anaknya dengan Kinanti. Mungkin Pras tidak akan pernah bisa kenal dan dekat dengan anak tersebut.
Yang ingin tau kehidupan Khianati bersama dengan karma karma nya bisa baca novel baru ku ya. Novel Maafkanlah aku istriku mungkin hanya menyisakan satu atau dua bab saja. Kisah rumah tangga Pras dan Hanin akan kembali aku bahas di novel baru ku (Takdir sang mantan Pelakor) Terima kasih π₯°π
__ADS_1