Maafkanlah Aku Istriku

Maafkanlah Aku Istriku
Menyapa Kinanti


__ADS_3

Hanin terkaget, ketika ia membukakan pintu untuk suaminya dan melihat luka di pelipis Prasetya. Saat itu Pras baru saja pulang dari kantor.


"Mas, pelipis Mas kenapa? Kok bisa berdarah seperti itu. Wajah Mas juga ada beberapa luka memar." tanya Hanin sambil memeriksa wajah suaminya. Yang pada saat itu mereka masih berada di ambang pintu.


"Masuk dulu Han, nanti aku ceritakan semuanya." ucap Prasetya yang kemudian berjalan masuk ke dalam rumah dengan langkah lesu.


"Kita ke kamar saja ya Mas, supaya tidak dilihat Ali. Mas juga bisa lebih leluasa bercerita." Tutur Hanin menyarankan.


Hanin dan Pras kemudian langsung menaiki anak tangga untuk pergi ke kamar mereka di lantai atas.


Sesampai di kamar, Hanin langsung mempersiapkan alat kompres untuk membersihkan luka sang suami.


Dengan penuh hati hati dan telaten, Hanin kompres luka memar di wajah Prasetya.


"Kenapa bisa seperti ini sih Mas." Ucap Hanin yang merasa sangat kasihan kepada suaminya. Karena baru kali ini ia melihat suaminya terluka di bagian wajah seperti itu.


"Tadi Mas pergi ke kantor Murad, dan Mas meluapkan kekesalan Mas terhadap dia." jelas Prasetya.


"Maksud Mas?"


"Aku menghajar Murad." jawab Pras jujur.


"Astaghfirullahaladzim Mas. Kenapa Mas melakukan itu. Itu akan menjadi boomerang untuk Mas sendiri. Bagaimana kalau nanti Murad malah melaporkan Mas ke kantor polisi dengan tuduhan penganiayaan. Itu akan menjadi masalah tersendiri buat mas Pras." Ucap Hanin dengan nada penuh kawatir.


"Aku tidak bisa menahan emosiku Han, saat Mas melihat wajahnya. Dia sudah mengejek dan meremehkan harga diri Mas. Dan semua kelakuannya membuat Mas geram."


Hanin kemudian menghela nafas panjang. Ia paham dengan rasa kesal sang suami terhadap sepupunya tersebut.


"Yang sabar ya Mas." suara Hanin yang lembut itu begitu teduh terdengar oleh Prasetya.


Prasetya kemudian memandang wajah sang istri sambil tersenyum tipis. Saat itu Hanin melekatkan telapak tangannya ke wajah Prasetya.


"Aku sudah sabar untuk semua masalah yang sudah terjadi. Lain kali Mas jangan bertindak gegabah.


Mas sendiri kan saat ini berniat untuk membawa kasus ini ke jalur hukum. Seharusnya mas tidak perlu melakukan tindakan kekerasan terhadap Murad. Bukannya apa Mas, kita sudah tahu jika Murad kan berniat jahat sama Mas. Setelah Mas menghajarnya, bisa jadi dia nanti menuntut Mas dengan tuduhan penganiayaan."


"Aku tidak kepikiran sampai kesana Han."


"Ya sudah, sekarang Mas istirahat dulu ya. Hanin akan buatkan minuman hangat untuk mas Pras. Setelah tubuh Mas rileks, baru nanti pas mandi air hangat. Aku ke bawah dulu untuk menyiapkan minuman hangat untuk Mas, sekalian mengambilkan Mas Pras makan malam." tutur Hanin dengan sangat lemah lembut dan perhatian dengan suaminya.


"Terima kasih Han." ujar Prasetya, saat ia begitu di perhatikan oleh sang istri.


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸

__ADS_1


Keesokan harinya, pagi-pagi sekali. Prasetya sudah harus berangkat ke kantor. Karena ada beberapa pekerjaan penting yang harus ia kerjakan pada pagi hari itu.


Sambil mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Prasetya nampak fokus pada jalanan saat itu.


Ketika Prasetya sedang berhenti di pemberhentian lampu merah.Tanpa sengaja di sebuah perlintasan zebra cross. Prasetya melihat Kinanti yang sedang menyebrang.


Dan pada saat itu, Prasetya bisa melihat dengan begitu jelas perut Kinanti sudah terlihat membulat dan menonjol.


Pertemuan terakhir Pras dan Kinanti adalah pada saat mereka bertemu di supermarket.


Sejak saat itu mereka sudah tidak pernah bertemu lagi ataupun bertukar kabar.


Karena Pras sendiri sengaja tidak ada kontak chat atau telpon dengan Kinanti.


Pras berpesan pada Kinanti bahwa Kinan bisa menghubungi dirinya jika benar-benar ada hal yang penting.


Sambil melajukan mobilnya dengan pelan, Pras masih memperhatikan Kinanti pada saat itu.


Kinanti pada saat itu tengah berbelanja buah buahan di sebuah toko buah yang ada di pinggir jalan.


Dengan sedikit ragu ragu. Akhirnya Prasetya menepi kan mobilnya dan bermaksud menyapa Kinanti.


Pras hanya berniat untuk menanyakan kehamilan Kinanti. Bagaimana pun, anak yang di kandung Kinanti adalah anaknya.


"Kinanti." pangil Prasetya.


"Apa kabar?" tanya Prasetya lagi dengan ramah. Kinanti yang menoleh kesamping saat namanya di panggil oleh seseorang yang sudah sangat ia kenali suaranya terkaget.


Saat melihat Pras, Pria yang sangat ia kagumi berdiri di sampingnya dengan begitu tegap langsung membuat hatinya hangat.


Ia tak menyangka Pria berbadan tinggi besar dan berkulit putih serta berwajah rupawan itu menyapanya.


"Pak Pras."


"Sedang ingin beli buah ya." tanya Prasetya.


"Iya Pak, persediaan buah-buahan di rumah sudah habis. Jadi saya pagi-pagi sekali berbelanja buah sambil berolahraga."


"Oh,"


"Pak buah mangga sekilo dan jeruknya juga sekilo ya." pinta Kinanti pada penjual buah tersebut.


"Baik Neng." jawab sang penjual buah.

__ADS_1


Kinanti kemudian mengeluarkan dompetnya untuk membayar buah-buahan yang ia beli.


Belum sempat Kinanti membayarkan uang nya pada penjual buah. Prasetya sudah lebih dulu membayar buah-buahan tersebut pada penjualnya.


"Saya bisa bayar sendiri Pak." ucap Kinanti.


"Tidak apa apa." Jawab Prasetya yang kemudian ia mengembalikan lagi dompetnya ke saku celananya bagian belakang.


"Terima kasih Pak. Apa Pak Prasetya buru-buru atau ada sedikit waktu?" tanya Kinanti ragu ragu.


Prasetya kemudian mengecek jam tangannya yang melingkar di pergelangan tangan.


"Boleh kita duduk sebentar di bangku itu Kinanti." Prasetya kemudian menunjuk sebuah bangku yang berada tak jauh dari tempat mereka berdiri.


Mereka berdua kemudian duduk di bangku tersebut.


"Tadi aku lewat, dan aku tidak sengaja melihatmu. Sekarang perut mu sudah besar ya. Sudah berapa bulan usia kandunganmu sekarang?" Prasetya nampak begitu penasaran dengan usia kandungan Kinanti. Karena ia sendiri tidak begitu tau dengan pasti usia kandungan Kinan.


"Sekarang masuk bulan ke-5 Pak."


"Apa dia merepotkan mu?"


Kinanti kemudian tersenyum tipis sambil menyentuh perutnya yang sudah terlihat membulat itu.


"Dia tidak sama sekali merepotkan Pak. Dia sangat pintar." Prasetya kemudian memperhatikan dengan seksama perut Kinanti, yang di dalam sana ada anak darah dagingnya sedang tubuh.


"Apa semua baik-baik saja?"


"Semua baik, tidak ada masalah."


"Syukuri jika semuanya baik-baik."


"Pelipis Bapak kenapa? Tanya Kinanti penasaran, ketika ia melihat luka di pelipis Prasetya.


"Tidak apa apa. Hanya lupa gores. Ya sudah kalau begitu, aku harus ke kantor. Jaga dirimu baik-baik Kinanti. Jaga kandungan mu." pesan Prasetya, yang kemudian ia berdiri hendak berlalu.


"Iya Pak, terima kasih sebelumnya, sudah menyapa saya. Bapak juga hati hati." ucap Kinanti dengan lembut.


"Iya," Pras kemudian berlalu dari hadapan Kinanti dan berjalan dengan langkah pajang menuju mobilnya.


Kinanti sendiri nampak masih memperhatikan Prasetya. Sampai mobil yang di kendarai mantan bos itu menghilang dari pandangannya.


"Ada Papa tadi sayang." ucap Kinanti sambil mengelus perut buncitnya.

__ADS_1


__ADS_2