
"Assalamualaikum." Sebuah suara merdu itu terdengar lembut.
Seorang wanita 23 tahun tengah berdiri di ambang pintu ketika Hanin membukakan pintu untuk Kinanti. Yang pada saat itu datang ke rumah untuk mengambil berkas.
Hanin pun kemudian menyuruh Kinanti untuk masuk ke dalam rumah.
"Masuklah dulu Kinan." Tutur Hanin ramah pada Kinanti, ketika wanita yang berparas cantik itu hanya diam saja berdiri di ambang pintu. Hanin sendiri cukup kenal dengan Kinanti. Karena wanita itu telah lama berkerja di perusahaan suaminya. Dan Hanin juga tau jika Kinanti adalah orang kepercayaan Prasetya. Meski tau Prasetya punya orang kepercayaan seorang wanita lajang. Hal itu tidak lantas membuat Hanin merasa cemburu. Karena Hanin sangat mempercayai sang suami.
"Saya tidak bisa lama-lama Bu, saya ke sini hanya mengambil berkas yang tadi Pak Prasetya bilang ingin di titipkan ke saya." Jawab Kinanti. Yang merasa tidak enak jika dia sampai masuk kedalam.
"Iya, Mas Pras tadi juga sudah bilang. Tapi Mas Prasetya masih di kamar, dia sedang tidak enak badan hari ini. Ayo, masuk dulu. Aku panggilkan dulu Mas Prasetya nya." Ucap Hanin, kemudian mempersilahkan Kinanti untuk duduk di ruang tamu. Mau tak mau, akhirnya Kinanti pun masuk ke dalam rumah sang bos.
Saat Hanin hendak naik ke lantai dua, ternyata Prasetya saat itu sudah berjalan menuruni anak tangga sambil membawa beberapa bekas yang sudah ada di tangannya.
"Baru saja aku mau pangil Mas. Itu Kinan sudah datang." Ujar Hanin pada Prasetya.
"Karena aku tidak bisa ke kantor. Rapat hari ini akan di gantikan dia. Dia mau mengambil berkas penting untuk meeting." Tandas Prasetya pada sang istri.
"Ya sudah, Kinanti ada di ruang tamu. Aku naik ke atas dulu untuk temani Ali." Ucap Hanin, yang kemudian ia naik tangga ke atas, ke lantai dua rumahnya.
Setelah Hanin sudah benar-benar berada dilantai atas. Prasetya kemudian berjalan ke ruang tamu untuk menemui Kinanti.
__ADS_1
"Kinanti, ikut saya ke ruang kerja dulu." Tutur Prasetya, tanpa menunggu jawaban dari Kinanti. Prasetya sudah berjalan menuju ruang kerjanya yang ada di lantai bawah.
Dan hal itu membuat Kinanti mau tidak mau mengikuti perintah sang bos.
Kinan kemudian berjalan mengekor di belakang Prasetya. Setelah Kinanti masuk di ruang kerjanya. Prasetya kemudian langsung bergegas untuk menutup pintu ruang kerjanya.
"Ini berkas-berkas penting untuk bahan meeting hari ini. Katakan pada mereka aku sedang tidak enak badan. Nanti saya akan ikut meeting nya dari rumah. Kamu hanya perlu membawa dan bagikan berkas berkas itu pada klien kita." Tutur Prasetya menjelaskannya.
"Baik Pak." Jawab Kinanti nampak begitu profesional dalam menjalankan tugasnya. Kemudian Kinanti merapikan semua berkas berkas tersebut dan memasukannya kedalam tas kerjanya.
Saat Kinan sedang membereskan berkas itu. Tiba-tiba perutnya terasa mual dan ia juga ingin muntah.
Sejenak, Kinan mencoba untuk menahan mual dan rasa ingin muntahnya. Tapi rupanya hal itu tidak bisa ia tahan.
"Ada!" Seru Prasetya, sambil berjalan ke arah pintu toilet yang ada di ruang kerjanya. Dan kemudian ia membukakan pintu toilet untuk Kinanti.
Begitu pintu toilet di buka. Kinanti langsung menghamburkan dirinya ke arah closed. Dan ia memuntahkan semua isi perutnya di sana.
Prasetya yang saat itu berdiri di belakang Kinanti nampak bigung. Ia terlihat serba salah. Ingin rasanya ia memijat-mijat tengkuk Kinanti. Tapi wanita itu bukan wanita yang bisa ia sentuh begitu saja.
Prasetya tau, saat ini Kinanti pasti mual mual akibat kehamilannya. Dan ia sendirilah yang telah membuat wanita di sampingnya itu berbadan dua.
__ADS_1
Sesaat setelah Kinanti selesai memuntahkan semua isi perutnya. Prasetya menyuruh Kinanti untuk duduk di sebuah kursi. Dan ia memberikan Kinanti air minum.
Kebetulan ada satu botol air mineral kemasan di meja kerja Pras kala itu.
"Apa kau baik-baik saja?" Tanya Prasetya pada Kinanti dengan sedikit merasa khawatirkan.
"Ini sudah berlangsung sejak sebulan terakhir. Saya tidak apa apa Pak." Tukas Kinanti dengan perasaan hati yang sebenarnya sangat sedih.
Ada rasa sedih yang menyeruak keluar dari dalam batinnya. Sebuah perasaan nelangsa. Karena ia hamil tanpa adanya seorang pendamping. Tanpa adanya suami. Dan bahkan kekasih ia pun tidak punya. Lantaran Kinanti saat ini memang sedang fokus dalam karir.
Tapi malam naas itu telah merubah nasibnya. Kini ia tengah berbadan dua tanpa ada pertanggungjawaban yang jelas.
Bahkan Pria yang sudah membuatnya hamil pun hanya menjadi penonton di saat ia sedang muntah muntah.
"Pak, bagaimana dengan nasib saya? Bagaimana dengan etikat baik Bapak untuk anak yang saat ini saya kandung. Dia anak Bapak, Bapak ayah biologis janin yang ada di kandungannya saya. Saya sebenarnya menuggu peryataan Bapak. Tapi Bapak sepertinya tidak peduli dengan nasib anak ini."
Deg.........
Seketika itu juga, Prasetya melayangkan tatapan tajam ke arah Kinanti.
"Kamu sudah berjanji untuk tidak memberi tau istri ku. Aku saat ini sedang berfikir untuk mencari jalan keluar Kinan. Tapi aku tidak mau mempertaruhkan keutuhan rumah tangga ku."
__ADS_1
"Tapi Bapak tidak ada upaya apapun. Dia anak Bapak juga. Mau seberapa Bapak menyangkal dan menutupi ini semua. Bu Hanin pasti akan tau cepat atau lambat. Kebohongan macam apapun tidak akan pernah selamanya sempurna untuk di tutupi Pak."