Maafkanlah Aku Istriku

Maafkanlah Aku Istriku
Mengundurkan diri


__ADS_3

Setelah selesai dengan ritual dan kegiatan mereka di kamar mandi.


Prasetya dan juga Hanin sama sama membersihkan diri dan bersuci.


Setelah mereka keluar dari kamar mandi dan sudah berpakaian rapi. Keduanya kemudian melakukan sholat malam berjamaah.


Setelah melakukan sholat malam bersama sama. Pasangan suami-istri itu kemudian sama sama bergegas ke tempat tidur untuk beristirahat.


Seusai melakukan sholat subuh, Prasetya kembali merebahkan tubuhnya ketempat tidur untuk melanjutkan kembali tidurnya.


Karena hari itu adalah hari Minggu. Hari dimana ia tidak pergi bekerja dan bisa meluangkan waktu bersama untuk keluarga kecilnya di rumah.


Sudah menjadi kebiasaan Prasetya jika ia libur bekerja adalah bermalas-malasan dan bersantai di rumah seharian.


Ia biasanya lebih memilih untuk kembali tidur setelah sholat subuh di hari Minggu dan bangun siang.


Karena, hari hari ia selalu bagun pagi dan bersiap untuk berangkat ke kantor.


Sedangkan Hanin sendiri tidak rubah dalam menjalani aktivitasnya.


Seusai sholat subuh, ia selalu sudah mandi dan rapi mengenakan hijabnya.


Lalu Hanin langsung turun ke dapur untuk membuat menu sarapan pagi untuk suami dan anak tercintanya.


Meskipun ada asisten rumah tangga yang bisa mengerjakan apapun. Untuk urusan memasak dan membereskan tempat tidur kamar pribadinya, biasanya Hanin kerjakan sendiri.


"Ali bangun sayang! Sudah siang." panggil Hanin yang kala itu mendatangi kamar putranya.


Kemudian ia menyibakkan korden jendela di kamar sang putera. Agar cahaya matahari yang sudah bersinar terang dan cerah pada pagi itu bisa menerangi kamar putranya.


Ali kemudian mengucapkan salam pada bundanya. Lalu, sejenak ia menggeliatkan tubuhnya.


"Pagi Bunda." Sapa anak laki-laki yang berusia kira-kira 4 tahun itu.


"Pagi juga sayang, anak bunda. Tidurnya nyenyak sekali." Tutur Hanin yang saat itu sudah duduk di tepian ranjang putranya sambil membelai kepala Ali.


"Sana gangguin Ayah. Ayah masih tidur di kamar." Ucap Hanin, memberi tau Ali jika sang Ayah, Prasetya masih tidur di kamar.


Mendengar sang Ayah masih tidur di kamar. Ali pun langsung tergugah dan kemudian langsung melesat pergi ke kamar kedua orang tua nya yang berada berbelahan dengan kamarnya.

__ADS_1


Sesampainya di dalam kamar. Ali langsung meloncat ke atas ranjang tempat tidur orang tua nya dan naik ke punggung Prasetya yang kala itu masih tidur dengan posisi tengkurap.


"Yeah Ayah libur, Yeah Ayah libur!" seru Ali. Yang selalu senang jika Ayahnya tidak berkerja. Karena hari hari biasa ia selalu mendapati sang Ayah berangkat bekerja pagi dan pulang malam.


Pras pun kemudian mengerjabkan kedua matanya


Saat sang putra sudah berada di atas punggungnya dan menggangunya.


"Ayah, Ayah ayo bangun!" Seru Ali yang saat itu masih berada di atas punggung Prasetya.


"Hemmm Ali, mengganggu tidur Ayah saja. Rasakan ini, karena telah menggangu tidur Ayah." seru Pras. Yang kemudian ia langsung berbalik dan menggelitik perut anaknya dengan gemas.


"Ayah, Ayah, geli." teriak Ali yang berteriak-teriak bercampur dengan tertawa itu.


Ayah dan anak itu akhirnya terlibat perang kecil di atas tempat tidur sambil bercanda.


Hanin yang saat itu melihat keakraban Pras dan Ali pun menjadi terharu dan juga bahagia.


Karena melihat dua orang yang penting dalam hidupnya tertawa bahagia.


Tidak ingin mengganggu keakraban Pras dan Ali. Hanin memilih untuk kembali ke lantai bawah. Ia ingin memberikan waktu kebersamaan untuk Pras dan Ali.


Hari Senin di Kantor


Kinanti pada hari itu datang ke kantor untuk yang terakhir kali nya.


Setelah pulih pasca pendarahan. Baru pada hari itu Kinanti menjejakkan kembali kakinya di kantor.


Ia ingin secara resmi berpamitan kepada beberapa rekan kerjanya yang selama ini telah bersama dengan dirinya selama 3 Tahun terakhir ini.


Secara pribadi, Kinanti juga ingin berpamitan kepada sang bos Prasetya.


Setibanya ia di kantor. ia langsung menemui temen temen kantornya dan mengatakan bahwa ia akan mengundurkan diri pada hari itu.


Sontak saja hal itu membuat beberapa rekan kerjanya kaget. Pasalnya, tidak ada angin tidak ada hujan. Kinanti berhenti berkerja.


Saling berpelukan dan bahkan sampai meniti kan air mata mengiringi acara perpisahan Kinanti dan beberapa temannya yang akrab di kantor.


Saat mereka bertanya-tanya, apa yang membuat Kinanti sampai mengundurkan diri. Kinanti hanya menjawab jika ia ada urusan pribadi yang mengharuskan ia harus mengundurkan diri dari perusahaan yang selama ini telah memberikan ia kesempatan berkarier dengan baik.

__ADS_1


Setelah berpamitan dengan teman teman nya.


Kinanti kemudian berjalan ke arah ruang kerja Prasetya.


Ia juga ingin berpamitan secara langsung pada sang bos. Karena setelah ini ia tidak lagi menjadi kaki tangan seseorang yang sebenarnya diam diam ia kagumi tersebut.


Meskipun ia begitu mengagumi Prasetya, jauh dari lubuk hati yang paling dalam. Kinanti tidak pernah ada niatan untuk merebut Pria yang sudah beristri itu.


Yang Kinan rasakan hanya kagum dan suka. Tanpa ada niat untuk memiliki.


Sejenak, Kinanti berdiri terdiam di pintu masuk ruang kerja Prasetya.


Setelah ia menghela nafas beratnya. Kinanti kemudian mengetuk pintu ruang kerja sang bos.


Setelah dipersilahkan masuk oleh Prasetya dari dalam. Kinan kemudian membuka pintu itu dan berjalan perlahan mendekati meja sang bos.


"Selamat siang Pak Pras." Sapa Kinanti sambil menganggukkan kepalanya.


"Siang Kinan." Jawab Pras dengan suara khasnya.


"Saya datang lagi ke kantor ini untuk secara langsung dan sopan ingin mengundurkan diri dan mengucap salam perpisahan untuk temen-temen saya di sini." Tutur Kinanti dengan sopan pada Prasetya.


"Ia Kinanti, silahkan." Jawab Prasetya.


"Secara pribadi saya juga mengucapkan terimakasih kepada Pak Pras. Karena telah memberikan kesempatan kepada saya untuk belajar dan berkerja dengan baik di perusahaan Bapak yang telah Bapak rintis dari nol. Saya pribadi sangat terkesan dengan perjalanan karier saya di perusahaan ini. Tapi saya tau, karena ada beberapa urusan pribadi yang tidak mungkin membuat saya bertahan di perusahaan ini. Lebih baik memang saya mundur. Semoga perusahaan Bapak bisa semakin maju kedepannya."


"Terimakasih untuk doa dan dedikasi mu untuk perusahaan ini Kinanti. Kontribusi mu sangat banyak untuk perusahaan ini."


Kinanti kemudian menunduk sambil tersenyum getir.


Prasetya kemudian membuka laci di meja kerjanya dan mengambil sesuatu dari sana.


"Ini uang pesangon mu. Aku sudah merincikan nya. Dan aku memberikan lebih. Semoga kamu bisa lebih sukses berkarir di perusahaan lain Kinanti. Oya, hasil dari pertemuan ku dengan kedua orang tua mu mungkin kamu sudah tau. Pasti kedua orang tua mu sudah bercerita juga. Aku ingin, kesepakatan itu bisa kita jalani. Selama kamu mengandung anak itu. Aku akan memberikan mu uang tunjangan dan aku akan kirimkan setiap bulannya ke no rekening mu. Setelah anak itu lahir, aku juga akan memberikan uang nafkah itu untuk dia. Kamu tidak boleh menolak itu. Karena aku dan orang tua mu sudah sepakat. Walau awalnya kamu sendiri dan kedua orang tua mu menolak uang dari ku. Semua itu aku lakukan karena aku bertanggung jawab. Aku tidak mau ada perdebatan di kemudian hari." tutur Prasetya.


"Iya Pak, saya akan terima. Kalau begitu saya pamit Pak." Kinanti kemudian berjalan mendekat lagi ke arah meja Pras dan kemudian ia memberikan tangannya untuk menjabat tangan Pras.


Karena sudah menyodorkan tangannya. Pras akhirnya meraih tangan Kinanti dan menjabat tangan itu.


"Sukses untuk Bapak." ucap Kinanti.

__ADS_1


"Sukses juga untuk mu Kinan." Ucap Pras, yang memang sebelum ada aib di antara mereka berdua terjadi. Pras dan Kinanti memang bekerja dengan sangat profesional.


__ADS_2