Maafkanlah Aku Istriku

Maafkanlah Aku Istriku
Rindu


__ADS_3

Kinan ini adalah pesan terakhir yang aku tulis untukmu. Setelah ini aku tidak akan berkomunikasi lagi denganmu. Aku berharap proses kelahiran anak itu lancar. Aku menyerahkan sepenuhnya tangung jawab anak itu terhadap dirimu dan keluargamu. Aku tidak akan datang di saat kamu melahirkan anak itu. Dan mungkin aku juga tidak kan menjenguknya.


Kita sudahi komunikasi kita. Soal tanggung jawab nafkah. Aku akan tepati janji ku. Mama yang akan mengurusnya. Jadi setelah ini, jangan pernah menghubungi ku lagi atau pun mengirimkan aku pesan apapun.


Kejadian kemarin sudah cukup membuat aku tau siapa kamu juga.


Aku mencintai istri ku dan keluarga ku. Aku tidak ingin kehidupan rumah tangga ku hancur karena kamu.


Jadi aku harap, komunikasi kita cukup sampai di sini. Tolong rawat anak itu dan kau tak perlu ceritakan pada nya jika aku ayahnya.


Aku tidaklah seorang ayah yang baik. Menikahlah dan jadikan suami mu sebagai ayah dari anak itu.


Maafkan aku, jika aku sudah bersikap seperti ini. Sekali lagi, jaga anak itu, besarkan dengan baik dan berikan kasih sayang.


Setelah membaca isi pesan yang Prasetya tulis. Kinanti langsung tetesan air matanya.


Entah kenapa pesan yang di tulis oleh Pras terasa menusuknya. Seperti membunuhnya.


Pria itu memang telah merebut hati Kinanti. Sudah sejak lama ia memang mencintai Pras secara diam diam.


Tapi apakah adil jika sikap yang di tujukan Pras saat ini yang telah memutuskan komunikasi secara sepihak itu adil untuk anak yang ia kandung.


Padahal anak yang ia kandung berhak untuk mengetahui siapa Ayah biologisnya dan dia juga berhak untuk mendapatkan kasih sayang dari ayah biologisnya.


Tetapi setelah apa yang Kinanti dan Prasetya lakukan kemarin. Semua telah merusak hubungan yang sebelumnya sudah terjalin dengan baik.


Adegan kemesraan yang Kinanti dan Pras lakukan telah menghancurkan sebuah hubungan baik yang selama ini sudah berjalan.


Jika Pras sudah memutuskan komunikasi yang terkesan egois. Kinanti pun tidak bisa untuk protes.


Karena dirinya dan Pras tidak punya hubungan.


Kinan hanya pasrah dan mungkin dia harus mencoba untuk mengubur perasaannya terhadap Prasetya.


Inilah ujung dari semua perasaan yang ia rasakan pada Pras. Ia harus menerima kenyataan bahwa ayah biologis anak yang masih ia kandung sudah memutuskan komunikasi. Yang itu artinya, Pras juga sudah tidak peduli dengan anak itu.


Kinanti yang pada saat itu meringkuk tiduran miring di ranjangnya hanya bisa pasrah. Ia hanya bisa menangis nasibnya.

__ADS_1


"Mulai sekarang, kamu hanya anak Mama sayang." bisik Kinanti sambil mengelus elus perutnya yang sudah besar. Yang hanya menunggu menghitung hari untuk melahirkan.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


1 Minggu kemudian


Sudah seminggu lamanya Prasetya berada sendirian di rumah.


Hari-harinya begitu hampa, keceriaan di rumah itu lenyap, kehangatan yang selalu ia rasakan yang diberikan oleh sang istri sudah tidak ia rasakan lagi.


Dan setiap kali Prasetya ingin makan. Bayang bayang sang istri yang selalu melayani dirinya semakin membuat Pras frustasi dan gila.


Sehingga ia tak ada napsu untuk makan di rumahnya sendiri.


Karena biasanya, Pras selalu makan masakan yang di buat Hanin.


Saat Hanin sudah tidak ada di rumah. Yang memasakkan Pras adalah art-nya.


Sepertinya Pras tidak cocok dengan masakan yang di masak oleh art nya.


Seminggu lamanya Pras tidak napsu makan. Wajahnya pun terlihat tirus.


Tidak hanya tidak mengurus diri. Pras juga tidak mengizinkan art-nya untuk membersihkan kamarnya.


Praktis selama seminggu ini. Kamarnya juga tidak di bersihkan.


Sehingga baju-baju kotor bekas pakai Pras menumpuk di kamar mandi.


Alasan Pras tidak izinkan art nya membersihkan kamarnya karena Hanin lah yang selama ini membersihkan kamar mereka.


Karena Hanin selalu bilang jika kamar mereka adalah area pribadi mereka. Yang tidak boleh semua orang bisa masuk. Kecuali Ali anak mereka.


Pras benar benar kacau di tingal oleh Hanin


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Keesokan harinya, setelah Prasetya sudah tidak bisa menahan rasa rindu dan juga sudah merasa sangat kangen dengan anak dan istrinya.

__ADS_1


Sebelum berangkat ke kantor, Pras menyempatkan diri untuk menemui Hanin dan Ali di rumah sang mertua.


Sesampainya di depan gerbang rumah sang mertua. Pras langsung bergegas keluar dari mobil.


Dengan mengenakan sebuah kemeja berwarna putih lengkap dengan dasi yang melilit di lehernya. Prasetya selalu nampak lebih tampan jika mengenakan pakaian kantor.


Pras kemudian langsung menekan tombol bel pintu gerbang.


Ia berharap, Hanin tidak mengusirnya.


Seorang art melapor pada Hanin jika di luar ada seseorang.


Saat Hanin tanya siapa yang datang. Sang art keceplosan menyebut "Pak Prasetya" karena sang art yang sudah lama bekerja di rumah itu tau dan kenal Prasetya adalah suami Hanin.


Begitu mendengar yang datang adalah Prasetya. Ali yang ketika itu duduk di kursi meja makan langsung beranjak dari kursi dan berteriak-teriak.


"Ayah, Ayah, Ayah." sebut Ali yang kemudian langsung berlari menuju gerbang rumah.


"Non maaf non, saya keceplosan menyebutkan nama Pak Prasetya." sesal sang art.


Hanin pun hanya bisa pasrah. Tadinya ia tidak akan mengizinkan Pras masuk untuk menemui Ali. Karena dirinya juga belum siap untuk bertemu dengan suaminya itu.


Tapi karena Ali sudah berlari dulu an ke pintu gerbang untuk melihat ayahnya.


Mau tak mau Hanin menyuruh sang art untuk membuka gerbang pagar rumah.


"Ayah, Ayah, Ayah!" teriak Ali kegirangan begitu ia melihat Pras sudah berdiri di sisi pagar.


"Ali." pangil Pras.


Setelah pintu gerbang di buka. Dan Pras kini telah masuk. Ali langsung meloncat ke arah Pras. Dan Pras langsung menggendong putranya.


"Ali kangen Ayah." rengek Ali yang sudah memeluk leher Pras.


"Ayah juga kangen sama Ali." ucap Pras sambil memeluk putranya yang sudah ada di gendongannya."


"Ayah, Ayah ayo masuk. Ada Bunda di dalam." seru Ali nampak bersemangat.

__ADS_1


"Ayo temuin Bunda." ucap Ali lagi. Sambil masih mengendong Ali. Pras pun akhirnya masuk ke dalam rumah.


__ADS_2