
Hanin yang pada siang itu tengah bersantai di kamarnya. Ia baru sempat untuk memegang ponsel.
Hati Hanin berdebar mana kala ada satu pesan masuk dari sang suami.
Meskipun ia masih marah dengan sang suami. Rasa berdebar tiap kali ia rasakan saat ia mendapati ada pesan dari Prasetya.
Hanin pun lantas membuka pesan dari Prasetya.
Assalamualaikum Hanin, aku hari ini ada meeting ke luar kota. Tidak jauh, hanya ke Bogor. Seusai meeting aku akan pulang. Aku hanya memberitahumu soal itu. Salam sayang dan cinta untuk kamu dan juga Ali. Aku sangat mencintai kalian berdua. Aku kerja dulu ya. Assalamualaikum.
Entah kenapa, setelah membaca isi pesan yang Pras tulis. Ada sebuah perasaan rindu yang bersemayam di hati kecil Hanin.
Sebagai seorang istri. Hanin paham dan tau betul bagaimana kebiasaan Prasetya dari hal kecil sampai hal yang besar.
Hanin jadi berfikir, pasti Prasetya saat ini melakukan suatu hal sendiri.
Sebenarnya, Hanin juga merasa berdosa pada Prasetya. Karena sampai saat ini ia masih menjadi istri Pria yang sudah memberikan ia anak itu.
Tapi kesalahan yang di lakukan Pras terasa masih perih dan sakit di rasa oleh Hanin.
Setelah membaca isi pesan tersebut. Kini, tangan Hanin akhirnya mengetik balasan untuk Prasetya.
Waalikumsalam, Iya Mas, hati hati.
Balas Hanin singkat. Dan, tak perlu menunggu lama. Prasetya mengirim balasan.
Alhamdulillah, kamu sekarang sudah mau balas pesan dari Mas. Mas sudah di Bogor sekarang. Sore nanti Mas akan pulang dan langsung ke rumah Mama. Karena Mama katanya tidak enak badan. Mama sakit.
Di kabari ibu mertua sakit. Hanin jadi penasaran dengan sakitnya sang Mama mertua.
Mama sakit apa Mas.
Balas lagi Hanin. Prasetya pun membalas lagi pesan Hanin. Untuk beberapa saat, mereka saling balas.
Hal seperti itu saja sudah membuat hati Pras hangat dan bahagia.
Semoga ini titik awal untuk kita bisa saling berkomunikasi lagi dengan baik Hanin, pikir Prasetya.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
__ADS_1
Sepulangnya dari Bogor malam itu. Pras langsung melajukan kendaraannya menuju rumah sang Mama. Karena ia ingin menjenguk Mama nya yang tiba-tiba sakit.
Setibanya di halaman rumah mamanya. Secara bersamaan ada sebuah mobil taksi yang kebetulan juga berhenti di sana.
Pras yang pada saat itu baru saja keluar dari mobil. Berdiri memperhatikan siapa itu yang datang ke rumah Mamanya.
Setelah ia melihat siapa yang baru saja keluar dari mobil taksi. Senyum lebar Pras langsung merekah di wajah tampannya.
Karena ternyata yang baru saja keluar dari taksi itu adalah Hanin.
Haningrum yang juga baru keluar dari mobil taksi melayangkan pandangan dengan wajah datar pada sang suami.
Hanin kala itu mengenakan baju muslim yang modis dan di balut dengan hijab yang lebih membuat dirinya terlihat cantik.
Selepas mobil taksi itu pergi. Hanin masih diam berdiri mematung di tempatnya.
Sedangkan Prasetya yang sejak tadi tidak mengalihkan pandangannya pada Hanin. Kemudian melangkahkan kakinya ke arah Hanin.
Hanin saat itu masih memperhatikan langkah sang suami yang memang terlihat sangat gagah dan tampan itu.
"Wah kebetulan sekali kamu juga berada di sini. Berarti kita jodoh. Karena tanpa ada janjian pun kita bisa sama sama berada di sini." ujar Prasetya.
Hanin kemudian langsung bergegas berjalan menuju kedalam rumah. Sedangkan Pras mengekor di belakang Hanin.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
"Loh, kalian ini apa janjian datang ke sini. Kok bisa barengan." ujar Bu Damayanti pada Hanin dan Prasetya yang kala itu menemuinya di kamar.
"Ngak Ma, kami ngak janjian." jawab Hanin yang saat itu sudah duduk di sebuah kursi di kamar Bu Damayanti.
"Kamu tau dari mana Mama ngak enak badan?" tanya Bu Damayanti pada menantu kesayangannya.
"Mas Pras yang kasih tau Hanin. Katanya Mama sakit'."
"Kamu ini apa apaan sih Pras. Mama kan cuma masuk angin. Terimakasih Han, sudah kemari menjenguk Mama. Harusnya tadi kamu ajak Ali. Mama sudah kangen sama dia."
"Iya Ma. Nanti Hanin ajak Ali kemari untuk jenguk Mama. Oya, tadi Hanin bawakan makanan untuk Mama. Mungkin Mama mau makan?"
"Wah terima kasih Han. Tapi mama baru saja tadi makan."
__ADS_1
"Kalau begitu makanannya buat aku saja. Kebetulan aku lapar." seloroh Prasetya.
Hanin kemudian menoleh ke arah Pras dengan pandangan menggerutu. Sedangkan Pras justru tersenyum.
"Kamu serius belum makan?" tanya Bu Damayanti.
"Pras kan baru tiba Ma. Laper."
"Han, nggak apa apa kan. Makanannya buat Pras. Kasian dia." tutur Bu Damayanti.
"Iya Ma, nggak apa apa." jawab Hanin pasrah.
"Makanlah di ruang makan. Kalau kamu belum makan malam. Sekalian saja kamu juga makan Hanin. Suruh Bibik untuk menyiapkan makanan." tutur Bu Damayanti.
Dan akhirnya, Hanin dan Pras berjalan menuju ruang makan bersama.
Hanin kemudian meletakkan makanan yang ia bawa ke atas meja. Lalu, Hanin berjalan ke arah wastafel untuk mencuci tangannya.
Ketika Hanin sedang mencuci tangannya. Prasetya dengan sengaja juga ikutan mencuci tangannya di sana.
Sehingga tangan keduanya bersentuhan, karena berebut air yang mengalir dari kran.
"Mas sengaja ya. Mas kan bisa cuci tangan setelah aku." tuduh Hanin sambil melemparkan tatapan mata tajam ke arah sang suami.
"Memangnya kenapa? Kita kan pasangan halal. Halal bagi ku untuk menyentuh mu Hanin." jawab Pras, yang kemudian sengaja menatap mata Hanin dengan tatapan mata lembut.
Baru saja Hanin ingin menarik tangannya. Pras justru menarik tangan Hanin.
Pras kemudian meremas kedua tangan Hanin dan menyatukan tangannya dengan tangan Hanin.
Dengan berlumuran sabun. Akhirnya kedua tangan pasangan suami-istri itu saling bertautan.
"Izinkan aku mencuci tangan mu dengan benar." sergah Pras.
Lalu Pras pun ******* ***** dan menggosok punggung tangan Hanin dengan lembut.
Karena tangan Hanin di genggam begitu erat oleh Pras. Membuat Hanin kini jadi pasrah saat tangannya di cucikan oleh Prasetya.
Dan saat itu pula, debaran hati keduanya seolah olah bermain kembali.
__ADS_1