Maafkanlah Aku Istriku

Maafkanlah Aku Istriku
Penyesalan terdalam


__ADS_3

Saat mereka sudah kembali saling pandang. Prasetya meneruskan kata-katanya.


"Maafkanlah aku istriku. Sorry, pulanglah, mari kita pulang. Berikan aku kesempatan. Jangan pergi dari ku dan jangan tinggalkan aku, please." ucap Prasetya memelas.


Hanin kemudian melepaskan satu tangan Prasetya yang memegangi dagunya.


Baru saja Hanin ingin beranjak pergi dari sisi Pras. Karena ia telah selesai mengobati luka sang suami. Pras menarik tangan Hanin. Sehingga Hanin terhuyung jatuh dan masuk ke pangkuan Prasetya.


Dan di sana, Pras mengunci pergerakan Hanin dengan kuncian kedua tangannya memeluk tubuh Haningrum.


Pras memeluk dan mengunci tubuh Haning dengan begitu erat. Seolah dia sedang memeluk seseorang yang sudah lama tidak ia jumpai.


Penyesalan memang selalu datang terlambat. Tapi hal itu tidak menyurutkan keinginan Prasetya untuk mendapatkan ampunan dari sang istrinya.


Hanin sendiri air matanya sudah kering untuk menangisi kesalahan suaminya.


Hanin hanya bisa duduk pasrah di pangkuan Prasetya. Karena suaminya itu benar-benar membuat dirinya tidak bisa berkutik.


"Lepaskan aku dari pangkuan mas Pras. Mas katanya ingin bicara denganku. Mari kita bicara baik-baik. Tapi lepaskan dulu pelukan mas Pras." pinta Hanin.


Prasetya kemudian mengudarkan pelukannya. Hanin pun kemudian segera melepaskan diri dari pelukan posesif Prasetya.

__ADS_1


Kini Hanin terduduk di sisi Prasetya sambil membenarkan bathrope yang ia kenakan. Karena tali yang mengikat ke pinggangnya sempat terlepas. Pada saat itu Hanin belum mengenakan apapun selain bathrope yang menjadi penutup tubuhnya.


"Apa yang Mas Prasetya mau dari Hanin?" tanya Hanin kepada sang suami. Ketika mereka kini saling duduk berhadapan.


"Mas mau kamu kembali pulang ke rumah. Mari kita mulai lagi dari awal, maksud Mas. Mas akan menjadi seorang suami yang lebih baik lagi. Kita bangun lagi pernikahan yang sudah Mas hancurkan. Aku nggak sanggup hidup tanpa kamu Haningrum. Sekarang ini saja hidupku sudah kehilangan tujuan dan semangat. Aku seolah-olah kehilangan jati diriku, aku hampa, aku nggak sanggup jauh dari kamu dan buah cinta kita Ali." ucap Pras sambil meneteskan air matanya.


Sepertinya kali ini Pras benar-benar sangat menyesal dengan semua sikap dan kelakuannya. Walau begitu, Hanin tidak ingin terbawa suasana.


"Mas tahu tidak, seseorang kadang mampu memaafkan kesalahan yang pertama. Tapi, seseorang belum tentu bisa memaafkan kesalahan untuk yang kedua kalinya. Apalagi kesalahan yang kedua itu teramat sangat dengan sadar Mas lakukan. Dan Hanin tidak bisa menerima semua kesalahan itu walau Mas bilang Khilaf."


"Mas memang salah Han. Aku sudah seperti tidak punya harga diri menjadi seseorang lelaki. Aku tidak pantas untuk dihargai dan dihormati oleh seorang wanita yang pandai menjaga marwahnya seperti dirimu. Aku memang buruk. Aku hanya ingin bilang sama kamu, maafkan aku." Pras meraih tangan Hanin dan kemudian menggenggamnya dengan kedua tangannya.


"Maafkan aku Hanin." ucap Pras lagi, dengan air mata yang kini sudah membasahi pipinya. Hanin hanya diam saja.


"Tidak Hanin. Tidak, Mas tidak pernah merasa tidak puas dengan mu. Kamu sempurna, kamu luar biasa, kamu tidak memiliki catat sedikitpun di mata Mas. Yang cacat jiwanya itu adalah Mas sendiri. Mas lah yang bermasalah, yang sakit jiwanya karena tidak bisa menahan godaan. Berikan Mas kesempatan sekali lagi untuk membuktikan jika Mas sudah benar-benar berubah Hanin. Setelah ini, jika Mas masih mengulangi kesalahan yang sama. Mas menyerah, mas tidak akan memaksa mu untuk memaafkan aku. Tapi untuk kali ini, Mas berharap ampunan dari Mu Hanin. Aku masih ingin membina rumah tangga dengan mu."


Pras kemudian bersujud dan meletakan kepalanya di pangkuan Hanin.


Hanin yang kedua tangannya kembali di genggam oleh Pras kini ikut terasa basah oleh air mata Prasetya.


Pras sepertinya berada pada titik penyesalan saat ini.

__ADS_1


Hanin pun menjadi bingung. Tapi hatinya untuk terasa berat untuk memaafkan kesalahan Pras.


Hanin masih sakit hati dan merasa di khianati oleh sang suami. Yang selama ini ia begitu hormati dan layani dengan baik.


"Seandainya kita tidak bisa lagi bisa bersatu. Mas bisa menikahi Kinanti. Siapa tahu kita memang tidak berjodoh Mas. Siapa tahu jodoh Mas sesungguhnya adalah Kinanti. Jika memang Mas mau nya seperti itu, tidak apa apa Mas. Aku rela mundur, bukan karena aku mengalah. Tapi karena Mas Pras mungkin lebih mencintai dia."


"Kamu ini bicara apa Hanin. Mana mungkin aku bisa mencintai wanita lain selain diri mu. Saat kamu mengatakan hal itu. Hati ku sakit Hanin. Aku tau aku suami yang sudah jahat sama kamu. Aku mungkin memang sudah tidak pantas di sisi mu. Kamu terlalu suci dan terlalu terhormat. Tapi aku katakan ini Han. Aku tidak akan pernah mau melihat wajahnya lagi. Aku sudah tidak mau berhubungan lagi dengannya. Aku sudah memutuskan komunikasi ku dengannya. Bagaimana kamu bisa menyuruh aku untuk menikahinya. Aku tidak akan pernah melakukan itu. Lebih baik aku mati, jika aku harus menikah lagi."


Prasetya kemudian tiba tiba bangkit. Dan ia langsung berdiri.


"Kamu benar, aku tidak pantas untuk di maafkan." wajah dan expresi Pras tiba-tiba berubah. Dan Sejurus kemudian, Pras nampak terkekeh sendiri.


"Kalau begitu aku pergi. Sekali lagi maafkan aku Haningrum." Pras kemudian perlahan-lahan mundur dan berjalan ke arah pintu.


"Mas."


"Kau benar, aku suami bejat, aku suami yang tak pantas untuk mu. Jika kau mau membuang ku. Dengan begitu kamu akan bisa bahagia. Silahkan lakukan. Mungkin rasanya tidak adil untuk mu. Ketika aku khilaf dan aku memaksa mu untuk tetap bersama ku. Aku memang pantas untuk di tingalkan." Seusia berbicara seperti itu, Pras langsung pergi begitu saja meninggalkan kamar Hanin.


Dari jendela kamarnya. Hanin bisa bisa melihat Pras masuk ke dalam mobilnya dan kemudian ia melesat pergi meninggalkan depan rumah dengan langsung mengedarai mobilnya dengan kecepatan tinggi.


"Mas, jangan siksa diri mu. Jangan seperti itu." desis Hanin yang sebenarnya juga merasa kasian. Dan bisa merasakan. Jika sang suami kali ini benar-benar terlihat menyesal.

__ADS_1


Tapi Hanin bisa apa. Hanin belum bisa memaafkan Pras dan belum bisa menerima kembali pria itu untuk berada di sisinya. Perasaan Hanin saat ini masih gamang.


__ADS_2