
Di tengah perjalanan kala itu. Prasetya yang hendak pergi ke rumah Hanin. Ia menghentikan laju mobilnya persis di sisi jalan raya. Saat itu Pras melihat ada toko bunga di sisi jalan. Kemudian, sebuah ide terlintas di pikiran Pras.
Pras membeli sebuah buket bunga dari toko bunga tersebut.
Ia berniat untuk memberikan bunga itu untuk Hanin. Dan itu akan ia akan lakukan setiap pagi ketika ia akan berangkat ke kantor.
Itu adalah bagian dari rencana Pras untuk bisa meluluhkan hati wanita yang sangat ia cintai. Agar Hanin mengurungkan niatnya untuk bercerai.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Pras kini telah sampai di rumah Hanin. Dengan segera ia langsung keluar dari mobil dan dengan semangat ia ingin segera bertemu dengan sang istri dan juga anaknya Ali.
Sambil memegang sebuah buket bunga yang cantik. Prasetya berjalan dengan langkah penuh percaya diri menuju pintu rumah mertuanya.
Setelah di bukakan pintunya oleh art. Prasetya kemudian langsung masuk dan langsung bergegas berjalan menuju ruang makan.
Begitu tau Ayahnya datang. Ali yang ketika itu duduk di kursi meja makan langsung berinsut dari kursi dan berteriak memanggil Prasetya.
"Ayah!" seru Ali.
Ali pun kemudian langsung menghambur ke arah Pras.
Pras menyambut kedatangan sang anak dengan mendekap tubuh mungil Ali dengan gemas.
"Hai jagoan." sapa Pras pada Ali, kemudian ia langsung meraup Ali ke dalam gendongannya.
Dengan berjalan sambil mengedong Ali di sisi kanan Pras berjalan menuju ruang makan dengan membawa buket bunga di tangan yang lainnya.
Sesampainya Pras di meja makan. Pras mendudukkan Ali kembali di kursi.
"Selamat pagi istriku, aku membawakan bunga yang cantik untukmu." ucap Pras, kemudian ia meletakkan buket bunga yang ia bawa di sisi piring Hanin.
Hanin hanya diam tak menjawab sapaan Pras. Ia hanya melirik sekilas buket bunga yang Pras letakkan di hadapannya.
__ADS_1
"Ali, lanjutkan sarapan mu." perintah Hanin pada putranya.
"Iya Bunda. Ayah.....apa ayah sudah makan?" tanya Ali pada Ayahnya Prasetya.
"Wah, kebetulan Ayah belum sarapan tadi di rumah." Pras kemudian melirik ke arah Hanin.
"Sayang, tadi aku berangkat pagi-pagi dari rumah untuk sengaja mampir ke sini. Jadi, tadi aku belum sempat sarapan tadi. Boleh kan aku menumpang makan di sini." ucap Prasetya pada Hanin.
"Memangnya Bibi di rumah tidak memasak." Tanya Hanin dengan sikap cueknya.
"Sejak kamu meninggalkan rumah. Aku jarang makan di rumah Han. Kau tau kan, aku sudah terbiasa makan masakan kamu. Lihatlah, sekarang aku jadi kurus kering begini. Karena apa, karena aku tidak terurus sama kamu." tutur Prasetya.
"Aku kangen nasi goreng buatan mu Han. Bisa tolong buatkan nasi goreng untuk Mas. Please....." pinta Pras nampak memohon. Karena ada Ali, Hanin harus bisa menjaga sikapnya pada Pras.
Dan akhirnya, mau tak mau Hanin berdiri dari kursinya dan kemudian ia melangkah ke dapur.
Dalam hati, Pras pun sangat senang sekali. Karena Hanin ke dapur pasti untuk membuatkan dirinya nasi goreng.
Hanin kemudian meletakkan sepiring nasi goreng itu tepat di hadapan suaminya itu.
"Terima kasih sayang." ucap Pras, yang kala itu memegang tangan Hanin dan menciumnya dengan lembut.
Hanin hanya bisa pasrah saat tangannya di cium oleh Pras.
"Aku merindukan momen seperti ini. Duduk bertiga menikmati sarapan."
"Kapan kita pulang Bunda? Kenapa kita di sini lama?" tanya Ali pada bundanya.
"Ajak Bunda untuk pulang Al. Ayah sangat kesepian di rumah." Prasetya sengaja memprovokasi sang anak untuk bisa membujuk Hanin pulang ke rumah.
"Iya Bunda, ayo kita pulang. Ali sudah kangen dengan mainan Ali d rumah." Rengek Ali.
"Habis kan makanan mu sayang. Bunda tinggal dulu ya." jawab Hanin, yang justru ia malah menghindar.
__ADS_1
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
"Mas, apa ini bagian dari rencana Mas Pras untuk supaya aku mengurungkan niat untuk membatalkan gugatan cerai ku sama Mas." ucap Hanin, di saat Prasetya kala itu hendak berlalu dari rumah mertuanya untuk ke kantor.
Hanin saat itu menahan langkah Pras ketika mereka berada di teras rumah.
"Jangan sebut kan kata cerai Hanin. Mas tidak suka mendengar itu." ucap Prasetya dengan tegas.
"Aku ingin pisah sama Mas."
"Tapi aku tidak ingin pisah dengan mu."
"Kalau mas tidak ingin pisah dengan ku itu urusan Mas. Tapi aku ingin pisah." jelas Hanin nampak mengotot.
"Sejak kapan kamu jadi keras kepala seperti ini Han. Han, kamu masih sah menjadi istri ku. Kita masih menjadi pasangan suami-istri. Aku tau aku salah. Aku ingin memperbaikinya lagi. Berikan aku kesempatan Hanin. Aku yakin, kamu masih mencintai Mas."
"Maafkan aku, jika aku sudah keras kepala saat ini. Hati ku keras karena aku terlalu kecewa dengan Mas Prasetya. Ini bukan soal cinta. Tapi ni soal luka Mas."
"Aku akan berikan kamu waktu sebanyak mungkin Han. Pikirkan Ali, dia masih butuh kita berdua untuk bisa berada satu atap mendidiknya. Jika kita berpisah. Dia akan bingung. Sekarang saja dia sudah mulai bigung. Kenapa orang tua nya tidak bersama. Bagaimana nanti, jika kita benar-benar berpisah. Aku tidak bisa membayangkannya Hanin. Biasanya Ali sudah terbiasa bercanda dengan ku setiap saat. Saat kita berpisah. Hal itu akan hilang darinya. ini memang salah ku. Maka dari itu, aku ingin memperbaikinya."
"Tidak ada yang menjamin Mas tidak akan melakukan hal serupa." timpal Hanin.
"Kamu bisa membuat sebuah proposal atau perjanjian atau apapun. Jika kamu mau untuk bisa aku tandatangani. Sebagai bentuk perjanjian, jika aku melanggar kamu bisa bebas melakukan apa saja dengan ku. Dan aku akan menurut."
"Sudah lah Mas, sebaiknya Mas mencoba untuk menerima keputusan ku."
"Aku tidak akan menerima keputusan sepihak mu. Aku tidak akan menalak mu Han. Tidak akan pernah." tegas Prasetya sambil menahan emosinya.
Sejenak mereka saling diam, Tidak ada yang bersuara sama sekali.
"Aku berangkat dulu ya. Assalamualaikum." ucap Pras, yang kemudian secara tiba-tiba ia melabuhkan satu kecupan manis ke kening Hanin.
Setelah melabuhkan kecupan ke kening Hanin. Pras langsung bergegas pergi menuju mobilnya.
__ADS_1