
Setelah menyerahkan baju baju kotor itu pada art nya. Hanin kembali ke kamarnya.
Ia kemudian duduk termenung di pinggiran tempat tidurnya. Dalam hati, Hanin beristighfar.
Ia tidak ingin selalu mencurigai suaminya.
Tetapi entah kenapa, setelah ia mendapati ada bau parfum wanita lain di kemeja Prasetya. Pikirannya kini jadi berfikiran negatif terhadap sang suami.
Hanin meyakini ada sesuatu yang terjadi di antara suaminya dan juga Kinanti.
Tidak mungkin bau itu bisa tercium begitu jelas jika baju wanita itu tidak menempel pada baju suaminya.
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
"Han, kamu kenapa? Sejak tadi Mas perhatikan kamu cemberut?" Tanya Pras, ketika mereka kini sudah berada di dalam kamar.
"Ada udang di balik batu Mas." Jawab Hanin asal.
Mendengar jawaban Haningrum yang terdengar aneh membuat Pras berfikir.
"Ada udang di balik batu? Maksudnya apa? Tanya lagi Prasetya merasa bigung.
"Pikir saja sendiri." Jawab Hanin dengan nada ketus, yang kemudian ia berlalu ke kamar mandi.
Karena bingung, Prasetya pun kemudian menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Ia mencoba berfikir untuk mencari tau apa yang membuat Hanin terlihat bad mood. Tapi sepertinya Pras tidak bisa menebaknya.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, Hanin keluar dari kamar mandi dengan balutan badrope.
"Kalau kamu badmood seperti ini pasti kamu sedang marah sama Mas. Apa salah Mas, bilang saja. Jangan diam seperti itu. Mas jadi penasaran kalau kamu hanya diam." Ujar Prasetya merasa penasaran.
"Ada apa lagi yang Mas sembunyikan dari Hanin? Katanya Mas akan selalu jujur sama Hanin. Tapi nyatanya, Mas Pras masih saja merahasiakan sesuatu."
"Apa sih Han? Mas nggak paham Han."
"Masa iya harus Hanin pancing dulu baru Mas mau jujur sama Hanin. Pikir saja sendiri Mas!" Seru Hanin lagi, merasa kesal.
Hanin berlalu dari hadapan Prasetya dan kemudian ia duduk di depan kaca riasnya, untuk mengeringkan rambutnya yang basah.
Prasetya kemudian menyusul berjalan ke arah Hanin.
Lalu ia bersandar pada pinggiran meja rias sambil menghadap ke arah Hanin.
"Karena pikiran Mas Pras terlalu sibuk memikirkan dia kan!" Ucap Hanin menuduh.
"Itu tidak benar Hanin. Coba kasih tahu sama Mas. Apa yang membuatmu seperti ini, sekali ini saja."
Karena merasa jengah dengan ucapan suaminya yang tidak peka. Hanin kemudian berjalan menuju ruang ganti pakaian.
Kemudian ia kembali ke hadapan Prasetya sambil memegang kemeja putih yang Prasetya pakai kemarin.
"Aku harus membuktikan apalagi sama Mas. Supaya Mas Pras tidak lagi berbohong sama Hanin. Selalu Hanin duluan yang mencium kebohongan Mas. Dan Mas selalu tidak jujur. Cari tahu sendiri kenapa aku menjadi bersikap seperti ini Mas. Maafkan aku, mungkin sikap ku yang seperti ini terlihat kekanak-kanakan. Itu karena Mas sendiri yang sudah menghancurkan rasa kepercayaan Hanin sama Mas. Selama ini Hanin sudah sangat percaya sama Mas. Bahkan untuk berpikiran negatif dan berprasangka buruk sama Mas Pras saja dulu Hanin takut Mas. Tapi untuk sekarang ini, entahlah, aku jadi tersiksa dengan pikiran-pikiranku sendiri. Hanin tidak bisa untuk menyembunyikan sesuatu yang Hanin sangat ingin tau dari Mas sekarang ini. Karena Mas sendiri sudah menghancurkan kepercayaan Hanin terhadap Mas. Jika Hanin bersikap curiga sama Mas. Itu karena Mas yang sudah mengubah sikap Hanin. Dan sekarang, apa lagi ini." Ucap Hanin tegas.
Kemudian Hanin menyodorkan baju kemeja yang tadi pagi ia ingin cuci. Tapi Hanin tidak jadi menaruh baju itu ke keranjang pakai kotor.
__ADS_1
Karena Hanin ingin mengkonfirmasi langsung perihal bau parfum lain di kemeja itu pada Prasetya.
Prasetya kemudian meraih kemejanya.
Sampai di situ, barulah Prasetya paham. Jika istrinya saat ini marah karena ada bau parfum wanita yang menempel di kemejanya.
"Astaghfirullahaladzim." Ucap Prasetya beristighfar. Sadar dengan sesuatu yang membuat istrinya curiga. Prasetya kemudian berjalan ke arah Hanin yang pada saat itu duduk di pinggiran tempat tidur.
Prasetya kemudian berlutut di hadapan Hanin yang saat itu tengah duduk di sisi tempat tidur. Sambil menggenggam kedua tangan istrinya dengan erat, Prasetya kemudian menjelaskan.
"Jujur, sebenarnya Mas mau cerita sama kamu semalam. Tapi karena kamu sudah tidur dan pagi nya juga Mas berangkat ke kantor pagi pagi karena ada meeting penting di kantor. Jadi Mas belum sempat cerita sama kamu." Ujar Pras memulai pembahasan.
"Kemarin itu, ada sebuah insiden di kantor. Kinanti mengalami pendarahan, dan pendarahannya cukup serius. Salah satu karyawan memanggil Mas. Karena Kinanti mengeluarkan darah. Lalu Mas dengan sigap langsung menggendong Kinanti untuk segera dilarikan ke rumah sakit terdekat. Dan kamu jangan marah dulu. Mas menggendong dia bukan karena Mas ada sesuatu sama Kinanti. Yang ada di pikiran Mas saat itu hanya memikirkan bayi yang ada di kandungan Kinanti. Jika saat itu Mas tidak bergerak cepat. Pendarahan itu bisa berakibat fatal dan membahayakan nyawa Kinanti sendiri dan juga... dan juga..." Prasetya rasa-rasanya tidak bisa menyebutkan bahwa janin yang di kandung Kinanti dengan menyebutnya anak ku.
Karena itu akan terdengar menyakitkan untuk Hanin.
"Bagaimanapun, Mas tidak setega itu membiarkan Kinanti pendarahan Hanin. Apa lagi, Mas bertanggung jawab untuk keselamatan kandungannya. Jadi, maafkan Mas ya. Aku belum sempat memberitahu ini sama kamu. Dan kamu sudah keburu curiga. Tapi Mas tau rasa curiga mu itu beralasan. Mas sudah memberitahu Mama tentang hal ini. Malam kemarin, Mas juga sudah menelpon Mama dan menceritakan semua kejadiannya. Mama yang mengurusi Kinanti di rumah sakit."
Setelah mendengar penjelasan Prasetya. Hanin hanya terdiam. Ia tidak menyahut ataupun membalas ucapan Prasetya.
"Percayalah sama Mas Haningrum. Mas tidak macam-macam sama Kinanti. Jika ada parfum lain di baju Mas. Itu karena kemarin Mas menggendong Kinanti. Jadi otomatis parfumnya menempel di kemeja Mas Pras."
"Jangan diam saja Han. Maafkan Mas ya, Mas memang salah." Ucap Prasetya nampak memelas.
"Entahlah Mas, Hanin tidak bisa bersikap seperti dulu lagi sama Mas Prasetya. Kepercayaan ku sama Mas sudah berubah. Tidak mudah bagi Hanin untuk menerima semua masalah ini. Tapi Hanin berusaha untuk menerimanya. Tapi, jika Mas masih banyak berhubungan dan berkontak fisik dengan dia setiap saat. Entahlah, Hanin tidak tau bagaimana perasaan Hanin kedepankan. Mas bisa bayangin saja, istri mu di rumah dan kamu di kantor setiap menit dan setiap saat bisa bertemu dengannya dan berinteraksi dengan dia. Apa Mas bisa jamin, kalau Mas akan bisa bersikap profesional. Pasti akan ada pembicaraan tentang anak itu. Dan itu akan menjadi komunikasi yang intim bagi kalian berdua. Yang pastinya akan melibatkan rasa emosional di antara kalian. Dan rasa emosional itu lambat laun akan berkembang Mas. Jika aku bersikap egois sekarang. Itu karena aku tidak ingin, hal hal yang pernah terjadi antara Mas dan Kinanti terulang." Jelas Hanin panjang lebar.
Dan Prasetya paham dengan kekawatiran sang istri.
__ADS_1