Maafkanlah Aku Istriku

Maafkanlah Aku Istriku
Awal pernikahan (Hanin dan Prasetya)


__ADS_3

Seusai makan malam. Pras yang saat itu sedang menikmati kebersamaannya dengan anak istrinya terlihat bahagia berada di ruang tengah.


Pras saat terlihat sedang asik bermain domino bersama Ali putranya.


Keakraban ayah dan anak itu terlihat begitu seru.


Hanin yang membantu art nya membereskan meja makan pun terlihat bahagia melihat kedekatan antara Ali dan Prasetya.


Ali hadir di tengah tengah kehidupan Pras dan Hanin ketika mereka baru lima bulan menjalani kehidupan berumah tangga.


Kabar kehamilan Hanin membuat kedua keluarga Hanin dan Pras bahagia.


Karena kedua keluarga kini telah memiliki garis keturunan dari anak mereka, Pras dan Hanin.


Flashback 4 Tahun Lalu


Sesuai acara pernikahan Pras dan Hanin yang digelar di sebuah gedung pernikahan berakhir.


Pras saat itu sudah berniat untuk langsung membawa Hanin ke rumah barunya yang sudah Ia beli.


Prasetya sudah memiliki sebuah rumah yang ia beli dengan uang tabungannya di sebuah perumahan kecil.


Meskipun Pras hanyalah seorang karyawan biasa yang bekerja di sebuah perusahaan asing. Tapi Pras sudah mampu untuk membeli sebuah hunian.


Soal keuangan, Prasetya memang sangat berhati-hati dalam mengelola keuangan nya.


Rumah yang di beli Pras berlokasi di sebuah perumahan kecil.


Rumah itu sebenarnya terpikir oleh Prasetya untuk ia beli karena pada saat itu Pras tengah menjalani proses ta'aruf dengan Hanin.


Pras sendiri ingin jika ia sudah sah menikah. Ia ingin langsung bisa hidup mandiri bersama sang istri.


Dan, keinginan Pras terwujud.


Seusai acara resepsi pernikahan Pras dan Hanin selesai.

__ADS_1


Pras langsung memboyong Hanin untuk pergi menuju rumah yang baru ia beli belum lama ini.


Bahkan Pras tidak mau untuk di antara oleh keluarga.


Pras benar benar ingin melakukan semuanya sendiri dan mandiri bersama Hanin. Yang pada hari itu baru saja sah menjadi istrinya.


Dengan menggunakan mobil inventaris dari kantor. Pras menyetir mobilnya sendiri dengan sudah mengajak Hanin untuk menuju rumah baru mereka. Hanin masih terlihat sangat malu malu terhadap Prasetya.


Wajar saja jika Hanin masih malu dan belum terbiasa. Karena mereka juga pada saat itu baru satu kali bertemu di acara pernikahan saoudara.


Pertemuan ke dua kali mereka adalah ketika mereka bertemu di restoran untuk membahas pernikahan dan ke-tiga kalinya mereka bertemu di pelaminan dengan sudah berstatus suami istri.


Getaran-getaran memang sudah muncul dari hati Hanin dan Pras. Debaran demi debaran juga memang sudah menyelimuti hati keduanya.


Tapi soal cinta, mereka pada saat itu belum bisa memaknai perasaan tersebut.


Sepanjang perjalanan menuju rumah yang akan mereka tinggali. Haningrum yang duduk di sebelah Pras terdiam seribu bahasa.


Rasa malu dan canggung masih sangat menyelimuti diri Hanin terhadap Prasetya. Meski pada hari itu mereka telah resmi menjadi pasangan suami-istri.


Hal itu wajar lantaran mereka menjalani pernikahan itu dengan cara ta'aruf.


Tidak ingin menjadi korban kebisuan di dalam mobil. Pras kemudian mengajak Hanin berbicara.


"Nanti kamu jangan kaget ya. Saat pertama kali melihat rumah kita." ucap Pras dengan nada sumbang.


Karena biasanya ia menyebut aku dan sekarang apa apa yang Pras punya harus membiasakan diri menyebut nya kita dalam arti milik mereka berdua.


"Mungkin rumah yang aku beli untuk kita tidak sebesar tempat tinggal mu bersama kedua orang tuamu. Tapi tenang saja, rumah itu nyaman kok untuk kita tinggali. Tidak besar memang, tapi semoga membuat kita nyaman dan betah di sana. Dan aku berjanji sama kamu. Jika aku ada rezeki, aku pasti akan memberikan dan membelikan mu rumah yang lebih besar lagi." Tutur Prasetya mencoba untuk memecah keheningan pada saat itu di mobil.


Barulah kemudian Hanin menoleh ke arah pria yang sudah sah menjadi suaminya tersebut.


Begitu Hanin menoleh ke samping, ke arah wajah Prasetya. Yang memang memiliki wajah tampan rupawan tersebut langsung membuat hati Haningrum bergetar dan juga gemetaran.


Pria ini tampan sekali, dan sangat baik akhlaknya, Hanin membatin.

__ADS_1


"Tidak apa-apa Mas. Semua terserah Mas saja. Sebagai istri, aku hanya bisa menurut sama suami." ujar Haningrum.


"Kita kan sekarang sudah menjadi suami istri. Kalau ada apa-apa kamu bilang saja sama aku. Misal kamu ingin sesuatu kamu tinggal bilang sama aku. Intinya apa yang ingin kamu inginkan dan apapun yang ingin kamu katakan bilang saja. Kita mungkin belum terbiasa dengan semua ini. Tapi dengan seiringnya waktu, kita pasti akan terbiasa."


"Iya Mas." jawab Hanin singkat.


Dan, beberapa saat kemudian. Mereka telah sampai di rumah yang sudah Pras ceritakan tadi pada Hanin.


Pras langsung bergegas turun dari mobil dan langsung menurunkan dua buah koper berisikan pakaian serta barang-barang milik Hanin.


Dengan menenteng dua koper milik Hanin. Pras kemudian mengajak Hanin untuk segera masuk ke dalam rumah.


Pras kemudian meletakkan dua koper besar tersebut tepat di depan pintu masuk rumahnya. Lalu ia meraih sebuah kunci rumah dari dalam saku celananya.


"Hanin, sebelum kita masuk kedalam. Kita sama-sama berdoa ya. Semoga selama kita berada di rumah ini. Rumah ini bisa mendatangkan kenyamanan ketentraman dan kebahagiaan untuk kita. Dan syukur-syukur di rumah ini, kata Mama ku. Kita bisa cepat di karuniai seorang anak." Menyebut kata anak, hal itu langsung membuat kedua pipi Hanin merah padam. Tak kuasa menahan rasa malunya, Hanin hanya menunduk sambil menahan senyum.


Setelah sama-sama berdoa dalam hati. Baik Pras dan juga Hanin kemudian langsung melangkahkan kaki mereka untuk pertama kalinya di rumah tersebut. Rumah yang akan menjadi payung untuk mereka berdua.


Prasetya kemudian mengajak Hanin untuk berkeliling ke rumah barunya untuk menunjukkan setiap ruangan yang ada di rumah itu kepada Hanin.


Dan terakhir, Pras kini telah berada di sebuah ruangan yang masih tertutup.


"Hemmm, ....ini kamar kita." Ucap Pras, yang kemudian ia membukakan pintu kamar tidur utama yang ada di rumah itu.


Ruangan itu nampak berbeda dari ruangan yang lain.


Dari tempatnya ia berdiri, Hanin nampak memperhatikan seluruh isi di dalam kamar tidur tersebut.


Hanin bisa melihat semua isi yang ada di dalam kamar tersebut semua di dominasi dengan warna putih.


Sebuah tempat tidur dengan sprei serta bantal yang semua juga berwarna putih. Yang artinya itu melambangkan kesucian.


Dan ruangan itu lah nantinya yang akan menjadi tempat berbagi mereka. Tempat bagi cerita, kisah dan pengalaman yang lain. Dan tentunya akan menjadi tempat paling mendebarkan bagi mereka malam nanti.


Lagi lagi wajah Hanin langsung merah padam jika membayangkan apa yang akan terjadi nanti malam.

__ADS_1


And to be continue 🥰


__ADS_2