
"Pak Prasetya." pangil Kinanti dengan mulut ternganga tak percaya melihat Pria pujaannya berdiri di hadapannya.
Sedangkan Prasetya sendiri yang sudah lama tidak melihat mantan sekretaris itu pun menjadi sedikit kaget dengan perubahan tubuh Kinanti.
Mantan sekretarisnya itu kini perutnya sudah membuncit besar. Dan di dalam perut itu ada benihnya sedang tumbuh.
Untuk sejenak, baik Prasetya dan Kinanti hanya saling membeku.
Keduanya sama-sama merasakan kecanggungan.
"Pak Prasetya. Kenapa ke sini tidak bilang bilang." ucap Kinanti yang merasa tidak siap untuk menerima kedatangan Prasetya yang tiba-tiba.
"Jadwal pertemuan bisnis ke solo di ajukan Minggu ini. Jadi aku kesini sekarang. Nanti malam juga aku harus kembali ke Jakarta. Jadi, aku menyisikan waktu saat ini untuk menemui mu."
"Silahkan masuk Pak!" seru Kinanti, berjalan mendahului Prasetya sambil berjalan menuju ruang tamu.
"Kebetulan bapak dan ibu saya sedang tidak ada di rumah. Mereka sedang menghadiri acara pernikahan keluarga di desa sebelah." jelas Kinan.
"Jadi kamu sendirian?"
"Iya Pak, silahkan duduk. Saya buatkan minuman dulu." ucap Kinanti yang setengah gugup karena kedatangan Prasetya yang sama sekali tidak ia duga.
"Tidak usah repot-repot Kinanti. Aku tidak lama lama di sini."
"Tidak apa apa Pak, saya hanya buatkan kopi." Kinanti langsung menuju dapur dan membuatkan kopi untuk Prasetya.
"Di minum Pak. Sudah lama saya tidak buatkan bapak minuman. Dulu waktu masih di kantor saya sering buatkan bapak minuman." ujar Kinanti bernostalgia.
"Terimakasih." karena ingin menghargai kopi yang sudah di buat oleh Kinanti. Prasetya kemudian meraih cangkir kopi tersebut dan menyeruputnya.
"Kapan kata dokter lahirnya?" tanya Prasetya, menanyakan tentang kapan Kinanti akan melahirkan.
"Masih sekitar satu Mingguan lagi Pak."
"Oh," ucay Prasetya nampak menganggukkan kepalanya.
Kala itu mereka duduk di kursi yang bersebrangan.
"Bapak sudah makan siang?"
"Aku belum sempat makan siang. Tapi aku tidak lapar."
"Di rumah juga tidak ada makan. Hanya ada makanan tadi pagi. Jika Pak Prasetya lapar, saya bisa belikan bapak sesuatu di warung."
"Tidak usah Kinan. Tidak usah repot-repot. Kalau kamu lapar, kamu saja makan."
__ADS_1
"Tapi sayangnya di rumah tidak ada makanan. Biasa kalau tidak masak, ibu selalu beli masakan jadi di warung. Bapak tunggu dulu di sini ya. Saya akan keluar sebentar untuk beli makanan." ujar Kinanti, kemudian ia langsung berdiri sambil memegangi perutnya yang besar.
Melihat Kinanti yang terlihat sudah kepayahan membawa perutnya. Prasetya nampak kawatir.
"Kinanti, tidak usah repot-repot. Aku tidak lapar." terang Prasetya lagi.
"Tapi saya lapar Pak." tutur Kinanti.
"Kamu jalan kaki ke warungnya?" tanya Prasetya.
"Ia, tidak apa apa. Warungnya tidak jauh ko. Bapak tunggu saja di sini. Saya sekalian belikan bapak makan siang."
Karena Kinanti bersikeras. Prasetya jadi tidak tega membiarkan Kinanti berjalan kaki ke warung membeli makanan.
"Aku antar." sahut Prasetya.
"Tidak usah Pak, tidak apa apa. Saya bisa sendiri."
"Atau, biar saya saja yang beli. Kamu tunggu di sini." tawar Prasetya.
"Bapak tidak tau tempatnya. Nanti malah bapak kesasar. Apa Pak Prasetya bisa naik motor?" tanya Khianati.
"Bisa."
"Kalau begitu, kita naik motor saja. Biar cepat, saya ada motor"
Jika ditanya apa yang sedang Kinanti rasakan saat ini.
Yang Kinanti rasakan saat ini adalah. Merasa bahagia karena Pria yang ia kagumi sekarang ada bersamanya.
Ia ada begitu dekat dengan dirinya.
Jarak mereka hanya terhalang kain baju yang melekat diri mereka.
Dengan mengedarai sepeda motor nya dengan kecepatan sedang. Prasetya mencoba untuk tidak menabrak sesuatu yang akan mengakibatkan kandungan Kinanti terguncang.
Tak lama kemudian, mereka pun sampai di sebuah warung yang Kinanti maksudkan.
Kinanti kemudian langsung bergegas untuk membeli beberapa macam jenis masakan jadi di warung tersebut.
Setelah mendapatkan semua yang di inginkan. Kinanti kemudian melanjutkan perjalanan menuju pulang ke rumah.
"Pak, ada asinan si sana. Boleh berhenti sebentar. Saya ingin beli." ucap Kinanti. Prasetya pun menurut.
Ia kemudian menepikan motornya dan menunggui Kinanti yang sedang membeli asinan.
__ADS_1
Selesai membeli asinan. Mereka pun melanjutkan kembali perjalanan menuju arah pulang.
Tapi, di tengah tengah perjalanan. Tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Sehingga membuat baju mereka kini menjadi basah.
Tidak ingin lebih basah kuyup. Kinanti menyuruh Prasetya untuk menepi kan motor nya di tepi jalan.
Entah ada dorongan apa. Kinanti tiba tiba saja dengan spontan meraih tangan Prasetya dan mengajak Prasetya berteduh.
Di sebuah kedai kosong, akhirnya menjadi tempat mereka berteduh kala itu.
Hujan bukannya mereda. Tapi sepertinya makin turun dengan derasnya.
Ketika itu, baik Prasetya dan Kinanti berdiri agak berjauhan.
Melihat Kinanti yang nampak kedinginan. Prasetya kemudian melepaskan jas nya dan memberikan jas itu pada Kinanti.
"Pakailah ini, agar tubuh mu hangat." Kinanti kemudian meraih jas yang di ulurkan Prasetya, lalu memakainya.
"Terimakasih Pak."
Baik Pras dan Kinanti kini saling diam tak berucap sepatah kata pun.
Mereka nampak sibuk dengan pemikiran mereka masing-masing.
Setelah hujannya reda. Mereka kembali melanjutkan perjalanan pulang.
Sesampainya di rumah, Kinanti langsung pergi ke kamarnya untuk berganti pakaian.
Setelah ia berganti pakaian. Kinanti kembali menemui Prasetya.
"Pak, baju Pak Pras basah kuyup. Izinkan saya mengeringkan baju kemeja Bapak. Agar bapak tidak kedinginan." tutur Kinanti memberikan saran.
"Tidak usah Kinan. Tidak apa apa." tolak Prasetya.
"Saya akan menyetrika baju Bapak. Jadi Bapak bisa langsung mengenakannya kembali."
Setelah menimbang nimbang saran Kinanti. Pras akhirnya menurut.
Pras pun kini melepas satu persatu kancing kemejanya.
Setelah semua kancing bajunya terlepas. Prasetya pun menanggalkan kemejanya.
Sehingga kini bentuk tubuhnya terekspos jelas di hadapan Kinanti.
Dan Kinanti bisa melihat begitu jelas perut kotak kotak Prasetya.
__ADS_1
Tubuh yang atletis dan begitu kokoh.