
Setelah acara makan malam romantis yang di rencanakan Prasetya berjalan sukses.
Hanin dan juga Prasetya kini telah kembali berada di rumah.
Sebelum mereka masuk ke kamar mereka. Pras dan Hanin menyempatkan diri untuk menengok putra mereka di kamarnya.
Saat Pras dan Hanin masuk ke kamar Ali. Bocah 3.5 tahun itu tengah tertidur pulas.
Hanin dan Pras secara bergantian memberikan kecupan ke kepala buah cinta mereka.
Setelah selesai menengok putranya. Hanin dan pas kemudian bersama-sama bergegas pergi ke kamar mereka.
Seperti biasa, Pras dan juga Hanin melakukan ritual mereka sebelum tidur. Seperti menggosok gigi, mencuci muka dan berganti pakaian tidur.
Kini, mereka pun telah siap untuk beristirahat.
Baru beberapa menit Pras dan Hanin saling berpelukan berada di atas tempat tidur untuk beristirahat.
Ponsel milik Hanin berdering.
Hanin kemudian bangkit dari rebahannya dari dada sang suami. Dan berinsut kearah nakas untuk meraih ponselnya.
Saat Hanin mengecek pangilan itu dari nomor yang tidak ia kenal. Kemudian Hanin memberikan ponselnya pada Prasetya.
Prasetya kemudian meraih ponsel Hanin mengecek pangilan telepon tersebut. Lalu Prasetya mengangkatnya.
"Halo." Sapa Pras.
Tapi tidak ada suara yang menyahut dari sebrang telepon di sana.
"Halo!" seru Pras lagi. Dan panggilan telepon itu justru terputus.
"Siapa sih malam malam begini iseng." guman Prasetya.
__ADS_1
"Siapa Mas? tanya Hanin.
"Entahlah, tidak ada suara. Mungkin orang iseng." Ucap Pras.
Kemudian ia memberikan kembali ponsel milik Hanin.
Saat Hanin baru saja meletakkan ponselnya di atas nakas dan ia kembali merebahkan dirinya di sisi Pras. Suara bunyi pesan masuk kembali terdengar di ponselnya.
Hanin kemudian bangkit lagi dari rebahannya dan mengambil ponselnya.
Ia kemudian memeriksa isi pesan masuk tersebut.
Begitu Hanin membuka isi pesan itu. Hanin nampak kaget dan beristighfar.
"Astagfirullah." Mendengar ada yang tidak beres. Prasetya langsung ikut bangkit dari tidurnya dan kemudian ia memeriksa ponsel sang istri.
Ternyata nomor misterius tadi mengirimkan foto mesra Pras dan Kinanti saat mereka tengah tidur bersama di kamar hotel.
"Teror yang sudah basi." gerutu Prasetya. Kemudian ia langsung menghapus foto tersebut.
"Han ini adalah bagian dari misi dan pekerjaan mereka. Aku yakin di balik semua setingan itu, ada seseorang yang ingin hubungan kita hancur. Ini masih perbuatan mereka. Kamu tahu kan, kita telah mencurigai seseorang. Dia tidak puas dan kecewa karena tidak melihat kita hancur. Dia semakin melihat kita masih tetap bersama. Sudah semakin terlihat jelas apa motifnya orang itu."
"Iya Mas aku tau." ucap Hanin datar.
"Aku harap kamu tidak terpengaruh dengan apa yang barusan kamu lihat. Ini adalah bagian skenarionya." jelas Prasetya pada Hanin, yang tidak ingin sang istri salah paham.
Meskipun Hanin sudah paham. Tetap saja hal itu membuat hati Hanin kesal. Saat melihat suaminya tidur dengan wanita lain dengan begitu mesranya.
"Besok Mas akan urus semuanya. Mas sudah siapkan semua barang-barang bukti untuk bisa menyeret dia keranah hukum."
"Iya Mas, hati hati berhadapan dengan sepupu mu itu. Aku takut di balik semua jebakannya itu. Dia juga berniat melukai Mas Pras."
"Kamu tenang saja, Mas akan hati hati. Ya sudah, kita kembali tidur ya. Terimakasih untuk pengertian dan perhatian mu Han." ucap Pras, yang kemudian mencium kening Hanin.
__ADS_1
"Sama sama Mas." Kemudian Hanin dan Prasetya kembali merebahkan diri mereka ke tempat tidur. Dengan memeluk tubuh Hanin dari belakang, Pras mencoba untuk mengistirahatkan tubuhnya sambil memberikan ketenangan pada sang istri.
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
"Kurang ajar kamu Murad!" Satu pukulan langsung dihantamkan Prasetya ke wajah Murad.
Begitu Murad membukakan pintu ruang kerjanya untuk Pras yang pada saat itu baru saja mau masuk.
Pukulan keras yang di layangkan Prasetya tepat ke wajah Murad, langsung membuat hidung Murad berdarah.
"Apa-apaan kamu ini Prasetya!" Seru Murad yang terhuyung kebelakang sambil memegangi hidungnya yang berdarah.
"Jangan banyak basa-basi. Aku tahu kebusukan mu. Aku tahu apa yang ingin kamu lakukan terhadap diriku. Dan aku tidak akan membiarkan kamu lolos. Aku akan menyeret mu ke penjara atas semua kelakuan mu yang telah merugikan aku." Ucap Prasetya dengan wajah penuh dengan amarah.
"Kamu ini apa-apaan Prasetya. Kamu ini bicara apa." tutur Murad dengan masih memegangi wajahnya.
"Jangan pura-pura bodoh dan tidak mau mengakui apa yang telah kamu rencanakan. Aku sudah tahu kebusukan mu. Aku sudah tahu semua rencana mu. Kamu ingin menghancurkan rumah tangga ku kan. Kamu mau memisahkan aku dan Hanin kan. Kenapa! kamu iri dengan ku. Karena aku menikahi seorang wanita cantik dan sempurna seperti Haningrum. Kenapa kamu iri!" Tutur Prasetya sedikit memprovokasi Murad.
Murad yang merasa tersindir akhirnya melayangkan pukulan terhadap Prasetya. Dan pukulan itu tepat mengenai pelipis Pras.
"Brengsek kamu Pras. Aku lah yang seharusnya menikahinya Haningrum. Aku sudah lama mengincar nya dan sudah lama ingin melamarnya. Tapi malah kamu malah mendahului ku. Padahal aku selama ini telah mencoba untuk memantaskan diri ku untuk Hanin dari segi materi dan kesiapan ku. Tapi kau datang dan merusak semua rencana ku." teriak Murad.
"Oh, ternyata benar. Jadi kamu memang dalang di balik semua kekacauan hidup ku. Kenapa kamu setega itu Murad. Gara-gara kamu aku menghamili seorang wanita yang tidak tau apa apa. Gara-gara kamu aku tidur dengan sekertaris ku sendiri. Gara-gara kamu Hanin ku tersakiti hati dan batin nya. Gara-gara kamu aku harus menanggung banyak dosa."
"Itu semua kamu lakukan karena kamu bodoh Prasetya. Kecintaan mu terhadap Hanin membutakan mata mu. Dan melihat seolah wanita di hadapan mu Hanin. Kamu tidak pantas hidup bahagia dengan wanita yang aku masih cintai sampai detik ini." tutur Murad.
Menderita istrinya di incar oleh seseorang yang kini telah ia benci. Semakin membuat Prasetya naik pitam.
Prasetya kemudian langsung bergerak ke arah Murad. Dengan sudah di kuasai oleh amarah.
Pras langsung menghabisi Murad dengan memberikan sepupunya itu pukulan keras ke arah wajah dan perutnya.
Murad benar benar terkapar tidak berdaya mendapat pukulan demi pukulan yang di layangkan Pras.
__ADS_1
Tapi, di balik semua rasa babak belur tersebut. Dalam hati, Murad sudah punya rencana untuk membuat Pras kembali mendapat masalah.
Kamu memang bodoh Prasetya, ucap Murad dalam hati.