Maafkanlah Aku Istriku

Maafkanlah Aku Istriku
Mencoba berdamai


__ADS_3

Setelah beberapa saat menunggu kedatangan bus. Akhirnya bus yang di tunggu oleh Kinanti datang.


Sambil mendekap erat tas kerjanya. Kinanti berdesak desakan dengan beberapa orang yang juga ingin segera masuk kedalam bus.


Karena cuaca pada sore hari kala itu sedang tidak bersahabat. Dan membuat semua orang yang baru saja pulang bekerja ingin segera sampai di rumah.


Begitu pula dengan Kinanti. Ia pun juga ingin segera sampai di tempat kostnya.


Setelah sekitar 45 menit berada di dalam bus. Akhirnya Kinanti Sampai juga di halte tujuannya.


Dari tempat pemberhentian bus, Kinanti hanya perlu berjalan beberapa meter untuk sampai di tempat kostnya.


Saat ia sedang berjalan menuju tempat kostnya. Kinanti baru teringat bahwa ia tidak punya persediaan makanan di lemari pendingin yang ada di kamar kostnya.


Sejak ia hamil. Kinan suka tiba tiba merasa lapar di tengah malam.


Sehingga membuat dia harus banyak menyentok makanan di kamar kostnya.


Dan akhirat, sebelum pulang, Kinan mampir ke sebuah minimarket untuk membeli beberapa camilan dan keperluannya.


"Kinanti?" Seru seseorang memanggil nama Kinanti.


Kinanti yang merasa di pangil pun kemudian berbalik kebelakang. Menoleh ke arah sumber suara.


"Bagas." Sapa balik Kinanti. Pada seorang pria yang berpakaian baju dinas polisi.


Dan ternyata, yang menyapa Kinanti adalah Bagas Pramudya.


Bagas adalah teman masa kecil Kinanti. Kinanti juga sudah tau bahwa Bagas memang bertugas di ibu kota. Hal itu Kinanti tau dari cerita sang ibu.


Dua sahabat yang sudah lama tidak bertemu itu kemudian saling peluk.


"Kamu kok bisa ada di sini?" Tanya Kinanti penuh dengan rasa penasaran.


"Tempat dinas ku kebetulan berada di wilayah sini Kin. Kamu sendiri tingal di daerah mana?" Tanya balik Bagas.

__ADS_1


"Aku juga tingal di daerah sini."


"Wah, kalau begitu kita satu wilayah. Boleh minta nomor ponsel mu Kin." Tanya Bagas ragu ragu.


"Kenapa tidak Bagas."


Mereka pun kemudian bertukar nomor ponsel.


"Senang bisa melihat mu Kin. Aku sering pulang ke Solo jika ada waktu libur. Dan aku sering mampir ke rumah mu. Bertemu dengan Bapak dan Ibu mu. Sayangnya, setiap aku mampir, kamu selalu tidak ada." Jelas Bagas.


"Aku kan merantau ke Jakarta Gas."


Dua sabahat lama itu pun melanjutkan percakapan mereka sambil menikmati makan malam di sebuah warung tenda di pinggir jalan seusia mereka berbelanja.


Kinanti dan Bagas bercerita hal hal yang ringan tentang berbagai kenangan saat mereka dulu masih kecil.


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


Sesampainya Hanin dan Prasetya di rumah. Mereka langsung memangil putranya untuk makan malam.


Baik Hanin dan Prasetya terlihat bersikap berbeda. Namun mereka berusaha untuk menunjukan sikap biasa di depan anak mereka Ali.


Sambil bersantap makan malam, Prasetya mengajak sang putra mengobrol. Keceriaan di meja makan malam itu benar-benar terasa berubah.


Haningrum yang biasanya selalu antusias. Kini lebih banyak diam dan hanya menimpali satu dua kata perkataan Pras dan sang putra saat dia di ajak bicara.


Setelah makan malam selesai. Pras menemani Ali ke kamarnya.


Sedangkan Hanin langsung naik ke lantai dua ke kamarnya.


Sesampainya di kamar. Hanin langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Sekitar pukul sembilan malam. Prasetya baru kembali ke kamar.


Saat Pras masuk kamar. Hanin saat itu sedang memakaikan lotion ke seluruh kaki dan tangannya.

__ADS_1


Pras pun tersenyum ketika melihat kaki jenjang Hanin yang terekspos bebas.


Menyadari dirinya sedang di perhatikan suaminya. Hanin kemudian cepat cepat menutupi kakinya dengan gaun malamnya.


"Kenapa di tutupi." Ucap Pras, sambil ia melepaskan satu persatu kancing kemejanya.


"Tidak apa apa Mas." Jawab Hanin, kemudian ia berlalu dan pergi menuju lemari pakaian.


"Ini baju ganti untuk Mas." Hanin kemudian menyodorkan satu setel baju tidur untuk suaminya.


Hanin memang sudah terbiasa melayani suaminya. Hal hal sepele pun Hanin selalu melayani dan begitu perhatian terhadap Prasetya.


Prasetya yang saat ini sudah bertelanjang dada itu kemudian meraih baju yang sudah Hanin sodorkan.


Prasetya kemudian menaruh baju itu ke tempat tidur.


Saat Hanin hendak berlalu, Pras meraih tangan Hanin dan kemudian ia menarik tubuh Hanin untuk masuk kedalam pelukannya.


Setelah Hanin sudah berada dalam dekapannya. Prasetya kemudian memandang lekat wajah Hanin yang kini berada begitu dekat dengan wajahnya.


"Kau cantik sekali Han. Maafkan aku. Aku ingin hubungan kita tidak berubah setelah adanya masalah ini." ucap Pras, yang kini seolah olah selalu di hantui rasa bersalah pada istrinya.


"Mas mandi dulu. Sudah malam." Tutur Hanin beralasan.


"Han, izinkan Mas menghapus rasa bersalah Mas." Ucap Pras yang tidak melepaskan Hanin dari dekapannya.


"Aku tidak tau bagaimana caranya Mas bisa menghapus semua kesalahan itu." Jawab Hanin, yang kini melegoskan wajahnya ke samping. Ia sengaja menghindari tatapan tajam mata Prasetya.


"Sebelum aku beritahu caraku menghapuskan rasa bersalah ku. Aku ingin kita melakukan sesuatu. Sesuatu yang selama ini selalu menjadi kegiatan yang membuat kita bahagia satu sama lain." Ucap Pras.


Dan sepertinya Hanin tau, kegiatan apa yang harus mereka lakukan bersama saat ini.


Apalagi kalau bukan kegiatan suami istri.


Lantas, apakah Hanin akan menurut?

__ADS_1


Bukankah seorang istri tidak boleh menolak ajakan suami?


__ADS_2