
"Hemmm, ....ini kamar kita." Ucap Pras, yang kemudian ia membukakan pintu kamar tidur utama yang ada di rumah itu.
Ruangan itu nampak berbeda dari ruangan yang lain.
Dari tempatnya ia berdiri, Hanin nampak memperhatikan seluruh isi di dalam kamar tidur tersebut.
Hanin bisa melihat semua isi yang ada di dalam kamar tersebut semua di dominasi dengan warna putih.
Sebuah tempat tidur dengan sprei serta bantal yang semua juga berwarna putih. Yang artinya itu melambangkan kesucian.
Dan ruangan itu lah nantinya yang akan menjadi tempat berbagi mereka. Tempat bagi cerita, kisah dan pengalaman yang lain.
Dan tentunya akan menjadi tempat paling mendebarkan bagi mereka malam nanti.
Lagi lagi wajah Hanin langsung merah padam jika membayangkan hal itu.
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
Di temani sebuah lampu yang temaram. Hanin yang sudah berada di bawah kungkungan Prasetya hanya bisa pasrah saat Prasetya langsung memintanya untuk menunaikan kewajibannya sebagai seorang istri.
Seusai mereka melakukan sholat dan juga berdoa untuk bersenggama. Prasetya langsung membawa Hanin ketempat tidur.
Prasetya yang masih perjaka nampak sudah sangat penasaran dan tidak sabar dengan bagaimana rasanya hubungan badan.
Pasalnya saat itu hasrat nya sudah timbul dan tidak bisa ia tahan.
Karena sudah memiliki istri dan pasangan yang sah. Membuat Pras begitu terpacu mengikuti libido nya.
Sedangkan Hanin sendiri hanya bisa pasrah. Karena cepat atau lambat semua itu pasti akan terjadi.
Dan moment ini akan menjadi pengalaman untuk yang pertama kali nya dalam hidup Hanin.
Hanin sendiri merasa bangga dengan dirinya. Karena ia mampu menjaga kehormatannya.
Dan pada malam ini, ia akan memberikan kehormatannya pada suaminya. Yang memang pantas untuk dia hadiahi kesuciannya setelah mereka sah menjadi suami istri.
Awal awal, Hanin dan Prasetya melakukan pemanasan dengan berciuman seperti biasa. Dari pemanasan itu. Rasa emosional perasaan mereka makin timbul dan mereka bisa saling menyelami kedalam perasaan mereka.
__ADS_1
Sehingga perasaan suka, menyukai dan memuja seiring waktu timbul dan tumbuh bersamaan dengan keintiman yang mereka lakukan.
Dan semakin malam, mereka semakin meleburkan diri dalam indahnya percintaan bersenggama yang mereka lakukan di atas peraduan mereka.
hingga pada satu titik, saat Prasetya hendak melakukan menyatunya. Prasetya begitu kesulitan dan membuat wajah Hanin menahan rasa sakit.
Karena malam itu harus terjadi yang namanya malam pertama. Prasetya tetap ingin melakukan pada Hanin dengan cara yang lembut.
"Maafkan aku Hanin, mungkin ini sakit untuk mu untuk yang pertama kali. Tapi percayalah, katanya hal itu tidak akan sakit lagi jika kita sudah biasa melakukannya." tutur Prasetya pada Hanin, berupaya menentramkan istrinya.
Hanin tidak menjawab, ia hanya tersenyum tipis sambil menyembunyikan wajahnya yang menahan sakit itu di balik belitan tangan nya yang membelit leher sang suami.
🌸🌸🌸🌸🌸🌸
Dan, ke esok akan hari nya. Hanin pagi pagi sekali sudah mandi dan sudah wangi khas bau sabun.
Mendapati Prasetya yang masih tidur, Hanin kemudian membangun Prasetya untuk menunaikan ibadah sholat subuh.
Prasetya pun langsung bangun meskipun mata nya masih sesekali terpejam.
Setelah mandi, Prasetya langsung buru-buru sholat subuh. Karena waktu telah menunjukkan pukul 5.30 pagi.
"Hanin, kamu ngapain?" Tanya Prasetya yang sudah berada di belakang Hanin dengan masih mengenakan baju kokonya.
"Masak Mas, untuk sarapan kita." Jawab Hanin polos.
"Tidak usah masak, kita bisa beli untuk sarapan. Di kompleks sini banyak yang jual makanan."
"Tanggung Mas, ini juga sudah mau matang ko. Cuma masak nasi dan telor ceplok saja. Di kulkas hanya ada itu." papar Hanin lagi dengan polosnya.
Entah kenapa, apa yang di lakukan Hanin pagi itu membuat Prasetya bangga dan bahagia.
"Nanti kita pergi ke supermarket untuk belanja ya. Kita isi kulkas dengan banyak makanan kesukaan kita." papar Prasetya.
"Terimakasih Hanin, Istri ku. Untuk malam tadi dan untuk usaha mu membuat kan sarapan pagi yang pertama kali untuk Mas. Aku tunggu di sarapannya." Prasetya kemudian membiarkan Hanin melajukan aktifitasnya.
🌸🌸🌸🌸🌸🌸
__ADS_1
Seperti itulah awal awal kehidupan Pras dan Hanin dalam membina rumah tangga mereka.
Jika saat ini Pras bisa membangun perusahaan sendiri. Itu semua di lalui dari bawah.
Dan selama empat tahun ini. Pras benar benar sukses dalam karirnya.
Flashback off
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
"Maaf Bu Hanin, di luar ada polisi Bu. Katanya mencari Pak Pras." lapor salah satu art pada Hanin.
Mendapati laporan ada polisi yang sedang mencari suaminya. Haningrum sudah bisa menebak. Jika pasti itu ulah Murad.
Hanin kemudian berjalan ke arah Prasetya dan berbisik pada suaminya. Hanin memberi tau jika di luar ada polisi yang sedang mencari dirinya.
Paham dengan apa yang di maksud Hanin. Pras kemudian bicara pada Ali.
"Ali, kamu naik dulu ke kamar ya sayang. Ada sesuatu yang ingin Ayah bicarakan sama bunda." Tutur Pras pada anaknya.
"Iya Ayah." Jawab Ali menutut. Hanin kemudian menyuruh art nya untuk membawa Ali ke kamarnya.
Hanin dan Pras dengan bergandengan tangan kemudian berjalan ke arah ruang tamu untuk menemui polisi.
"Selamat malam Ibu, Bapak, maaf mengganggu waktu istirahat anda. Kami dari kepolisian bermaksud untuk penangkap saudara Prasetya Wijaya atas laporan tindakan penganiayaan terhadap saoudara Murad. Ini surat penangkapan Bapak." polisi itu kemudian memberikan surat penangkapan itu pada Prasetya.
Hanin dan Prasetya bersamaan sama membaca isi surat tersebut.
Tanpa ingin banyak membantah dan menyangkal. Prasetya pasrah saja untuk di bawa ke kantor polisi.
"Hanin, jangan kawatir, jangan takut, Murad tidak akan bisa menjebloskan aku ke penjara. Karena aku yang akan lebih dulu menjebloskan dia ke penjara. Tolong carikan aku pengacara. Jaga Ali, jangan sampai dia dengar jika aku ditahan polisi. Beri dia alasan apapun. Ingat Haningrum, jangan kawatir, tidak akan terjadi apa apa dengan ku." ucap Prasetya sebelum ia di borgol dan di bawa oleh polisi.
"Iya Mas, Hanin akan carikan pengacara untuk Mas." tutur Hanin dengan suara bergetar, karena ia menangis.
Akhirnya pada malam hari itu, Prasetya harus ikut bersama dengan polisi untuk dimintai keterangan ke kantor polisi. Dengan tuduhan penganiayaan.
Setelah sang suami di bawa ke kantor polisi untuk di tahan. Sebagai seorang istri. Hanin pun merasa sangat kawatir.
__ADS_1
Hanin kemudian langsung naik ke kamar Ali. Ia harus memberikan Ali sebuah alasan agar ia tidak menanyakan Ayahnya besok pagi.
Mau tak mau, Hanin harus berbohong demi untuk tidak membiarkan Ali tau tentang apa yang sedang menimpa Ayahnya.