Maafkanlah Aku Istriku

Maafkanlah Aku Istriku
Setelah satu, dua ujian terlewati


__ADS_3

Dengan perasaan hati yang penuh kelegaan. Prasetya malam itu akhirnya bisa bebas dan kini sedang dalam perjalanan kembali ke rumah.


Pras dan Hanin saat itu duduk di bangku penumpang bagian belakang. Sedangkan mobil di kendalikan oleh sopir.


Tidak membiarkan Hanin duduk berjauhan. Prasetya terus merangkul bahu Hanin.


"Harusnya kau menjadi seorang pengacara Han. Kau hebat sekali. Lalu apa gunanya Antony." sindir Prasetya pada pengacara yang di pilih Hanin untuk menangani kasusnya.


"Ya kan Hanin tidak menyangka jika Murad secepat itu menarik laporannya Mas."


"Memangnya apa yang kamu katakan pada Murad. Sampe dia tunduk sama kamu."


"Ada deh, aku tidak akan cerita sama Mas. Yang perlu Mas tau hanyalah. Seorang istri yang sudah percaya dengan suaminya jika. Jika suaminya berbuat salah dan kesalahan itu bukanlah seratusan persen karena di sengaja. Seorang istri masih bisa memberikan toleransi. Seperti sikap Hanin sama Mas Pras. Tapi jika Mas dengan sadar dan sengaja membuat sebuah kesalahan yang menjatuhkan harga diri sebagai seorang istri. Mungkin Hanin tidak akan bertahan di sisi Mas. Karena kesalahan yang pernah Mas lakukan itu sangat sensitif bagi kami para wanita. Dan satu lagi Mas. Jika seorang istri sudah percaya dengan suaminya. Dia akan memperjuangkan keutuhan rumah tangga nya dan akan membela suaminya sampe titik akhir. Itulah yang Hanin lakukan untuk Mas." Mendengar semua penuturan yang Hanin sampaikan langsung membuat hati Prasetya tersentuh.


"Bagaimana kamu bisa seluar biasa ini Haningrum." puji Pras sambil memegang dagu sang istri.


"Mas, jangan seperti ini. Ada orang lain di mobil." Hanin kemudian menurun tangan Prasetya yang tadi memegang dagunya. Hanin tidak nyaman jika bermesraan di tempat di mana di sana masih ada orang lain.


"Ucapan terimakasih saja tidak cukup untuk mu Han. Kamu boleh minta apa saja sama Mas. Sebagai bentuk hadiah karena kamu sudah bebaskan Mas."


"Hanin tidak perlu hadiah apapun Mas. Yang Hanin mau hanyalah. Mas Prasetya setia sama Hanin. Hanya itu yang Hanin mau dari seorang pria yang sangat aku cintai sepenuh hati ku. Aku hanya ingin Mas setia. Karena jika Mas sudah setia. Hanin sudah mendapatkan semuanya dari Mas Prasetya." tutur Hanin lembut.


"Jika kita ada di kamar. Kamu sudah habis Hanin." ucap Prasetya yang saking gemasnya ia langsung mencium pipi mulus putih Hanin. Tanpa peduli lagi akan penolakan Hanin karena ia malu dengan sopirnya.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Sesampainya mereka di rumah. Prasetya yang sudah tidak sabar untuk bisa memeluk dan mencium sang istri karena ia benar-benar merasa sangat bangga terhadap Hanin menjadi menahan segala bentuk hasrat nya selama mereka berada di mobil tadi.


Begitu mereka kini telah berada di kamar. Prasetya langsung memeluk Hanin dengan begitu eratnya.


Pras kemudian mendudukkan Hanin di pangkuannya di sisi tempat tidur.


Hanin yang pada saat itu mengalungkan kedua tangannya ke leher Pras. Nampak memandangi wajah tampan sang suami dengan pandangan penuh cinta.


Sedangkan Pras sendiri juga memandangi wajah cantik Hanin dengan tatapan mata memuja.


"Aku tetap akan memberikan mu hadiah istri ku. Karena usaha dan keberanian mu lah aku bebas."


"Hadian ku itu kamu Mas Prasetya." ucap Hanin setengah berbisik.

__ADS_1


Hati Pras seakan meleleh mendengar jawaban sang istri. Begitu sayang Hanin terhadap dirinya. Walau ia pernah menggores luka di wanita cantik yang sudah memberikan ia keturunan itu.


Sambil meraih dagu Hanin, Pras mendekatkan wajahnya ke bibir ranum Hanin. Saat Pras hendak menempel bibirnya ke bibir Hanin. Hanin dengan mengunakan jari jari nya menahan bibir Pras.


"Mas....Mas mandi dan sholat dulu. Mas harus berterimakasih sama Allah. Karena atas kehendakNya Mas bisa kembali ke rumah sekarang." seperti biasa Hanin selalu bisa mengingatkan Pras dalam urusan yang baik.


"Istri Sholehah." Karena tidak jadi mencium bibir sang istri, Pras kemudian melabuhkan kecupan manis ke kening Hanin.


Hanin tau jika Pras sudah mencium nya, pasti suaminya itu sudah menuntut lebih dari itu. Dan yang Hanin inginkan adalah agar suaminya itu bersujud bersyukur terlebih dahulu pada sang pencipta.


Pras yang paham dengan maksud Hanin kemudian langsung berlalu ke kamar mandi dan membersihkan diri.


Setelah itu Hanin dan Prasetya menunaikan shalat bersama.


Di atas sajadah, keduanya nampak berdoa dengan khusyuk.


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


Empat Bulan Kemudian


Solo


Tepat di samping jendelanya yang terbuka di kamar. Kinanti nampak berdiri memandang keluar sambil mengelus perutnya yang kini sudah besar.


Pandangan Kinanti nampak kosong. Entah apa yang ada di pikiran Kinanti saat ini.


Tapi jauh di lubuk hati Kinan yang paling dalam. Sebenarnya ada seseorang yang sangat ia rindukan sapaannya.


Kinanti menunggu seseorang itu hanya untuk sekedar menanyakan kabar tentang kehamilannya.


Sudah sekian bulan seseorang itu sama sekali tidak menanyakan kabar tentang anak yang dikandungnya


Dalam hati Kinanti bertanya-tanya.


Apakah dia benar-benar tidak memperdulikan anak yang ia kandung.


Apakah benar-benar ia tidak sayang dengan darah dagingnya sendiri.


Benarkah Kinanti hanya menginginkan seseorang itu untuk menanyakan anaknya? Ataukah Kinanti sebenarnya sangat merindukan seseorang itu untuk menanyakan kabarnya juga

__ADS_1


Entahlah, perasaan itulah yang saat ini sedang ada di benak Kinanti di minggu-minggu terakhir ia akan melahirkan.


"Nduk kok malah melamun di dekat jendela. Kamu melamunin apa?" tanya ibunya Kinanti yang saat itu memasuki kamar Kinanti dengan membawakan anaknya segala susu hamil.


*Terima kasih Bu. Kok repot-repot bawakan susu untuk Kinanti ke kamar." ucap Kinan sambil meraih susu hamil yang di bawakan oleh ibunya. Kemudian ia langsung meminumnya.


"Ibu menunggu kamu di meja makan sejak tadi. Tapi kamu tidak kunjung keluar dari kamar. Ternyata kamu malah melamun. Memangnya apa yang kamu lamunkan?"


"Nggak ada Bu, Kinanti nggak mikirin apa-apa kok." Jawab Kinanti berbohong.


"Sebentar lagi kamu mau melahirkan Nduk. Jangan banyak pikiran. Orang kalau mau melahirkan itu pikirannya harus bebas, jangan sampai ada tekanan. Nanti bahaya untuk kesehatan mu dan anak mu." Tutur ibunya Kinanti.


"Iya Bu, Kinan tahu."


"Ngomong-ngomong Prasetya apa kabarnya. Apa dia sering kirim pesan buat kamu, walau hanya sekedar menanyakan kehamilan kamu." tanya ibunya Kinanti.


"Dia tidak pernah menanyakan apa-apa sama Kinanti Bu. Apalagi menanyakan kabar anaknya yang dikandung Kinanti. Dia sama sekali dia tidak ada pesan dan tanya kabar." jelaskan Kinan terus terang.


"Kelewatan ya mantan Bos mu itu. Sudah menghamili kamu, sekarang juga sudah tidak peduli dengan keadaan kamu. Padahal kamu kan sekarang hendak melahirkan anaknya. Mentang-mentang dia mengirimi kamu uang lantas dia tidak peduli. Benar-benar orang kota, egois."


"Biarkan saja Bu, mungkin dia tidak enak sama istrinya. Pak Pras mungkin tidak ingin membuat istrinya salah paham."


"Memang istrinya itu cemburuan ya."


"Bu Hanin baik ko Bu. Orangnya baik dan juga ramah. Tapi semenjak Bu Hanin tahu tentang hubungan Kinanti dan Pak Pras. Sikap Bu Hanin berubah."


"Ibu juga heran sama istrinya mantan bos mu itu. Padahal suaminya sudah melakukan kesalahan seperti itu, tapi istrinya masih bertahan."


"Yang dilakukan Pak Pras waktu itu tidak dengan disengaja Bu."


"Tetap saja, jarang wanita atau seorang istri yang mau bertahan di sisi suaminya setelah tahu suaminya tidur dengan orang lain."


Dan perkataan ibunya sendiri seolah olah membuat Kinanti tersindir.


"Biarin lah Bu. Semoga hubungan Pak Pras dan Bu Hanin tetap langgeng dan bahagia."


"Lalu bagaimana dengan kamu kinan?"


"Kinan sudah siap dengan hidup Kinanti juga. Mau akan seperti apa kedepannya. Yang ada di bekak Kinanti setelah anak ini lahir adalah bekerja kembali."

__ADS_1


hubungan mereka tetap baik lagi folder nanti juga tidak bermaksud menjadi orang ketiga dari hubungan para setia dan mungkin nanti Ibu Hanin.


__ADS_2