Maafkanlah Aku Istriku

Maafkanlah Aku Istriku
Gara gara hujan dan mati lampu


__ADS_3

Sudah kurang lebih dua minggu ini Hanin bekerja sebagai asisten dosen di kampus tempat ia berkuliah dulu.


Alasan Hanin menjadi asisten dosen tidak lain hanyalah untuk menghilangkan kepenatan dan beban-beban pikiran yang ia alami saat ini.


Atas izin Prasetya saat itu. Hanin di perbolehkan oleh Pras untuk mencari kesibukan dengan menjadi asisten dosen.


Dan sore itu, Hanin yang baru saja selesai dengan tugas-tugasnya. Bersiap-siap untuk pulang ke rumah.


Berada di sebuah halte di dekat kampusnya. Hanin nampak sedang memesan taksi online lewat sebuah aplikasi.


Ketika ia sedang sibuk untuk memesan taksi lewat ponselnya.


Tiba-tiba saja sebuah mobil mewah yang sudah tidak asing lagi di penglihatan Hanin. Nampak berhenti tepat di depannya.


Seorang Pria tampan dan gagah nampak keluar dari mobil dan menghampiri Hanin.


"Mau pulang kan. Ayo aku antar." ucap Prasetya yang menawarkan tumpangan pada Hanin.


"Nggak perlu Mas. Aku sudah pesan taksi, taksi nya sudah menuju kemari." ucap Hanin.


"Kan bisa di cancel Han." jawab Pras.


"Tidak enak kalau di cancel. Kasian supir taksi nya. Sebentar lagi juga datang." tolak Hanin lagi dengan halus.


Beberapa saat kemudian, taksi pesanan Hanin pun datang.


Saat Hanin hendak naik ke taksi tersebut. Prasetya mendahului Hanin untuk bergegas ke mobil taksi.


Pras kemudian mengambil beberapa lembar uang di dompetnya. Lalu ia memberikan uang tersebut ke sopir taksi itu.


"Aku bayar tiga lipat ongkos nya Pak. Silahkan di cancel saja dari aplikasi Bapak." ucap Prasetya pada sang sopir taksi.


Sang sopir taksi pun mengambil uang yang di berikan Prasetya. Setelah itu ia pergi.


"Mas Kamu ini apa-apaan sih. Kenapa menyuruh dia pergi." protes Hanin.


"Kan aku sudah bilang, aku yang akan mengantarmu pulang sayang. Sudah jangan protes, lihatlah suasana mendung. Sebentar lagi pasti hujannya turun dengan sangat deras. Ayo naik ke mobil, jangan berdebat." tutur Prasetya.

__ADS_1


Mau tak mau Hanin menurut. Hanin kemudian masuk ke kursi penumpang bagian depan bersama Prasetya.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Di sepanjang perjalanan, Hanin dan Prasetya tidak banyak bicara.


Hujan sore itu hujan turun dengan intensitas sangat deras. Sehingga membuat jarak pandang sedikit terganggu.


Dan tiba-tiba saja, laju mobil Pras nampak oleng. Untung Pras bisa segera mengendalikan laju mobilnya dan dapat segera mengontrol kecepatan dengan cepat.


Sehingga membuat mobil yang ia kemudikan bisa berhenti tepat di pinggir jalan.


Hanin yang sempat panic, di buat kaget dengan insiden kala itu.


Apa lagi di tambah hujan yang turun semakin deras membuat suasana terlihat mencekam.


"Kenapa dengan mobilnya Mas?" tanya Hanin penuh rasa penasaran dan juga khawatir.


"Entahlah, sepertinya, ada roda bagian belakang yang kempes. Aku cek dulu." ucap Pras, yang kemudian ia langsung turun dari mobil.


"Mas, hati hati, hujannya deras." Cicit Hanin mengingat.


Pras pun kemudian turun dari mobil dan mengecek ban mobilnya di bagian belakang.


Dan benar saja, ban nya ternyata kempes. Lalu Pras membuka bagasi mobil dan mengambil ban serep yang ada di sana.


Dengan menggunakan alat yang tersedia di dalam mobil, Pras menganti ban mobilnya yang kempes di tengah tengah guyuran hujan yang turun begitu lebat sore itu.


Dan di dalam mobil, Hanin nampak sedikit cemas dengan keadaan Prasetya di luar sana yang sedang mengganti ban mobil.


Kilatan cahaya petir dan gemuruh guntur sudah membuat Hanin semakin merinding berada di dalam mobil.


Sesaat kemudian, Prasetya kembali masuk ke kursi kemudinya dengan keadaan sudah basah kuyup.


"Mas, baju mu basah kuyup." cicit Hanin, menunjukan rasa perhatiannya di saat Pras sudah kembali masuk ke dalam mobil.


"Iya, biarlah, nanti sampai rumah aku akan mandi dan ganti baju." ujar Prasetya, yang kemudian mengemudikan kembali mobilnya.

__ADS_1


"Han, kita mampir sebentar ya di rumah kita. Tidak keberatan kan kalau kita mampir ke rumah dulu. Aku perlu mandi dulu dan ganti baju. Lagian kan untuk menuju rumah mu, kita harus lewati rumah kita dulu." tutur Prasetya.


"Terserah Mas saja." jawab Hanin pasrah.


Dengan wajah penuh dengan senyuman. Pras dengan semangat mengemudikan mobilnya menuju rumah.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Baru saja Hanin dan Prasetya memasuki wilayah komplek perumahan mereka. Kompleksnya terlihat nampak gelap gulita.


Tidak hanya rumahnya saja yang kini terlihat gelap. Tetapi rumah-rumah yang lain pun sama.


"Sepertinya sedang terjadi pemadaman listrik di daerah sini." ucap Pras, yang kala itu masih berada di dalam mobil bersama Hanin.


Kenapa harus tepat pada saat ini sih mati lampunya, Hanin membatin.


"Ayo turun dulu, kita masuk ke rumah." ajak Pras.


"Mas saja yang turun. Aku tunggu di mobil saja." jawab Hanin.


"Saat ini sedang mati lampu Han. Nanti kalau terjadi apa-apa bagaimana. Kita masuk dulu, lagian dua Bibik di rumah juga sedang tidak ada. Mereka mengambil cuti untuk menghadiri pernikahan saudaranya sejak kemarin. Jadi di rumah tidak ada orang atau siapapun. Aku hanya sendirian beberapa hari ini. Ayo kita masuk dulu. Aku tidak tahu di mana kalian menaruh lilinnya." jelas Pras yang ingin Hanin juga turut turun.


Akhirnya, Hanin pun ikut turun dari mobil.


Dengan menggunakan pencahayaan dari ponsel. Pras dan Hanin berjalan menuju pintu rumah.


Mengambil kunci rumah dari balik saku celana. Pras kemudian membuka pintu dan menyuruh Hanin untuk masuk duluan.


"Dimana biasanya kalian menaruh lilin?" tanya Prasetya.


"Ada di laci dapur." jawab Hanin, seraya ia berjalan menuju dapur untuk mengambil lilin. Sedangkan Pras menerangi Hanin yang tengah mencari lilin dengan lampu yang ada di ponselnya.


"Daya ponsel ku lemah. Sebentar lagi ponselku pasti mati." terang Prasetya.


"Sabar Mas, ini aku sedang cari lilinnya." jawab Hanin dengan nada suara sedikit jengkel dan menggerutu.


Hanin merasa jengkel, kerena kenapa harus mati lampu tepat di saat mereka kini hanya ada berduaan saja di rumah.

__ADS_1


So, apa yang terjadi selama πŸ˜…


__ADS_2