Maafkanlah Aku Istriku

Maafkanlah Aku Istriku
Kegundahan hati Hanin dan Kinanti


__ADS_3

Saat Kinanti dan Bagas sedang mendorong troli menyusuri lorong demi lorong yang ada di supermarket tersebut.


Tanpa sengaja, mereka berpapasan dengan Hanin dan juga Prasetya. Yang kebetulan pada saat itu Pras juga sedang mendorong troli dan Hanin ada di samping Prasetya.


Sejenak mereka saling membeku. Pras bersama Hanin dan Bagas bersama Kinanti.


Hanin langsung melayangkan pandangannya ke arah Kinanti.


Karena wanita itulah yang membuat dirinya kini di landa krisis kepercayaan untuk sang suami.


Setelah melayangkan pandangannya dengan tajam ke arah Kinanti. Hanin kemudian menoleh ke samping ke arah suaminya.


Ia memeriksa apakah Prasetya juga menatap mantan sekretarisnya tersebut.


Saat Hanin sudah menoleh ke samping. Pada saat itu juga Prasetya sedang menatap ke arah dirinya.


Bola mata hitam pekat Prasetya terlihat menatap lekat wajah cantik Hanin.


Saat suami istri itu saling tatap. Hanin bisa merasakan sentuhan lembut dan hangat tangan Prasetya meraih jemari tangannya.


Prasetya menyatukan jari jemarinya ke sela sela jari jemari tangan Hanin.

__ADS_1


Sehingga kedua jari jemari tangan mereka menyatu sempurna.


Lewat sentuhan itu, Prasetya ingin memberikan uangkap bahwa di hatinya hanyalah ada Hanin, sang istri.


Hanin merasakan ada rasa teduh di hatinya saat Pras menatapnya.


Kinanti sendiri yang saat itu juga melihat bagaimana Prasetya menggenggam dengan begitu erat tangan Hanin. Paham dengan situasi yang saat itu terjadi.


Kinanti tau, Hanin pasti mereka tidak suka dengan situasi yang terjadi pada saat in.


Karena mereka tidak ada yang saling bersuara. Untuk memberikan rasa hormatnya, Kinanti kemudian bersuara.


"Selamat malam Pak Pras selamat malam Bu Hanin. Senang bertemu Bapak dan Ibu di sini. Silahkan dilanjutkan belanjanya. Saya kebetulan sudah selesai berbelanja." Ucap Kinanti yang kemudian menyuruh Bagas untuk mendorongnya troli belanjanya untuk m menuju kasir.


Sepeninggal mereka dari hadapan Hanin dan Prasetya. Pasangan suami-istri itu masih membeku di tempat.


"Sayang, ayo kita belanja." Ucap Prasetya dengan lembut. Yang pada saat itu masih menggenggam tangan Hanin.


"Astaghfirullahaladzim." seru Hanin beristighfar. Saat hati nya di serang gundah gulana pada saat itu.


"Aku mencintaimu Haningrum." bisik Prasetya ke telinga Hanin dengan lirih. Tapi Hanin cukup bisa mendengar bisikan cinta itu dengan jelas.

__ADS_1


Hanin kemudian menoleh lagi ke arah Prasetya. Pria berwajah putih tampan dan berjambang halus itu tersenyum manis kepada dirinya.


"Pesona mu Mas." Ucap Hanin sambil tersenyum tipis.


"Kenapa dengan pesona ku?"


"Kamu terlalu tampan. Pasti banyak wanita di kantor yang suka punya bos setampan kamu." sergah Hanin dengan wajah masam.


"Aku memang seperti ini sayang. Meski mereka suka pada ku. Mereka bisa apa. Aku sudah menjadi milik wanita cantik dan solehah Haningrum." ujar Prasetya.


Ia ingin mengembalikan mood sang istri yang sempat berantakan.


Rayuan Prasetya berhasil. Hanin kini sudah bersikap normal kembali. Dan mereka melanjutkan kembali acara belanjanya.


Dan di sisi lain, Kinanti yang saat itu masih berada di kasir. Nampak menoleh ke arah Pras dan Hanin.


Dari tempat ia berdiri saat itu, Kinanti bisa melihat bagaimana cara Prasetya melingkarkan tangannya ke perut Hanin nampak terlihat sangat romantis.


Tidak ingin terlalu tengelam dalam sebuah rasa perasaan yang aneh yang saat ini menguasai hati nya.


Kinanti memilih untuk fokus memindahkan barang belanjaannya dari troli ke meja kasir.

__ADS_1


yang menyeruak masuk dalam hatinya yang ia


__ADS_2