Maafkanlah Aku Istriku

Maafkanlah Aku Istriku
Perhatian yang mendebarkan


__ADS_3

Setelah pembicaraan dan pertemuannya bersama Hanin berakhir.


Dengan menaiki sebuah taksi, Kinanti kembali menuju kantor.


Saat di restoran tadi, ia tidak sempat untuk menikmati makan siangnya. Karena pembicaraan yang dilakukan bersama Hanin sudah menyita banyak waktunya.


Sehingga dia tidak sempat untuk makan siang. Lagipula, pembicaraannya saat itu juga sangat serius. Jadi mana mungkin Kinanti bisa memasukkan makanan ke mulutnya.


Begitu juga dengan Hanin. Ia juga tidak menyentuh makanan yang sudah ia pesan.


Tidak ada satupun dari mereka yang makan pada saat itu.


Setelah percakapan mereka selesai. Keduanya pun sama-sama pergi meninggalkan lokasi dengan naik kendaraan masing-masing.


Sesampainya Hanin di kantor. Ia langsung bergegas menuju ruang kerjanya.


Kemudian Kinanti langsung meraih beberapa file yang tadi ia tinggalkan sebelum jam makan siang. Lalu ia melanjutkan menyelesaikan semua pekerjaan itu. Karena ia harus menyerahkan laporannya terhadap Prasetya.


Setelah menyelesaikan beberapa laporan yang sudah ia kerjakan. Kinanti pun kemudian bergegas menuju ruangan Prasetya.


Sesaat sebelum Kinanti masuk ke dalam ruangan Prasetya. Tiba-tiba ia merasakan kepala terasa pusing.


Sejenak Kinanti memegangi kepalanya. Karena kepalanya terasa berat sekali.

__ADS_1


Setelah rasa pusing itu berangsur pergi. Barulah Kinanti masuk ke ruangan Prasetya.


Sesampainya di dalam, Kinanti dengan begitu profesional menyerahkan laporannya pada Pras dan menjelaskan tentang berbagai macam hal mengenai pekerjaan.


Mereka berdua nampak fokus dalam berdiskusi tentang pekerjaan.


Baik Kinanti dan Pras sama sama bersikap profesional. Meskipun mereka terlibat affair.


Ketika Kinanti baru saja akan kembali ke ruang kerjanya. Rasa pening dan berat di kepalanya kembali menyerang. Sehingga ia terhuyung di meja Prasetya.


Dengan sigap, Prasetya langsung menahan pundak Kinanti. Agar wanita itu tidak tersungkur jatuh.


Sadar ia kini sedang memegang Kinanti. Prasetya langsung buru-buru menarik tangannya kembali.


"Kamu kenapa Kinanti?" Tanya Prasetya dengan nada khawatir.


"Maaf sayang, Mama tidak sempat makan siang tadi. Dan tadi pagi juga Mama hanya makan selembar roti." Ucap Kinanti lirih, sambil memegangi perutnya yang masih rata itu.


Sedangkan Prasetya yang ada di ruangannya, sepertinya paham dengan keadaan yang dialami oleh Kinanti.


Prasetya kemudian secara inisiatif mengambil ponselnya untuk memesankan makanan untuk Kinanti.


Bagaimanapun, ia harus memperhatikan anak yang ada di dalam kandungan Kinan. Walau bagaimanapun anak itu adalah darah dagingnya.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, pesanan makanan yang dipesan Pras telah sampai di mejanya.


Melalui sambungan telepon, Pras menyuruh Kinan untuk kembali ke ruangannya.


"Ada apa Pak? Apakah ada masalah tentang pekerjaan?" Tanya Kinan.


"Tidak ada masalah apa-apa. Duduklah di meja ruang tamu. Aku memesankan kamu makanan bergizi. Aku tahu, kamu tadi tidak sempat makan siang kan. Kamu kan sedang hamil. Kamu harus bisa menjaga pola makan kamu. Kamu tidak boleh telat makan. Ini makanlah, ini adalah makanan sehat yang aku pesan khusus untuk ibu hamil. Ada sayuran dan juga buah-buahan. Makan saja di sini, setelah selesai makan, kamu baru boleh keluar." Mendengar perkataan Pras yang terdengar begitu perhatian. Seketika langsung membuat hati Kinan berdebar-debar.


"Pak Pras bersikap baik seperti itu hanya karena ia peduli dengan bayinya Kinanti. Dia bukannya peduli dengan diri mu." tutur Kinanti dalam hati, mengingatkan dirinya sendiri.


Prasetya kemudian berjalan ke arah ruang tamu yang ada di ruangannya. Kemudian di susul oleh Kinanti di belakangnya. Kinanti tidak dapat menolak pemberian Prasetya.


Pras kemudian meletakkan paper bag yang di dalamnya berisikan makanan itu ke meja ruang tamu yang ada di ruangannya.


"Makanlah." Ucap Prasetya.


Kinan kemudian meraih kotak box tersebut dan menikmati makanan yang ada di dalamnya.


Dari lubuk hatinya yang paling dalam. Jujur Kinanti merasa sangat senang dan bahagia karena dia diperhatikan oleh Pras.


Tapi ia juga tahu, bahwa perhatian yang di tunjukan Pras bukanlah untuk dirinya. Tetapi perhatian itu adalah bentuk perhatian Pras untuk janin yang ada di kandungannya.


Meskipun begitu, hal itu sudah membuat hati Kinanti hangat dan membuat jantungnya berdebar debar.

__ADS_1


"Kinanti, apa yang aku lakukan ini adalah bentuk rasa peduli ku dengan janin yang kau kandung. Saat dulu Hanin hamil Ali. Aku lebih memperhatikan dia. Aku memesankan kamu makan itu adalah karena aku peduli dengan anak itu. Dia sudah hadir, aku tidak mungkin membencinya apalagi bersikap kejam dan tidak peduli. Jadi, kamu jangan salah artikan perhatian ku. Aku sangat mencintai istri ku Haningrum. Hanya ada Hanin di hati dan di jiwa ku." Tutur Prasetya yang saat itu berdiri bersandar pada meja kerjanya.


"Saya paham Pak. Saya tau." Ujar Kinanti sambil menundukkan wajahnya.


__ADS_2