
"Sebelum aku beritahu caraku menghapuskan rasa bersalah ku. Aku ingin kita melakukan sesuatu. Sesuatu yang selama ini selalu menjadi kegiatan yang membuat kita bahagia satu sama lain." Ucap Pras.
Dan sepertinya Hanin tau, kegiatan apa yang harus mereka lakukan bersama saat ini.
Apalagi kalau bukan kegiatan suami istri.
Lantas, apakah Hanin akan menurut?
Bukankah seorang istri tidak boleh menolak ajakan suami?
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
Sepertinya, percintaan Pras dan Hanin pada malam itu begitu panas dan berapi-api mereka lakukan.
Prasetya sendiri mencoba untuk membuktikan pada Hanin. Bahwa ia begitu mencintai Hanin. Lewat berbagai sentuhan dan perlakuan lembut yang ia ciptakan pada saat mereka melakukan hubungan intim kala itu.
Sedangkan Hanin sendiri merasakan rasa sakit hati dan kesal saat melayani suaminya.
Bukan kesal karena ia terpaksa melayani sang suami. Tapi ia kesal kenapa suaminya bisa bercinta dengan wanita lain selain dirinya.
Meskipun hal itu adalah sebuah kesalahan dan ketidak sengajaan. Tetap saja hal itu melukai hati Haningrum. Ia merasa tidak terima dengan fakta yang mau tidak mau harus ia hadapi itu.
Terlebih kesalahan itu menimbulkan sebuah masalah yang fatal. Karena Kinanti sampai hamil.
Hanin yang kala itu berada di pangkuan Prasetya. Terus berusaha untuk mengimbangi permainan sang suami yang terbawa gairah yang menggebu-gebu.
__ADS_1
Setelah mereka berdua saling menyelami dalam posisi bercinta saling berpelukan. Kini Prasetya menidurkan Hanin dan tetap menguasai tubuh molek sang istri.
Hanin sendiri yang sepertinya sudah menuntut lebih. Kemudian ia mengalungkan kedua tangannya ke leher Prasetya.
"Aku mencintaimu Haningrum." Bisik Prasetya, kemudian ia memulai penyatuan mereka.
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
Setelah beberapa kemudian. Ketika mereka sudah sama sama mendapat pelepasan.
Prasetya menggulingkan tubuhnya ke samping. Dengan masih dalam keadaan napas yang masih terengah-engah. Begitu pula dengan Hanin.
Setelah mereka sudah sama-sama bisa mengatur nafasnya. Prasetya kemudian bergerak miring menghadap ke arah Hanin yang saat itu juga sedang dalam berposisi miring.
Prasetya kemudian menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka berdua.
"Terimakasih untuk malam ini Han." Ucap Prasetya sambil membelai pipi mulus putih Haningrum. Hanin tidak menjawab.
Ia hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan Prasetya.
Dan tiba-tiba, bayangan adegan panas yang pernah dilakukan Pras bersama Kinanti di hotel itu kini berputar putar di otak Hanin.
Begitu ia teringat adegan mesum sang suami bersama wanita lain. Membuat hati Hanin merasa jijik dengan apa yang mereka lakukan.
Seketika itu juga Hanin berbalik badan dan membelakangi Prasetya.
__ADS_1
Melihat perubahan sikap Hanin yang seperti itu membuat Pras kawatir.
"Han, ada apa?" Tanya Prasetya yang kini sudah menempel di tubuh Hanin dari belakang.
"Tidak ada apa apa Mas. Bersihkan dirimu dulu. Nanti gantian." Ujar Hanin sambil menitikkan air matanya. Dengan posisi ia tiduran miring membelakangi Prasetya.
"Tapi kamu menangis Han. Ada apa, tolong beritahu aku."
"Aku tidak apa apa Mas, sungguh. Mandilah, atau aku yang mandi duluan." Terang Hanin. Prasetya kemudian mengalah dan tidak mau terlalu menekan Hanin.
Sejurus kemudian, Prasetya berinsut dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi.
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
"Mas, bolehkah aku minta nomor ponsel Kinanti. Aku ingin ngobrol dengan dia siang ini di jam makan siang." Ucap Hanin pada Prasetya, saat ia mengantarkan sang suami yang hendak pergi ke kantor.
Prasetya kemudian sedikit berfikir.
"Nanti Mas kirim nomor ponselnya. Memangnya ada apa Han. Kamu minta nomor ponsel Kinanti?" Tanya Prasetya penasaran.
"Aku bicara dengan dia. Tolong izinkan dia untuk menemui ku nanti siang. Aku akan kabari dia di mana kita akan bertemu nanti." Ucap Hanin pada Pras.
Prasetya pun tidak bisa berbuat apa-apa selain mengizinkan dan membiarkan Hanin bertemu empat mata dengan Kinanti.
Kira kira apa yang Hanin bicarakan dengan Kinanti.
__ADS_1