
Saat Hanin meraih baju kemeja sang suami yang hendak ia pindahkan ke keranjang kotor. Hanin sedikit merasa aneh dengan aroma parfum khas lain yang menempel pada kemeja putih Prasetya.
Karena merasa aneh dengan bau parfum yang ada di kemeja sang suami, Hanin kemudian mengendus kemeja tersebut.
Dan, aroma parfum yang ada di kemeja sang suami terasa berbeda. Berbagi pikiran aneh mulai bergelayut di pikiran Hanin.
"Astagfirullah Han, jangan berfikir souzon ma suami, Dosa." ucap Hanin lirih pada dirinya sendiri.
"Mas Prasetya ngak mungkin seperti itu." ucap Hanin lagi sambil berusaha membuang prasangkanya jauh jauh dari pikirannya.
Tampa mau berfikir buruk lagi tentang bau parfum itu. Hanin segera membawa keluar keranjang baju kotor itu untuk di berikan pada asistennya untuk di cuci.
Hanin adalah tipe seorang istri yang sangat menaruh rasa percaya pada suaminya.
Bahkan ia tidak ingin mencurigai sang suami dengan alasan alasan yang mungkin saja itu tidak benar. Kehidupan rumah tangga Hanin dan Prasetya sejauh ini sangat harmonis dan bahagia.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Prasetya yang berpostur bandan tinggi besar dan memiliki wajah sangat tampan terlihat keluar dari mobil mewahnya. Setelah mengunci mobilnya, Prasetya langsung bergegas menuju gedung perkantoran yang menjadi tempatnya bekerja selama ini.
Ketika Prasetya hendak masuk ke dalam sebuah lift. Secara bersamaan. Kinanti yang saat itu sedang ingin naik ke lantai yang sama dengan lantai Prasetya, berpapasan di dalam lift.
Ke-dua nya nampak canggung, tidak seperti biasanya yang saling menyapa dengan ramah.
Selama berada di dalam lift. Baik Prasetya dan juga Kinanti sama sekali tidak saling bicara.
Bahkan saat mereka sudah sampai di lantai yang mereka tuju. Mereka masih saling diam dan berlalu menuju tempat mereka masing-masing.
__ADS_1
Prasetya langsung menuju ruangannya dan Kinanti menuju tempat kerjanya.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Sesampainya Kinanti di meja kerjanya. Seperti biasa Kinanti tengah bersiap untuk beraktivitas. Tapi, saat ia ingin konsentrasi dengan pekerjaannya. Bayangkan malam kelam itu kembali bergelayut di pikirannya.
Kepingan demi kepingan percintaan nya dengan Prasetya bagaikan puzzle. Yang kadang-kadang terlihat berantakan dan kadang kadang liat nyata di pikirannya.
Dan ingatan itu masihkah segar. Karena terjadi dua hari lalu. Saat keduanya sedang berada di luar kota.
"Saya bukan Hanin Pak. Saya Kinan." tutur Kinanti yang masih sadar, dengan posisi dirinya masih berada di atas tubuh Prasetya.
"Tidak, jika kau Kinanti, kau tidak akan berada di atas ku seperti ini." tutur Prasetya sambil memeluk tubuh Kinanti yang ada di atasnya agar tidak pergi.
"Kau cantik sekali Hanin." imbuh Prasetya sambil menatap wajah Kinan dengan tatapan mendamba.
Tidak hanya mabuk, Prasetya juga merasakan sesuatu dari tubuhnya. Gairah untuk bercinta kini di rasakan oleh Pras. Sesuatu yang menuntutnya untuk segera di puaskan.
"Pak sadar Pak, saya Kinan. Saya bukan Hanin istri Bapak." ucap Kinan sambil mendorong dada Pras. Karena Pria beristri itu semakin mendekati wajahnya.
"Jangan menolak ajakan ku Hanin. Bukankah selama ini kau tidak pernah menolak ajakan bercinta dengan ku." tutur Prasetya.
Kemudian ia menggulingkan tubuhnya ke samping. Dan merubah posisinya kini menjadi di atas Kinanti.
Tanpa mendengar penolakan Kinanti, Prasetya yang tidak dalam kondisi sadar dan sudah larut dalam pengaruh minuman keras tersebut langsung menyerang bibir ranum Kinanti dengan begitu intens.
Serangan tiba tiba bibir Pras yang menempel sempurna di bibir Kinanti membuat wanita yang masih perawan dan lajang itu terlena.
__ADS_1
Di tambah lagi dengan getaran getaran aneh yang terjadi pada diri wanita itu. Saat ciuman itu berlangsung membuat Kinan kini sudah lupa akan segalanya.
Dan justru ia meleburkan diri untuk meladeni nafsu Prasetya.
Efek obat perangsang yang ia tidak tau bagaimana bisa ia minum saat itu sudah tidak bisa dikendalikan.
Kinanti sendiri tidak tahu harus berbuat apa. Dalam kondisi ia saat itu masih berciuman dengan Pras. Pikirannya yang masih bisa berfikir waras, mencoba untuk melepaskan diri. Namun, Pras malah justru semakin merangsekkan dirinya pada tubuh Kinanti.
Tangan Prasetya juga sudah tidak bisa diam. Ia menjamah setiap jengkal lekuk tubuh Kinanti yang dia pikir itu adalah Hanin.
Ketika keduanya kini sudah dalam puncak gairah. Mereka pun sama sama melepaskan pakaian mereka. Dan di atas tempat tidur, di kamar hotel milik Prasetya.
Kedua insan manusia yang tidak punya hubungan status sah sebagai suami istri itu melakukan hubungan badan yang seharusnya mereka tidak melakukannya.
"Tidak." ucap lirih Kinanti di saat ia kembali teringat bagaimana dirinya saat itu sedang bercinta dengan Prasetya di kamar hotel milik sang bos.
Potongan demi potongan kegiatan panas itu seolah melekat di otaknya.
"Ya Allah, semoga tidak terjadi apa apa dengan ku." ucap Kinanti membatin.
Kemudian Kinanti meraih ponselnya dan ia mengecek periode menstruasinya.
Meskipun ia masih single, Kinanti iseng untuk mencatat masa periode menstruasinya pada sebuah aplikasi di ponselnya. Karena ia memang sejak dulu punya periode menstruasi yang tidak teratur.
Ketika Kinanti sedang fokus pada ponselnya. Tiba-tiba sebuah suara terdengar dekat di sebelah nya. Dan hal itu langsung membuat Kinanti kaget dan reflek. Ponsel milik Kinanti terjatuh di lantai.
Belum sempat Kinanti mengambil ponsel miliknya. Ponsel tersebut sudah keduluan di ambil oleh seseorang.
__ADS_1
Dan seseorang itu ternyata adalah Prasetya.