Maafkanlah Aku Istriku

Maafkanlah Aku Istriku
Tidak ada gunanya berbohong


__ADS_3

Sesampainya dia di lantai empat. Ketika Hanin sudah berada di depan ruang rapat.


Hanin tanpa permisi langsung membuka pintu rapat tersebut.


Sehingga membuat semua orang yang ada di ruang rapat saat itu langsung melayangkan pandangannya ke arah Haningrum.


Begitu pintu ruang rapat kini sudah terbuka lebar-lebar. Kedua mata Haningrum kini mencari cari dua sosok yang telah membuat hatinya hancur.


Dua sosok itu adalah suaminya sendiri dan Kinanti.


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


Berdiri gemetaran dengan pandangan mata tajam ke arah Prasetya.


Haningrum tak peduli dengan penilaian semua orang yang kala itu menatap bigung kearahnya.


"Hanin!" Seru Prasetya.


Paham dengan situasi sang istri yang kini menjadi pusat perhatian semua orang di ruang rapat.


Prasetya kemudian menyuruh Kinanti untuk meneruskan rapat.


"Kinan, kamu handle rapatnya." perintah Prasetya pada Kinanti.


"Baik Pak." Jawab Kinanti tegas.


Setelah memberikan perintah kepada Kinanti untuk melanjutkan rapat. Prasetya kemudian berjalan ke arah Haningrum.


"Kita ke ruangan ku sayang." Ajak Prasetya sambil meraih tangan Hanin dan mengajaknya untuk pergi dari ruang rapat ke ruangannya.

__ADS_1


Hanin pun menurut dan tidak memberontak.


Ia bahkan tidak menolak untuk dipegang tangannya oleh Pras.


Saat ini dirinya tengah menyimpan energinya untuk berbicara serius dengan sang suami.


Setelah sampai di ruang kerjanya. Prasetya langsung menutup pintu ruangannya. Sedangkan Hanin sendiri sudah duduk di sebuah sofa yang ada di ruang kerja Prasetya


Melihat gerak-gerik sang istri yang terlihat begitu berbeda. Serta wajah yang terlihat menyimpan sesuatu. Membuat Prasetya mengerutkan dahinya.


Ia kemudian langsung berjalan ke arah sang istri dan ikut duduk di sebelahnya.


Prasetya kemudian merangkul pundak sang istri dari belakang. Sambil mengelus elus dengan lembut punggung Hanin.


"Ada apa sayang? Kok kamu tiba-tiba datang ke kantor dan langsung menuju ruang rapat. Suatu hal yang jarang kamu lakukan sebelumnya." Tanya Prasetya dengan lembut pada sang istri.


Untuk sepersekian detik. Haningrum hanya terdiam. Dirinya hanya terdiam dan seolah-olah sedang berpikir.


"Han, kok kamu diam saja. Ada apa?" Tanya lagi Prasetya dengan nada suara lembut dan halus.


Setelah hatinya sudah merasa sedikit tenang. Hanin kemudian menoleh ke samping. Menatap wajah tampan seorang pria yang sudah hidup bersama dengan dirinya kurang lebih empat tahun itu.


Dan, begitu Prasetya menatap wajah sang istri dari dekat dan lekat.


Berapa terkejutnya hati Prasetya. Saat mendapati wajah dan mata sang istri nampak sembab.


"Hanin, kamu kenapa?" Kini, pertanyaan Prasetya berubah menjadi sebuah keterkejutan dan kekawatiran.


"Mas berbuat apa di belakangku?" Tanya Hanin dengan tatapan mata tajam ke arah Pras.

__ADS_1


Deg...........


Astagfirullah, apa kamu jangan jangan sudah tau tentang aib itu Han. Ucap Prasetya membatin.


"Apa ada sesuatu yang Mas sembunyikan dari Hanin. Katakan saja Mas jika ada." Ujar Hanin dengan mata yang kini sudah kembali berkabut.


Prasetya masih diam tak bergeming. Dia hanya menatap wajah sang istri penuh dengan rasa takut kehilangan.


Antara jujur atau berbohong sepertinya akan sama saja.


Mau cepat atau lambat Hanin juga pasti akan tau.


Mau akan jadi seperti apa jadinya Prasetya tidak punya pilihan lain selain berkata jujur.


"Han, apa kamu sudah mengetahui sesuatu?" Tanya balik Prasetya.


"Jangan balik bertanya Mas. Apa kurang rasa percaya ku sama kamu Mas. Apa kurang rasa pengertian ku sama kamu. Pantang bagi ku untuk curiga sama suami. Selama seorang suami itu sudah jujur dan pengertian. Karena aku tidak mau berdosa jika aku terus curiga sama kamu Mas. Mencurigai seorang suami jika itu tidak benar akan faktanya. Itu sudah merupakan dosa bagi seorang istri. Dan sikap ku selama ini sangat percaya sama Mas. Dan sekarang aku tanya. Apa yang Mas lakukan di belakang ku. Dan apakah ada sesuatu yang Mas tutupi dari aku?"


Prasetya pun kini tidak bisa berkutik lagi.


Prasetya kemudian meraih kedua tangan Hanin. Kemudian ia menggenggam tangan itu dengan erat dengan kedua tangannya.


"Hanin, maafkan Mas. Maafkanlah aku istriku. Iya, Mas sudah tidak jujur sama kamu. Dan aku juga menyembunyikan sesuatu dari kamu. Tapi jujur, dan Mas berani bersumpah. Mas bukannya tidak mau jujur. Tapi Mas menunggu waktu yang tepat untuk memberi tau kamu soal aib itu." Jelas Prasetya.


"Aib apa Mas?" Tanya Hanin tegas.


"Han, berjanjilah sama Mas kalau kamu tidak akan meninggalkan Mas setelah kamu tau semuanya."


"Kenapa Mas Pras selalu berkata seperti itu. Memangnya apa yang sudah kamu perbuat?" Pancing Hanin. Meski ia sudah tau tentang sesuatu yang di rahasiakan oleh Prasetya.

__ADS_1


Tapi, Hanin juga perlu untuk mendengar langsung dari mulut Prasetya tentang kebenarannya.


Apakah benar ia mengakui bahwa ia telah selingkuh dan menghamili Kinanti.


__ADS_2