Maafkanlah Aku Istriku

Maafkanlah Aku Istriku
Tuntutan Kinanti


__ADS_3

"Pak, bagaimana dengan nasib saya? Bagaimana dengan etikat baik Bapak untuk anak yang saat ini saya kandung. Dia anak Bapak, Bapak ayah biologis janin yang ada di kandungannya saya. Saya sebenarnya menuggu peryataan Bapak. Tapi Bapak sepertinya tidak peduli dengan nasib anak ini."


Deg.........


Seketika itu juga, Prasetya melayangkan tatapan tajam ke arah Kinanti.


"Kamu sudah berjanji untuk tidak memberi tau istri ku. Aku saat ini sedang berfikir untuk mencari jalan keluar Kinan. Tapi aku tidak mau mempertaruhkan keutuhan rumah tangga ku."


"Tapi Bapak tidak ada upaya apapun. Dia anak Bapak juga. Mau seberapa Bapak menyangkal dan menutupi ini semua. Bu Hanin pasti akan tau cepat atau lambat. Kebohongan macam apapun tidak akan pernah selamanya sempurna untuk di tutupi Pak." ancam Kinanti pada Prasetya.


"Aku tidak pernah melihatmu seberani ini sebelumnya terhadap ku." Tatap Prasetya dengan tatapan tajam ke arah Kinanti.


Awalnya, Kinanti balas menatap wajah Prasetya yang terlihat sedikit terbawa emosi. Sejurus kemudian, Kinanti menundukkan kepalanya.


"Maaf, jika sikap saja sudah lancang terhadap Bapak. Tapi pernyataan saya, saya rasa sudah tepat. Karena bagaimanapun saya tidak bisa menanggung aib ini sendirian Pak. Karena ini adalah perbuatan kita berdua. Meskipun perbuatan itu kita lakukan dengan tidak sengaja." Paparnya Kinanti.


Prasetya nampak mendengus, ia menghela nafas dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan.


Begitu banyak rasa kekhawatiran yang melekat pada benaknya.


Ada sebuah rasa ketakutan dan juga berbagai macam pikiran lain berkecamuk di dalam pikiran Prasetya saat ini.


"Dengar Kinanti! Aku selama ini terlihat diam bukan berarti aku tidak peduli dengan apa yang terjadi denganmu. Aku juga memikirkan bagaimana caranya supaya semuanya bisa diatur dengan baik. Aku tahu, tidak mungkin kita menggugurkan anak itu atau menyakitinya. Aku tidak setega itu, karena aku sendiri juga punya anak. Dan aku mau dia tetap tumbuh di rahim mu. Sebaiknya kita jangan bicarakan masalah ini di sini. Karena di sini adalah rumahku. Ini berkas-berkas penting yang harus kamu bawa ke kantor. Nanti aku akan cari waktu untuk membicarakan ini denganmu. Dan aku janji, aku akan bertanggung jawab dengan semua yang sudah aku lakukan terhadap mu. Dan saat itulah, kamu harus menerima keputusan ku." Ucap Prasetya, yang memberikan penjelasan mengambang pada Kinanti. Karena tidak ingin mendebat lagi ucapan Prasetya. Kinanti memilih diam.

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu, saya permisi. Saya akan kembali ke kantor." Kemudian Kinan membereskan berkas-berkas yang Prasetya berikan. Setelah itu ia pamit untuk undur diri dan kekantor.


Sepeninggal Kinanti dari ruang kerjanya. Prasetya kembali terduduk di kursi kerjanya sambil memijat pelipisnya.


Kini kepalanya kembali terasa pening. Berbagai macam pikiran menjadi satu sedang ia pikirkan saat ini.


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


Di tempat kost


"Dengar Kinanti! Aku selama ini terlihat diam bukan berarti aku tidak peduli dengan apa yang terjadi denganmu. Aku juga memikirkan bagaimana caranya supaya semuanya bisa diatur dengan baik. Aku tahu, tidak mungkin kita menggugurkan anak itu atau menyakitinya. Aku tidak setega itu, karena aku sendiri juga punya anak. Dan aku mau dia tetap tumbuh di rahim mu. Sebaiknya kita jangan bicara masalah ini di sini. Karena di sini adalah rumahku. Ini berkas-berkas penting yang harus kamu bawa ke kantor. Nanti aku akan cari waktu untuk membicarakan ini denganmu. Dan aku janji, aku akan bertanggung jawab dengan semua yang sudah aku lakukan terhadap mu. Dan saat itulah, kamu harus menerima keputusan ku."


Kata-kata yang diucapkan Prasetya terhadap Kinanti saat di ruang kerja pagi tadi. Membuat Kinanti berpikir.


Kinanti yang saat itu hendak pergi tidur menjadi terjaga kembali.


Ia bangkit dari tidurnya, duduk bersila dan kemudian ia mengelus elus perutnya yang masih rata dengan tangannya.


Semakin hari pikirannya kian memikirkan nasib dirinya. Sebuah nasib yang tidak jelas. Seolah olah hanya dia sendiri yang harus menanggungnya segala akibat dari perbuatan itu.


Kinanti membayangkan, bagaimana nanti ia jika sudah melahirkan anak itu. Bagaimana ia harus membesarkannya. Bagaimana anak itu nanti akan bisa mendapatkan berbagai macam dokumen penting nya. Bagaimana tenang masa depannya dan banyak lagi.


Kinanti sendiri juga telah banyak belajar dari teman-teman di pekerjaannya. Yang sudah berkeluarga. Dan bahkan dari mereka sudah ada yang bercerai.

__ADS_1


Ia tau, membesarkan anak itu tidaklah mudah. Sedangkan dirinya saat ini tidak terikat pernikahan. Bagaimana dengan nasib anaknya nanti.


Yang di tuntut oleh Kinanti dari Prasetya hanyalah kejelasan. Ia tidak ingin masalah itu menjadi boom waktu. Jika hal itu terus di rahasiakan. Karena menurutnya, Hanin cepat atau lambat juga pasti akan tau perbuatan suaminya.


Maksud Kinanti adalah, ia ingin agar Prasetya jujur sejujur-jujurnya tentang aib yang mereka pernah lakukan bersama dengan sang istri Hanin.


Jika dengan jujur dari awal, mungkin Hanin akan maklum. Dan tidak sampai membuat mereka akan berpisah.


Itulah yang menjadi pertimbangan Kinanti. Yang mungkin justru menjadi hal yang di takutkan oleh Prasetya.


Kinan hanya ingin kejujuran masalah ini dibuka secara terbuka oleh Prasetya. Karena kelak jika anak yang ia kandung telah lahir. Anak itu pasti membutuhkan sosok ayah.


Jika saja Prasetya sejak awal megambil sikap tegas tentang kejelasan sikapnya. Mungkin Kinanti akan sedikit merasa tenang.


Tapi nyatanya Prasetya tidak mengambil sikap yang tegas dan jelas terhadap nasib dirinya dan juga janin yang ia kadung.


Kemudian pikiran Kinanti kembali teringat dengan perkataan sang Ibu.


titipan memikirkan perkataan orang tuanya yang menginginkan dia pulang dan sebab itu kena tipu berpikir ia akan mungkin ia akan pulang kampung.


"Sudah sudah jangan sedih Nduk. Semua sudah terjadi. Jaga baik-baik kandungan mu. Ibu rembukan dulu sama Bapak. Kalau Bapak mu sudah ada keputusan. Nanti Ibu akan telepon kamu."


"Sebaiknya aku langsung pulang kampung saja besok. Persetan dengan pekerjaan." Ucap Kinanti mantap. Kemudian ia membaringkan kembali tubuhnya dan mencoba untuk tidur.

__ADS_1


__ADS_2