Maafkanlah Aku Istriku

Maafkanlah Aku Istriku
Dukungan keluarga


__ADS_3

Solo


Kinanti hanya bisa terdiam dan tertunduk wajahnya tanpa berani untuk memandang wajah Bapak dan ibunya. Ketika ia saat ini sedang di sidang di ruang tamu oleh kedua orang tuanya.


Sejak kepulangan Kinanti tadi pagi ke Solo. Malam ini Kinanti disidang oleh kedua orang tuanya mengenai kehamilannya.


Setelah berbicara panjang lebar pada Kinanti. Tentang kehamilan yang saat ini sedang di alaminya. Yang tanpa adanya seorang Pria yang mau bertanggung jawab secara terbuka. Membuat Pak Hadi, ayah Kinanti menjadi cukup geram dengan sikap Pria yang tak gentle itu.

__ADS_1


Dan pria yang di maksud Pak Hadi, tak lain ialah Prasetya.


"Bapak minta kamu segera angkat kaki dari perusahaan tempat kamu bekerja saat ini Kinanti." Ucap Pak Hadi, yang mulai menunjukan sikap tegasnya.


"Bapak tidak mau kamu bekerja lagi di tempat itu. Sudah cukup bagi Bapak untuk menilai bagaimana sikap dan tanggung jawab bos kamu itu. Bahkan saat dia sudah tahu kamu mengandung pun tidak ada etiket baik bos kamu itu untuk berkomunikasi dengan keluargamu, terutama Bapak. Dan oleh sebab itu Bapak sudah memutuskan. Tidak usah kamu meminta pertanggungjawaban kepada bos mu dalam bentuk apapun. Jika untuk nafkah, Bapak dan dirimu pasti bisa menafkahi anak itu nanti. Jika itu hanya berupa materi, kita masih sanggup. Jika dia tidak bisa menikahi mu sebagai bentuk pertanggungjawaban tidak masalah Nduk. Kamu tidak usah lagi merengek-rengek minta tangung jawab sama dia. Ini memang kesalahan mu dan dia. Maka dari itu, kita harus berani ambil resikonya. Mau di sesali kaya apa juga semua sudah terjadi. Mau salahkan siapa juga sudah percuma. Sekarang janin yang hidup di rahim mu itu anggap saja ia adalah anugerah dari Allah. Walaupun caranya salah. Lagi pula dia kan berat terhadap istri sahnya. Itu juga Bapak maklum. Biarlah Nduk, itu kehendak dia, itu kuasa dia. Justru di sisi lain, Bapak akan kasihan sama kamu. Jika kita menyuruh dia untuk bertanggung jawab dengan cara menikahimu. Tapi dia tidak mencintaimu, ke depannya kamu yang akan menderita batin. Jadi menurut Bapak, sudahlah kita hadapi sama sama ujian ini. Bapak sama ibu hadirkan untuk kamu Nduk." Tutur Pak Hadi pajang lebar.


"Benar apa kata Bapak Nduk. Kehamilan mu yang tidak kau sengaja ini anggap saja sebagai ujian bagi dirimu dan juga bagi keluarga kita. Bapak dan Ibu sudah iklas menerima aib ini. Di balik ujian ini, Bapak dan ibu anggap janin yang kau kandung saat ini sebagai anugerah. Karena bagaimanapun, anak yang kamu kandung itu adalah seorang bayi yang tidak bersalah. Kita harus membesarkan dan juga menyayanginya tanpa memperdulikan bagaimana dia bisa hadir. Semua sudah kehendak Allah. Tapi, dalam musibah ini. Kamu harus banyak intropeksi diri Nduk." Imbuh Bu Lilis.

__ADS_1


"Sebelum kamu pulang ke sini, Bapak dan Ibu sudah rembukan dan memikirkan ini baik baik." Imbuh Pak Hadi.


"Dengerin apa kata Bapak mu Nduk. Percuma nuntut bos mu untuk tanggung jawab. Jika bos mu saja hanya bisa bertanggung jawab memberikan tagung jawaban materi. Mending tidak usah kamu terima. Suatu saat dia akan mengungkit materi itu. Dan menjadikan itu sebuah senjata. Jika kelak ia ingin mengambil anak mu dengan alasan karena ia ayah kandungnya. Dan materi itu dia bisa menggunakan sebagai alasan. Ibu sudah memikirkan itu. Maka lebih baik, kita besarkan sendiri saja anak mu. Kami akan menyayanginya. Dan kamu juga bisa meneruskan kembali menjadi wanita karier. Untuk mencari uang demi membesarkan anak mu."


Kinanti sejak tadi mendengarkan dengan seksama semua nasehat yang sudah di berikan oleh kedua orang tuanya.


Dan kini, pikiran Kinanti pun semakin terbuka.

__ADS_1


__ADS_2