
Dengan sama sama berurai air mata. Hanin kemudian mendekatkan wajahnya dan ia memberi satu kecupan manis ke bibir Pras.
"InsyaaAllah Mas, Hanin akan selalu berada di sisi Mas Prasetya. Kita hadapi sama sama masalah ini." Ucap Hanin nampak pasrah.
"Terimakasih Hanin. Mas berjanji, akan meluruskan semua masalah ini. Dan Mas kedepannya akan lebih hati-hati dan tidak akan melakukan kesalahan yang sama. Cukuplah ini menjadi masalah terbesar dan terberat yang Mas hadapi." Timpal Prasetya, kemudian ia meraih tubuh Hanin dan memeluknya dengan erat.
🌸🌸🌸🌸🌸🌸
Setelah Hanin dan Prasetya sudah saling terbuka membicarakan masalah yang menerpa mereka. Kini keduanya sudah merasa sama sama tenang.
Di saat mereka sudah sama-sama tenang. Prasetya kemudian memeriksa jam yang ada di pergelangan tangannya.
Dan waktu kala itu telah menunjukkan jam pulang kerja.
Prasetya kemudian mengajak Hanin untuk pulang.
Saat Hanin dan Prasetya keluar dari ruangan. Semua karyawan tampaknya sudah pulang.
Sambil menggandeng tangan Hanin. Prasetya mengajak Hanin untuk bergegas menuju tempat parkir.
Sesampainya mereka di mobil, Prasetya kemudian membukakan pintu penumpang untuk Hanin.
Hanin tanpa bicara apapun langsung masuk ke kursi penumpang bagian depan.
Ketika Hanin hendak memakai sabuk pengamannya. Prasetya dengan cekatan memakaikan sabuk pengaman untuk Hanin.
Lagi lagi Hanin hanya bisa pasrah dengan perlakuan manis yang dilakukan oleh suaminya, Prasetya.
__ADS_1
Setelah memakaikan sabuk pengaman untuk Hanin. Prasetya kemudian mengitari mobilnya dan langsung masuk ke kursi kemudi.
Setelah itu Prasetya melajukan mobilnya untuk keluar dari parkiran gedung perkantorannya.
Ketika mobil yang di kendarai Hanin dan Prasetya baru saja keluar dari parkiran gedung. Tampaknya di luar sana tengah turun hujan dengan begitu derasnya.
Baru beberapa meter mereka meninggalkan gedung perkantoran.
Tanpa sengaja, mereka berpapasan dengan Kinanti yang berdiri sambil bersedekap di sebuah halte.
Sepertinya saat itu Kinanti sedang menunggu kedatangan bus.
Karena Kinanti setiap hari pulang dan pergi ke kantor dengan mengunakan moda transportasi umum.
Hanin yang saat itu sempat memperhatikan Kinanti yang tengah berdiri di sebuah halte. Kemudian melihat wanita itu dari kaca spion mobil Prasetya.
Hanin yang kala itu duduk di bangku penumpang bagian depan sebelah kiri. Bisa begitu jelas memperhatikan Kinanti.
Ketika Hanin memperhatikan wajah Kinan. Ada suatu perasaan sakit yang menyeruak timbul kembali di dada Hanin.
Sebuah perasaan sakit hati dan bercampur dengan perasaan iba.
Sebagai sesama wanita. Hanin bisa merasakan bagaimana rasanya saat hamil tapi dalam keadaan tanpa status. Hal itu pastinya akan menjadi stigma buruk bagi diri Kinanti sendiri.
Hanin membayangkan bagaimana rasanya jika sebuah kehormatan seorang wanita direnggut paksa oleh seseorang tanpa adanya sebuah hubungan yang sah.
Sejenak, Hanin menoleh ke samping. Ia menatap wajah sang suami yang saat itu sedang fokus menyetir.
__ADS_1
Pria di sampingnya itu lah yang telah mengambil keperawanan Kinanti. Meski dalam hal itu. Kinanti juga punya andil besar melakukan kesalahan terhadap dirinya sendiri.
Karena ia membiarkan Pras melakukan hubungan intim dengan dirinya. Meski mereka katanya sama sama dalam pengaruh minuman dan obat perangsang.
Bagi Hanin, saat ini Kinanti telah menjadi orang ketiga dalam rumah tangganya.
Dan, kehadiran orang ketiga bisa saja menjadi penghancur sebuah rumah tangga.
Meski sebelumnya rumah tangga itu terlihat baik baik saja.
Semua yang sudah terjadi sudah menimbulkan luka di hati Hanin. Yang selama ini begitu sangat percaya terhadap suaminya.
Di tengah-tengah perjalanan menuju rumah saat itu. Waktu telah menunjukan masuk salat magrib.
Prasetya kemudian membelokkan mobilnya ke sebuah tempat.
"Kenapa belok Mas?" Tanya Hanin pada suaminya.
"Kita salat magrib dulu ya. Takut nanti macet sampai rumah. Dan kita kehabisan waktu salat magrib." Ujar Prasetya yang kemudian ia memberhentikan mobilnya tepat di halaman sebuah masjid yang berada di sisi jalan.
Hanin pun menurut. Kini mereka berdua keluar dari mobil dan berjalan beriringan menuju masjid.
Sesampainya mereka di dalam masjid. Mereka kemudian melakukan salat berjamaah bersama. Dan Prasetya menjadi imamnya.
Setelah mereka melakukan salat berjamaah. Prasetya dan Hanin sejenak tetap berada dalam posisinya.
Mereka nampak menengadahkan kedua tangan mereka. Sepertinya mereka sedang berdoa.
__ADS_1