
Seperti biasa seusai sarapan pagi, Prasetya dengan diantar oleh Hanin berjalan sama sama menuju garasi. Hanin selalu mengantarkan sang suami sampai ke garasi untuk berangkat ke kantor.
Setiap kali Prasetya hendak pergi bekerja, ia selalu mencium kening sang istri dan Hanin mencium tangan Prasetya.
Ritual itu sudah mereka berdua jalani selama mereka menikah.
Prasetya juga menambahkan memberikan kecupan pada kedua pipi Hanin dengan sayang.
Ritual pagi seperti itulah yang selalu dilakukan oleh pasangan suami istri yang selalu terlihat harmonis tersebut.
Sesuai berpamitan, Prasetya langsung masuk mobil dan bersiap meninggalkan rumah untuk pergi bekerja.
Prasetya sudah terbiasa menyetir sendiri mobil nya. Ada satu mobil lagi yang sudah ia siapkan untuk Hanin. Dan Pras juga memperkejakan seorang sopir yang akan membantu sang istri bila akan berpergian.
Di tengah-tengah perjalanan menuju kantor kala itu. Prasetya yang sedang melintasi sebuah halte, dari kejauhan melihat Kinanti yang saat itu tengah berdiri. Dan seperti biasanya pasti ia sedang menunggu bus.
Sebenarnya Prasetya tidak ingin memberikan tumpangan kepada Kinanti.
Tapi karena ada beberapa hal yang ingin Ia tanyakan secara pribadi kepada Kinanti. Membuat Prasetya kemudian menghentikan mobilnya tepat di depan halte.
Dengan membuka satu jendela kaca mobilnya. Prasetya menyuruh Kinanti masuk ke dalam mobil.
Awalnya Kinanti menolak. Tapi karena Pras bilang jika ia ada sesuatu yang ingin dibicarakan. Kinanti kemudian menerima tawaran tumpangan yang diberikan oleh Prasetya untuk dirinya.
Kinanti kemudian masuk dan duduk di kursi penumpang bagian belakang. Ia merasa tidak enak jika harus duduk di bangku bagian depan.
Karena duduk bersebelahan dengan Pria penuh pesona itu akan membuat hati Kinanti jadi tidak normal.
Dan ia saat ini sedang berusaha untuk melawan rasa itu pada Prasetya.
__ADS_1
Meski itu suatu hal yang tidak mudah.
Aku menyukai mu Pak Prasetya, tapi aku tidak boleh melakukan itu pada anda. ucap Kinan dalam hati.
Kenapa aku harus menyukai suami orang. Ini bukan kehendak ku. Aku tidak mau. Tapi kenapa rasa suka itu tidak bisa aku halau. Aku tau cinta ini terlarang. Karena Pak Pras sudah beristri. ucap lagi Kinanti membatin.
Setelah Kinanti masuk, Prasetya langsung kembali melajukan mobilnya untuk menuju kantor.
Sambil mengendarai mobilnya menuju kantor. Prasetya kemudian menanyakan sesuatu kepada Kinanti.
"Kinan, ada beberapa hal yang ingin aku tanyakan sama kamu. Tadi malam Hanin sudah bercerita kepadaku tentang apa yang sudah kalian obrolan kemarin. Kata Hanin, ada seseorang yang menyuruh mu untuk mengantarkan aku ke kamar hotel pada malam itu. Apa benar, ada seorang yang menyuruh mu untuk membawa ku ke kamar hotel pada malam itu?" Tanya Prasetya, yang ingin mendengar langsung dari mulut Kinanti.
"Iya Pak, Pak Murad mendatangi meja saya kala itu. Dan dia menyuruh saya untuk menuju meja Bapak. Dan Bapak pada saat itu sudah dalam keadaan mabuk. Bahkan Bapak sempat tidak sadarkan diri. Jadi, saya memapah Bapak untuk pergi ke kamar Bapak."
"Apa Murad juga ikut mengantar ke kamar hotel?"
"Tidak Pak, Pak Murad tidak ikut mengantar. Hanya saya sendiri yang membawa Bapak." Prasetya kemudian mengangguk paham.
"Saya tidak mencurigai apapun Pak"
"Kamu pernah bilang, jika saat itu kamu merasakan sesuatu pada diri mu. Kinanti, aku ingin kita bekerja sama untuk menyelidiki kasus ini. Karena aku sedang mencurigai sesuatu. Dan aku yakin, kita sedang di jebak. Aku mau bertanya, apa yang kamu rasakan saat itu?"
Saat ditanya seperti itu, Kinanti terdiam. Tapi karena Prasetya sudah bertanya, maka dia pun juga harus menjawab.
"Jawablah apa adanya Kinanti. Karena aku sudah menyelidiki sesuatu sekarang."
"Ya Pak, saat itu saya merasakan sesuatu terjadi pada diri. Saya seumur hidup, tidak pernah merasakan hal itu. Saat saya melihat Bapak, timbul sebuah gairah yang sebelumnya tidak pernah saya rasakan. Dan itu sangat kuat. Saya sendiri tidak bisa mengatasinya. Dan saya merasa senang bersama Bapak."
"Oke, cukup, saya paham." Ucap Pras.
__ADS_1
"Apa kamu meminum sesuatu pada malam itu?"
"Saya hanya minum soft drink Pak. Itu pun juga bersama dengan kawan-kawan yang lain."
"Aku harap, kamu bisa diajak kerjasama untuk membongkar kejanggalan demi kejanggalan yang terjadi di antara kita."
"Iya Pak," Jawab Kinanti selalu patuh.
Setelah menanyakan pertanyaan itu. Prasetya memfokuskan diri untuk menyetir.
Keheningan terjadi di antara mereka berdua.
Karena saat itu jalanan sedikit macet, sehingga membuat waktu tempuh untuk menuju kantor menjadi sedikit lebih lama.
"Bagaimana dengan kandungan mu? Apa semua baik-baik saja?" Prasetya tiba-tiba menanyakan tentang kandungan Kinanti.
Mendapat pertanyaan pribadi seperti itu. Entah kenapa hati Kinanti merasa senang.
Kinanti merasa mendapat perhatian lebih dari Pria yang ia kagumi.
Meskipun ia tahu, perhatian itu hanya untuk anak Prasetya yang saat ini sedang ada di rahimnya. Walau begitu, sudah membuat hati Kinanti hangat.
"Saya belum memeriksakannya kembali Pak. Terakhir saya memeriksakannya sebulan yang lalu. Dan rencananya nanti sore saya akan memeriksakan kandungan saya."
"Semoga hasilnya bagus dan dia juga sehat."
"Iya Pak, saya harap juga begitu."
Setelah itu, tidak ada lagi pembicaraan di antara mereka.
__ADS_1
Sesampainya di gedung perkantoran. Prasetya menyuruh Kinanti untuk keluar dari mobil terlebih dahulu.
Karena ia tidak ingin keluar sama-sama. Prasetya tidak ingin ada gosip.