
"Pada malam itu, saya juga mabuk Pak. Jadi, stop menuduh saya, kenapa saya tidak melawan keinginan Bapak pada malam itu. Kita sama sama tidak sadar melakukannya. Jadi, buang jauh jauh tuduhan Bapak. Stop salahkan saya." jawab Kinanti dengan sedikit bernada tinggi.
Dan, sedetik kemudian, bulir bulir bening air mata berjatuhan dari pelupuk mata Kinanti. Wanita yang sudah tidak perawan itu hanya bisa menangis.
"Saya memang bodoh Pak." ucap lagi Kinanti sambil menundukkan kepalanya sambil terisak-isak.
Prasetya kini mengangguk paham, Ia lalu menarik sebuah tissue dan memberikannya pada Kinanti. Untuk mengusap air matanya.
"Maafkan aku Kinanti. Aku ingin bertanya lagi kepadamu. Apakah pada saat kita melakukan hubungan itu, itu adalah yang pertama untukmu?" tanya Prasetya lembut.
"Iya Pak, itu yang pertama kali bagi saya." Jawab Kinanti yang terus menundukkan kepalanya.
Prasetya nampak merasa sedih. Sedih karena dirinya telah merenggut kesucian seorang gadis dengan paksa. Dengan cara yang tidak senonoh, dan bahkan bagi Prasetya itu sangat memalukan.
Tapi semuanya sudah terjadi, dan tidak bisa kembali lagi seperti semula.
"Aku menyesali semua perbuatan ku terhadap mu Kinanti. Meski aku telah minta maaf, aku tau. Sesuatu yang berharga dari mu tidak akan bisa kembali. Tapi, aku tidak bisa berbuat apa-apa."
__ADS_1
"Semoga saja saya tidak hamil." jawab Kinanti. Saat Kinanti membahas hamil, ingatan Prasetya langsung tertuju pada mimpinya saat itu.
"Aku sudah beristri Kinan. Aku sangat mencintai istri ku. Aku tidak mungkin bisa bertanggung jawab untuk sesuatu yang mungkin nanti akan terjadi dengan mu."
"Sebaiknya kita tidak perlu bicarakan hal ini Pak. Semoga saja tidak terjadi apa-apa dengan saya. Saya sudah menerima ini semua. Bapak tidak perlu kawatir. Saya tidak kan membongkar rahasia ini." jelas Kinanti.
Prasetya kemudian berdiri dan berjalan menuju meja kerjanya. Ia terlihat mengambil sesuatu dari dalam laci kerjanya.
Setelah Prasetyo mengambil sesuatu dari dari dalam laci tersebut. Prasetya kemudian berjalan kembali ke kursinya.
"Ini adalah cek, isinya 50 juta. Jangan kau salah artikan dulu aku memberikan uang ini kepadamu. Anggap saja uang ini adalah uang kompensasi untuk kesucian mu yang sudah aku renggut. Mungkin nilai uang ini tidak bisa menggantikan apapun dan tidak nilainya tidak sebanding dengan kesucian mu yang telah hilang. Tapi aku berikan uang ini kepadamu dengan ikhlas. Terimalah uang ini, gunakanlah untuk keperluan mu." ujar Prasetya, sambil menyodorkan sebuah cek yang sudah ia tanda tangani dengan nilai 50 juta kepada Kinanti.
Kinanti hanya memandangi lembaran kertas yang tertuliskan nominal 50 juta tersebut dengan expresi wajah datar.
Sejenak, Kinanti memberanikan diri untuk menatap mata Prasetya.
Mata yang ber iris kan hitam pekat itu memang mempunyai ketampanan luar biasa. Yang akan membuat setiap wanita yang memandangnya akan jatuh hati terhadap pria gagah tersebut.
__ADS_1
"Maaf Pak, saya tidak bisa menerima uang ini." ucap Kinanti, kemudian ia menggeser kembali cek itu ke arah Prasetya.
"Tidak apa-apa Kinanti. Aku ikhlas memberikannya untukmu. Dan seperti kataku tadi, anggap saja uang ini adalah uang kompensasi yang aku berikan untukmu. Karena aku telah mengambil kesucian mu. Meskipun uang ini tidak sepadan dengan itu." jelas Prasetya lagi.
"Tapi saya tidak menjual keperawanan saya Pak. Kejadian kemarin itu itu pure kesalahan kita berdua. Dan saya akan menanggung semuanya. Maaf Pak saya tidak bisa berlama-lama di sini. Saya permisi." ucap Kinanti, yang kemudian ia langsung berdiri dan berlalu begitu saja dari hadapan Prasetya.
Sesampainya di ruang kerjanya, Kinanti benar-benar dihadapkan pada suatu perasaan yang sangat campur aduk.
Dirinya merasa sangat emosional ketika ia membahas tentang kesuciannya tadi di ruang kerja Prasetya.
Jika saja memang tidak akan terjadi sesuatu dengan dirinya, mungkin Kinanti akan merasa baik-baik saja.
Tapi, di sisi lain, bagaimana jika terjadi sesuatu dengan dirinya.
Semisal dirinya hamil. Bagaimana Kinanti akan meminta pertanggung jawaban Prasetya. Sedangkan Pria itu sudah berkeluarga.
Itulah yang kini sedang Kinanti pikirkan. Yang akhirnya membuat Kinanti dilanda kerisauan.
__ADS_1