Maafkanlah Aku Istriku

Maafkanlah Aku Istriku
Keputusan Hanin


__ADS_3

"Kita sebagai seorang wanita kita pasti akan merasa bangga menjadi yang pertama dan yang terakhir dalam sebuah hubungan pernikahan. Pasangan kita bukanlah seseorang yang sempurna. Terkadang mereka melakukan kesalahan. Setiap rumah tangga miliki ujiannya masing-masing Han. Dan sekarang, keputusan itu ada pada dirimu. Nasib Prasetya ada di tangan mu. Kamu ingin bercerai atau mempertahankan rumah tangga mu, semua ada di tangan mu." Imbuh Sisilia.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Sepeninggal Sisilia dari rumahnya. Perasaan Hanin malah semakin menjadi bimbang.


Ia menyadari hubungan emosional dan kedekatannya bersama sang suami tidaklah mereka melalui dengan begitu buruk sebelumnya.


Hanin bahkan sangat tunduk, patuh serta begitu bersyukur di nikahi seorang pria hangat dan lembut seperti Prasetya Wijaya.


Suaminya itu bahkan nyaris sempurna.


Mereka dulu menikah disaat mereka belum sama sama saling mencintai.


Cinta itu tumbuh di hati keduanya setelah mereka sama sama belajar untuk bisa saling mencintai setelah mereka sah menjadi sepasang suami istri. Mereka pacaran setelah menikah halal.


Dan setelah itu, bukan hanya sekedar saling mencintai. Mereka sama sama merasa saling tergantung satu sama lain.


Hanin sangat tergantung pada Prasetya dalam hal kasih sayang yang begitu melimpah yang Pras pernah berikan padanya.


Dan bagi Pras, ia sangat tergantung dengan cara Hanin yang begitu lembut memperlakukannya sebagai seorang suami.


Dari sana, hubungan emosional antara Hanin dan Prasetya begitu kuat terjalin.


Hanin membenarkan kata kata Sisilia yang mengatakan bahwa. Ia masih menaruh perasaan terhadap suaminya.


Tapi saat ini, perasaan itu seolah-olah tertutupi dengan rasa kekecewaan terhadap sang suami yang melakukan sebuah kesalahan fatal dengan sudah bersentuhan dengan wanita lain.


Cemburu, sakit hati, tidak terima. Hal itulah yang di rasakan Hanin saat ini. Dan hal itu membuat Hanin menjadi krisis kepercayaan terhadap Prasetya.

__ADS_1


Ketika Hanin terlamun di atas tempat tidur. Seseorang membuka pintu kamarnya dengan perlahan. Membuat Hanin terperanjat.


Saat melihat yang datang adalah Prasetya sambil menggendong Ali di pundaknya. Membuat Hanin langsung bangkit dari ranjang.


Ia kemudian berjalan ke sisi rajang untuk menyibakkan bedcover yang menutupi tempat tidur.


Dengan perlahan, Prasetya menidurkan Ali di rajang yang sudah di siapkan oleh Hanin.


"Dia kelelahan dan terlalu asik bermain tadi. Sampai sampai ia ketiduran saat pulang." ucap Prasetya seraya menyelimuti Ali.


"Terimakasih sudah ajak dia jalan jalan." sahut Hanin.


"Kau ini bicara apa. Aku kan ayahnya. Tidak perlu ada kata terima kasih untuk membahagiakan anak sendiri. Aku senang melakukan." jawab Pras.


Hanin kemudian berjalan ke sisi rajang yang lain. Lalu ia duduk di sana. Sejenak suasana di kamar menjadi hening.


Prasetya kemudian berjalan ke sisi ranjang dan ikut terduduk persis di hadapan Hanin.


"Mas bicara saja, aku akan mendengarkan." jawab Hanin datar.


"Kita cari tempat ngobrol yang enak. Kalau ngobrol di sini takut membuat Ali bangun." sergah Prasetya.


Hanin pun kemudian berdiri dan berjalan kearah pintu kamar. Prasetya kemudian mengekor di belakang Hanin.


Di teras, di sisi kolam renang. Menjadi pilihan sepasang suami istri yang masih tegang itu saling mengobrol.


Hanin duduk di sebuah bangku yang terpisah dengan Prasetya. Hanin hanya diam dan tak banyak bicara. Sedangkan Prasetya lah yang berusaha untuk terus mengajak Hanin berkomunikasi.


"Aku merindukanmu Han." kata kata Prasetya terdengar seperti penuh pengharapan.

__ADS_1


"Sampai kapan kita akan seperti ini. Aku tersiksa sekarang. Jauh dengan diri mu, dengan Ali. Aku ingin kembali mendekap kalian. Aku ingin kembali memikul tanggung jawab sebagai seorang suami yang baik. Aku hanya manusia biasa yang tidak sempurna. Sebelum semua ini terjadi. Kamu tahu, apa yang paling membuat aku selalu bersemangat dan ingin cepat pulang selepas aku berkerja seharian." tanya Pras mencoba memancing sang istri. Tapi Hanin hanya diam tak menyahut.


"Aku selalu bersemangat pulang karena aku ingin melihat wajah mu. Saat aku melihat wajahmu. Semua penat dalam diriku seakan pergi. Terusir hanya karena aku memandang wajah mu Hanin. Wajah teduh mu sangat membuat ku tenang. Saat aku menikahimu dulu. Aku seperti mendapatkan sebuah ketenangan jiwa. Jiwa sebagai seorang laki-laki ku terasa sangat terpenuhi kebutuhannya. Menikahimu juga tidak hanya aku mendapatkan kebutuhan seksual. Tapi lebih dari itu. Aku mendapatkan semuanya. Keberhasilan dalam bisnis, kemapanan hidup, kebahagiaan, kehangatan, ketenangan. Semua itu aku genggam Hanin selama kita bersama. Tapi, di saat kita sedang seperti ini. Beberapa rasa itu tidak lagi aku rasakan. Aku hampa, kesepian dan sendiri. Berilah aku kesempatan untuk yang terakhir kali Han. Aku akan buktikan kali ini aku tidak akan menyia-nyiakan kamu."


"Misal Mas mau mendapatkan kehangatan, kebahagiaan dan lain-lain itu. Mas bisa mendapatkannya dari wanita lain." Jawab Hanin ketus.


"Aku hanya ingin kamu Hanin." Jawab Pras tegas.


"Jangan paksa aku Mas. Jika aku sudah tidak ingin bersama Mas lagi."


"Kamu tidak akan melakukan itu."


"Kenapa tidak." sahut Hanin bersikeras.


Prasetya kemudian berdiri dan berpindah duduk di sisi Hanin.


Sambil merangkul bahu Hanin dari belakang. Pras masih berusaha untuk membuat istrinya itu luluh padanya.


"Kau tidak akan bisa hidup tanpa aku. Begitu pula sebaliknya."


"Mas tidak bisa egois menentukan pilihan ku."


"Aku tidak pernah berselingkuh Haningrum. Kesalahan ku adalah buah dari ke Khilafan ku. Aku tidak pernah berkomunikasi dengan dia di luar tugas pekerjaan saat dia masih menjadi sekertaris ku. Dan kejadian di Solo. Jujur, aku tergoda dengan rayuannya. Saat itu aku khilaf padanya. Dia mendekatkan wajahnya pada ku. Dan aku melihat dia itu seolah olah adalah kamu."


"Stop Mas. Jangan perumpamaan dia adalah aku." Protes Hanin. Kemudian ia berdiri. Berusaha lepas dari rangkulan Prasetya.


"Maaf, bukan seperti itu maksud ku Han." Prasetya kini sudah berdiri tepat di belakang Hanin.


"Mas, masih atau tidak nya perasaan aku terhadap Mas Pras. Hubungan kita sudah tidak sama seperti dulu. Aku pikir kesalahan pertama itu akan menjadi pelajaran buat Mas untuk tidak melakukan hal itu lagi. Tapi ternyata. Mas justru melakukan itu dengan sadar. Mas bayangkan saja, bagaimana aku sebagai seorang wanita akan bisa menerima jika suaminya menikmati bercumbu dengan wanita lain. Buktinya Mas Pras sudah berjanji tapi Mas ingkar lagi. Tidak ada yang bisa menjamin Mas tidak akan melakukan hal itu lagi kan."

__ADS_1


"Yang sudah terjadi oke, aku mengakui itu Han. Aku salah. Berikan aku kesempatan lagi."


"Berapa kali aku harus kasih kesempatan. Memang aku patung ya Mas. Yang tidak punya perasaan. Aku sudah memutuskan untuk menggugat cerai Mas Prasetya. Setuju apa tidak setuju aku akan tetap pada keputusan ku. Dan asal mas tau. Aku punya bukti untuk menguatkan dasar gugatan cerai yang akan aku ajukan ke pengadilan. Dan Mas tidak akan bisa menyangkalnya. Dan hakim pun pasti akan menyetujui gugatan ku. Jadi, jika Mas menolak begitu keras gugatan cerai ku. Mas tidak akan menang." ucap Hanin, yang kemudian ia langsung pergi begitu saja meninggalkan Prasetya.


__ADS_2