Maafkanlah Aku Istriku

Maafkanlah Aku Istriku
"Aku belum memaafkan mu"


__ADS_3

Baru saja Hanin ingin menarik tangannya. Pras justru menarik tangan Hanin.


Pras kemudian me re mas kedua tangan Hanin dan menyatukan tangannya dengan tangan Hanin.


Dengan berlumuran sabun. Akhirnya kedua tangan pasangan suami-istri itu saling bertautan.


"Izinkan aku mencuci tangan mu dengan benar." sergah Pras.


Lalu Pras pun me re mas dan menggosok punggung tangan Hanin dengan lembut.


Karena tangan Hanin di genggam begitu erat oleh Pras. Membuat Hanin kini jadi pasrah saat tangannya dicucikan oleh Prasetya.


Dan saat itu pula, debaran hati keduanya seolah olah bermain kembali.


Dengan masih saling bertatapan. Iris mata Prasetya nampak menghujam begitu dalam ke arah iris mata Hanin. Yang pada saat itu ia juga sedang memandang Prasetya.


Dengan lekat, kedua mata itu seolah-olah saling bicara dalam diam.


Hati mereka sampai detik ini mungkin masih menyatu. Tapi emosional dalam diri mereka sebenarnya sedang berperang.


Tidak ingin terbawa suasana, Hanin kemudian melegoskan pandangannya ke arah lain.


Kemudian Hanin menarik tangannya, karena dirasa tangannya sudah bersih.


Tanpa bicara sedikitpun, Hanin kemudian pergi ke dapur untuk mengambil piring.


Setelah itu ia kembali ke meja makan dan menaruh makanan yang ia bawa tadi ke piring.


Lalu, ia meletakkannya piring tersebut tepat di hadapan Prasetya.


"Jangan pergi dulu. Kamu harus duduk di sini, temani aku makan." ujar Prasetya sambil menahan langkah Hanin dengan memegang tangan istrinya.


Karena saat ini ia sedang berada di rumah mertuanya. Hanin merasa tidak enak jika dilihat mertuanya tidak bersikap dengan baik pada Prasetya.


Hanin pun kemudian duduk di kursi di samping Prasetya.


Pras pun kini makan dengan begitu lahapnya sambil di temani Hanin.

__ADS_1


"Kamu mau?" Tanya Pras, sambil mengarahkan sendok yang sudah berisikan makanan ke mulut Hanin.


"Untuk mas Pras saja. Aku tadi sudah makan di rumah."


"Bagaimana kabar Ali? Pasti dia menanyakan aku. Besok pagi sebelum aku ke kantor, aku mampir ya ke rumah mu. Aku kangen sama anak ku." Tutur Prasetya sambil menikmati makanannya.


"Kamu tau tidak Han. Selama kamu tidak ada di rumah. Setiap pagi kegiatan ku sekarang membereskan tempat tidur saat aku sudah bagun. Aku juga membersihkan kamar kita. Kamar itu sekarang menjadi dingin. Tidak sehangat saat kamu ada bersama ku di setiap malamnya. Aku tau kamu masih marah sama aku, aku mengerti. Hanya saja, aku kangen saat saat di mana kita setiap malam tidur dengan saling berpelukan. Dan,"


"Sudah apa belum makannya! Jangan malah berdongeng seperti itu." sela Hanin, karena ia tau kearah mana pembicaraan sang suami.


"Maaf, kan aku cuma curhat Han." pungkas Prasetya.


Pras kemudian memperhatikan tangan Hanin. Dan di sana, ia melihat cincin pernikahannya masih dipakai oleh Hanin.


Dan hal itu cukup membuat Pras tersenyum bahagia. Karena Hanin masih mengenakan cincin pernikahan mereka.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Malam itu, seusai Hanin berkunjung di rumah sang mertua. Hanin yang kalah itu hendak pulang kembali ke rumah dengan menaiki taksi dilarang oleh Prasetya.


Setelah berpamitan pada Bu Damayanti. Hanin dan Prasetya kemudian berjalan menuju mobil.


Prasetya membukakan pintu mobil untuk Hanin. Hanin pun langsung bergegas masuk ke kursi penumpang bagian depan.


Setelah itu, Pras segera bergegas masuk ke kursi kemudi untuk menjalankan mobilnya.


Selama dalam perjalanan, keduanya saling diam.


Tidak ada yang saling bicara. Sebenarnya Pras menunggu Hanin untuk membicarakan sesuatu. Tapi sepertinya Hanin memilih untuk tidak mengatakan apapun.


Prasetya sengaja mengendarai mobilnya tidak begitu cepat. Karena ia ingin merasakan kebersamaan bersama sang istri lebih lama.


Sebenarnya Hanin ada sesuatu yang ingin ia bicarakan pada Prasetya. Ia berkeinginan untuk menjadi asisten dosen yang akan mengajar di universitas tempat ia dulu berkuliah.


Hanin sudah memikirkan hal itu. Tapi, bagi Hanin. Untuk dapat melakukan apa yang ia inginkan. Ia harus mendapatkan persetujuan dari sang suami yaitu Prasetya.


Meskipun saat ini ia masih perang dingin dengan suaminya itu. Tapi Hanin tetap tidak ingin melakukan sesuatu tanpa persetujuan Pras.

__ADS_1


Dan akhirnya, Hanin berniat untuk mengatakan hal itu pada Pras. Mumpung mereka saat ini sedang bersama.


"Mas, bisa tepikan mobilnya sebentar. Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan sama mas Pras." ucap Hanin, begitu mendengar perintah sang istri untuk menepikan mobil. Pada saat itu juga Pras langsung mencari tempat yang aman untuk menepikan mobilnya.


"Kamu mau bicarakan apa Han, katakanlah." Ucap Prasetya yang saat ini ia sudah menghadapkan badannya ke arah Hanin.


"Sebelumnya aku minta maaf. Jika mungkin rencana ini tidak aku diskusi kan dulu sama Mas. Sejujurnya, Hanin sedang ingin menjadi asisten dosen di universitas tempat aku dulu berkuliah. Aku minta sedang di mintai tolong oleh Pak Purnomo untuk mengantikan beliau mengajar sementara waktu. Karena beliau saat ini sedang berobat. Aku harap, Mas Prasetya mengizinkan Hanin untuk mengajar." terang Hanin pada Prasetya minta izin.


Mendengar hal itu. Pras pun kemudian berfikir.


"Kalau mengajar, siapa yang jaga Ali. Kamu di rumah saja Han. Nanti uang bulanan mu akan aku tambah lima kali lipat." Ujar Prasetya.


"Ini bukan soal uang Mas. Sama sekali tidak."


"Lalu untuk apa?"


"Aku kan di mintai tolong Oleh Pak Purnomo. Ya aku hanya ingin membantu saja. Dan aku juga ingin berbagi ilmu serta pengalaman. Aku butuh suatu kesibukan untuk mengalihkan perhatianku Mas. Karena sejauh ini aku masih belum mampu untuk mengalihkan perhatianku untuk memikirkan kejadian itu. Maksudku, masalah di antara kita masih membebani ku dan aku butuh melakukan sesuatu untuk mengalihkannya. Aku butuh kesibukan." ucap Hanin, sambil menoleh ke arah Prasetya.


Prasetya kemudian mengamati wajah Hanin. Ia melihat, masih ada rasa kesedihan yang di sembunyikan di balik wajah ayunya.


Pras kemudian meraih tangan Hanin. Lalu ia menggenggamnya dengan erat. Prasetya paham dengan kondisi yang di alami istrinya.


"Aku tidak bisa memberikan jawaban itu sekarang. Aku akan memikirkannya nanti. Tapi, sebelumnya aku berterimakasih pada mu Hanin. Karena kamu masih menganggap aku sebagai seorang suami. Dan meminta izin padaku untuk melakukan sesuatu."


Hanin kemudian menarik tangannya dari genggaman Prasetya.


"Bagaimanapun, kita masih terikat pernikahan.. Sudah sewajarnya aku minta izin sama Mas. Meskipun kita masih perang dingin." tutur Hanin.


Pras kemudian terkekeh saat mendengar Hanin mengatakan mereka sedang perang dingin.


"Aku sedang tidak berperang dingin dengan mu sayang. Justru aku saat ini berjuang merebut hati mu kembali. Jika kau beranggapan kita perang dingin. Justru aku sudah mengalah dulu an. Kamu yang memang dan aku kalah. Han, pulanglah. Tidak apa kamu tidak tidur sekamar dengan ku. Kamu bisa tidur di kamar tamu atau kamar Ali. Asalkan kamu pulang. Aku akan senang." tutur Pras.


"Maaf Mas, aku belum bisa kembali pulang." jawab Hanin tegas.


"Kenapa?"


"Jangan tanya kenapa. Kita belum berdamai untuk masalah kita. Jika saat ini aku mau berbicara lagi dengan mas Prasetya. Itu karena ada beberapa hal yang memang harus kita bicarakan. Sampai sekarang aku belum memaafkan mas Pras. Jadi, jangan anggap aku sudah memaafkan mu Mas." Tutur Hanin memberikan menegasan akan sikapnya.

__ADS_1


__ADS_2