
Mas, Ali kangen sama Mas Prasetya. Jika Mas Prasetya ada waktu. Tolong ke rumah jemput Ali dan ajak dia pergi. Tapi aku tidak ikut. Kalian saja yang pergi.
Tulis Hanin pada Prasetya lewat pesan singkat.
Prasetya yang saat itu masih termenung sendiri di sisi jendela kamar. Meraih ponselnya yang simpan di saku celananya.
Ia kemudian membaca pesan yang Hanin tulis untuknya.
Iya, aku akan ke rumah dan ajak Ali pergi. Suruh Ali bersiap saja. Balas Prasetya.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Satu jam kemudian. Prasetya telah sampai di depan rumah Hanin.
Dari dalam mobilnya, Prasetya bisa melihat. Sepertinya Ali sudah siap untuk pergi.
Pras kemudian keluar dari mobil dan melambaikan tangannya pada sang putera Ali.
Saat Ali melihat ayahnya sudah datang. Ia terlihat begitu girang sampai ia melonjak lonjak di samping Bundanya Hanin.
Yang memang sejak tadi telah menunggui kedatangan Pras di teras rumah.
Hanin kemudian mengantar Ali untuk naik ke mobil Prasetya.
"Hai anak Ayah. Wah, ganteng sekali kamu sayang hari ini. Kangen pergi sama Ayah ya." sapa Pras yang langsung memeluk Ali. Karena sudah beberapa hari mereka tidak bertemu.
"Ali kangen Ayah." ucap Ali yang kemudian memeluk leher sang Ayah, Prasetya.
"Bunda, kenapa Bunda tidak ikut. Bunda ikut saja, pasti lebih seru kalau Bunda ikut." celoteh Ali, meminta Hanin untuk ikut serta.
"Bunda nanti ada kedatangan tamu temen nya Bunda sayang. Jadi Ali perginya sama Ayah saja ya." jawab Hanin dengan lembut.
"Teman! Teman siapa?" Tanya Pras nampak ingin tau.
"Temen Hanin waktu kuliah." Jawan Hanin singkat.
Kemudian Hanin menoleh ke arah Pras yang sedang bertanya padanya.
"Perempuan apa laki laki?" tanya Pras lagi.
"Perempuan, memangnya kenapa Mas?" tanya Hanin menyelidik ingin tau.
__ADS_1
"Tidak ada apa apa. Aku hanya bertanya saja. Ya sudah kalau begitu. Aku ajak Ali jalan jalan dulu."
Prasetya kemudian menaikan Ali pada carseat yang ada di kursi penumpang bagian belakang mobilnya. Yang sudah Pras siapkan sebelumnya dari rumah.
"Aku pergi dulu Han." ucap Pras sambil tersenyum manis pada sang istri.
"Iya Mas, hati hati." Jawab Hanin.
Pras kemudian berjalan kembali ke kursi kemudinya. Setelah itu ia segera berlalu dari rumah Hanin membawa Ali untuk pergi jalan jalan.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Sepeninggal Prasetya pergi, seseorang datang bertamu di rumah Hanin. Seseorang itu adalah Sisilia.
Sisilia adalah seorang pengacara. Ia teman Hanin ketika mereka kala itu masih berkuliah.
Sisilia juga berkantor di firma hukum yang sama dengan Julian Antony.
"Sebenarnya apa yang ingin kamu bicarakan dengan ku Han. Kamu ini kan orang nya anti curhat. Saat kamu menelpon ku dan ingin curhat. Aku seperti tidak percaya. Tapi aku sungguh penasaran dengan masalah mu." tutur Sisilia pada Hanin. Ketika mereka sudah bertemu di ruang tamu.
"Kita bicara di kamar ku saja ya. Karena ini urusan pribadi." ucap Hanin pada Sisilia.
Kemudian Hanin mengajak Sisilia untuk pergi ke kamarnya.
Setelah mereka sampai di kamar. Hanin mempersilahkan Sisilia untuk duduk.
Di atas tempat tidurlah dua sahabat itu kini saling mengobrol.
Hanin kemudian mulai menceritakan apa yang menjadi unek-uneknya pada Sisilia.
Karena bagi Hanin. Sisilia adalah orang yang tepat untuk diajak berkomunikasi tentang langkah apa yang akan ia lakukan ke depannya.
Mengenai nasib pernikahannya dengan Prasetya.
Hanin butuh konsultasi dengan seseorang yang ahli dalam bidangnya.
"Sebenarnya aku dan suamiku sedang ada masalah. Masalah yang sangat pribadi. Dan masalah yang umum terjadi dalam sebuah pernikahan. Entah, bagaimana aku harus memulai membicarakan ini. Tapi intinya adalah, suamiku berselingkuh. Walaupun secara teknis dia tidak mengakuinya dan tidak melakukan itu. Ini memang aib pernikahan kami. Tapi aku perlu bicara dengan seseorang yang ahli dalam bidang ini. Dan itu kamu Sisil."
"Seberapa dalam suami mu mengkhianati mu Han?" tanya Sisil.
"Maksudnya?" Hanin nampak tidak begitu paham dengan maksud Sisil.
__ADS_1
"Maksud ku, seberapa dalam kotak fisik dan kedekatan suami mu dengan wanita itu." jelas Sisilia
Hanin kemudian menghela nafas berat mendengar pertanyaan sahabatnya.
"Mereka pernah melakukan sebuah hubungan intim. Wanita itu kini tengah mengandung anak suami ku. Kesalahan yang pertama aku masih bisa memaafkan. Tapi untuk kejadian yang kedua kalinya aku tidak bisa memaafkannya. Sepertinya sulit untuk mengatakan "Iya aku maafkan suami ku.". Hatiku terlalu sakit dan hancur saat melihat suami ku melakukan kesalahan yang sama seperti yang ia lakukan pada kesalahan yang kedua."
"Aku mengerti Hanin kasus mu saat itu. Lalu apa keputusanmu sekarang?" Tanya Sisilia langsung pada keputusan yang mungkin Hanin sudah ambil.
Mendengar pertanyaan itu. Hanin kemudian menatap wajah Sisilia begitu lekat.
"Aku ingin bercerai dengan suami ku." jawab Hanin dengan tatapan mata ragu ragu.
"Apa kamu serius. Dengan keputusan yang akan kamu ambil. Sejauh ini kalian adalah pasangan yang sangat serasi. Gesture yang kalian miliki sering membuat iri semua orang. Tadi kamu sudah bilang Pras melakukan kesalahan pertama karena di jebak. Dan kedua karena, katakanlah dia khilaf. Kamu juga bilangan secara teknis Pras tidak selingkuh. Karena ia tidak melakukan chat rahasia dan tidak menemui wanita itu secara diam diam selama beberapa waktu. Jadi, secara garis besar, Pras memang tidak selingkuh kan. Ini adalah kesalahan ke khilafan Pras. Dan Ini juga adalah titik tertinggi rasa kekecewaan terdalam bagi mu kan Han."
"Iya, betul."
"Jika misal kamu bercerai. Maka yang akan menjadi korban adalah Ali, putra kalian. Sebelum kamu benar-benar membuat keputusan untuk bercerai dengan suami mu. Pikiran kembali baik baik. Dampak nya bagi Ali. Aku rasa kamu juga tau apa dampaknya bagi anak mu. Jadi, apakah kamu yakin, jika pernikahan kalian sudah tidak bisa di selamatkan." tanya Sisilia pada Hanin.
"Inilah yang menjadi beban pikiranku Sisil. Beberapa minggu ini aku sudah menjaga jarak dengan suami ku. Saat aku ingin mengurus perceraian itu. Wajah Ali selalu membayangi ku."
"Bagaimana dengan Prasetya? Apa dia ada usaha untuk minta maaf sama kamu?"
"Dia selalu minta maaf dan memohon." jawab Hanin.
"Apakah kamu masih mencintai Prasetya?"
Mendengar pertanyaan Sisilia yang mempertanyakan apakah ia masih mencintai Pras, tak urung membuat Hanin tersenyum kecut.
"Definisi cinta itu kini sudah berubah." jawab Hanin.
"Tapi, apakah kamu masih mencintai suamimu? Aku bisa melihat kamu masih punya empati pada Pras soal perasaan. Berpisah dengan seseorang yang masih kita sayang dan masih saling menyayangi itu berat Hanin. Aku tidak bilang. Bertahan lah demi cinta. Mungkin itu sebuah nasehat yang bodoh. Tapi lihatlah kesalahan suami mu dulu."
"Mereka kembali melakukan hubungan intim itu Sisilia."
"Pras terbawa hawa nafsu Hanin."
"Justru itu hal yang paling sakit bagi seorang istri. Mengetahui suaminya menjamah tubuh wanita lain."
"Di kesalahan yang pertama kamu mampu memberikan Pras maaf. Di kesalahan kedua kamu terlalu kecewa sehingga kamu berat berikan maaf untuk dia. Tapi apakah kamu yakin tidak memberikan kesempatan yang ke tiga. Dengan mengajukan syarat tertentu mungkin Han." ucap Sisilia mencoba menasehati Hanin.
"Entahlah." jawab Hanin bingung.
__ADS_1
"Dengar Hanin. Sebagai seorang sahabat. Aku ingin kamu memutuskan hal yang tepat. Buatlah keputusan yang tidak akan kamu sesali di kemudian hari. Kamu bisa saja minta waktu yang lama pada suami mu untuk masalah ini. Sebulan, dua bulan, tiga bulan, sebanyak-banyaknya waktu yang kamu minta. Untuk bisa kamu tau mengetes keseriusan Pras. Jika ia benar benar telah jera. Tapi jika kamu sudah benar benar tidak bisa lagi dan yakin pernikahan kalian harus berakhir. So, ambillah keputusan itu. Tapi kamu pasti nya juga tau apa dampaknya. Jadi, ambil keputusan yang bijaksana meksi kadang itu berat bagi mu. Semua keputusan akan ada konsekuensinya Hanin. Apalagi ini soal rumah tangga. Menjaga sebuah rasa emosional suami dan istri agar tetap terhubung satu sama lain itu penting. Jika kalian sudah tidak bisa saling terhubung lagi itu juga akan menyiksa diri kalian sendiri. Aku akan siap membantu mu jika kau ingin pisah dengan Prasetya. Tapi, pikirkan kembali untuk memberikan kesempatan untuk terakhir kalinya jika kau ingin mencoba menyelamatkan rumah tangga mu." ucap Sisilia menasehati Hanin.
"Kita sebagai seorang wanita kita pasti akan merasa bangga menjadi yang pertama dan yang terakhir dalam sebuah hubungan pernikahan. Pasangan kita bukanlah seseorang yang sempurna. Setiap rumah tangga miliki ujiannya masing-masing Han. Dan sekarang, keputusan itu ada pada dirimu. Nasib Prasetya ada di tangan mu. Kamu ingin bercerai atau mempertahankan rumah tangga mu, semua ada di tangan mu." Imbuh Sisilia.