
"Ayah, Ayah, Ayah!" teriak Ali kegirangan begitu ia melihat Pras sudah berdiri di sisi pagar.
"Ali." pangil Pras.
Setelah pintu gerbang di buka. Dan Pras kini telah masuk. Ali langsung meloncat ke arah Pras. Dan Pras langsung menggendong putranya.
"Ali kangen Ayah." rengek Ali yang sudah memeluk leher Pras.
"Ayah juga kangen sama Ali." ucap Pras sambil memeluk putranya yang sudah ada di gendongannya."
"Ayah, Ayah ayo masuk. Ada Bunda di dalam." seru Ali nampak bersemangat.
"Ayo temuin Bunda." ucap Ali lagi. Sambil masih mengendong Ali. Pras pun akhirnya masuk ke dalam rumah.
"Bunda sedang apa?" tanya Pras pada Ali, kala mereka sedang berjalan menuju meja makan.
"Bunda tadi sedang makan pagi Ayah." jawab Ali.
Sesampainya Pras di ruang makan, sejenak Pras berdiri membeku saat melihat seseorang yang sangat ia rindukan dan cintai nampak duduk di kursi meja makan dengan wajah menunduk fokus pada makanannya.
Perlahan, Pras semakin mendekati meja makan. Pras kemudian mendudukkan Ali di salah satu kursi. Lalu Pras ikut duduk di salah satu kursi yang lain.
"Assalamualaikum Han." sapa Prasetya. Hanin yang kala itu mendengar ucapan sang suami belum siap untuk menatap wajah Pras. Hanin tetap dalam diamnya.
Tapi dalam hati ia menjawab salam suaminya.
"Waalikumsalam." ucap Hanin dalam hati.
"Ali lanjutkan makan mu." Ucap Hanin, yang kemudian ia berdiri sambil mengangkat piring kosong bekas makannya.
"Han, aku tadi di rumah belum sempat sarapan. Aku ingin makan telor dadar buatan mu. Bisa tolong buatkan. Aku lapar." ucap Pras dengan nada memelas.
Hanin yang saat itu hendak pergi ke dapur, tertahan langkah nya saat sang suami memangil nya.
__ADS_1
Setelah mendengar permintaan Pras. Tanpa menjawab dan menoleh. Hanin berjalan kembali ke dapur.
Sesampainya di dapur Hanin terdiam membeku di sisi wastafel yang ada di sana.
Dia berfikir untuk menimang-nimang apakah dia akan membuatkan telur dadar pesanan sang suami atau tidak.
Setelah dia berpikir sejenak. Karena tadi Pras tadi bilang jika dia belum sarapan. Akhirnya Hanin mengambil satu telur dari dalam kulkas kemudian dia memasakkan telur itu sesuai yang Pras mau.
Setelah selesai membuat kan telur dadar yang di minta suaminya. Hanin kemudian menaruhnya ke sebuah piring.
Kemudian dia kembali berjalan ke ruang makan dengan maksud memberikan telor dadar itu untuk Prasetya.
Tanpa menoleh dan menatap Prasetya, sesampainya Hanin di ruang makan. Hanin langsung meletakkan begitu saja piring yang di atasnya sudah terdapat telur dadar tersebut tepat di hadapan Pras.
"Al, Bunda ke kamar dulu ya sayang. Ada sesuatu yang harus Bunda kerjakan di kamar." ucap Hanin beralasan.
Sebenarnya ia hanya ingin menghindari Prasetya.
"Hanin, terima kasih telur dadar nya." seru Pras pada sang istri yang sedang menaiki anak tangga itu. Hanin tetap tak menggubris perkataan Pras.
Senyum lebar Pras terukir di wajahnya. Manakala melihat telur dadar permintaan nya di kabulkan oleh Hanin.
Pras sudah sangat kangen dengan masakan yang di buat sang istri. Pras kemudian langsung mengambil nasi yang sudah ada di depannya dan menaruhnya di piring. Dengan lahap, Pras menikmati saparan pagi itu dengan hati gembira. Karena ia kembali merasakan di layani oleh Hanin.
Meskipun hanya di buatkan telor dadar.
Meskipun cuma telur, bagi Pras itu sudah sangat spesial. Dan kerinduan tentang makan masakan sang istri terobati.
Setelah beberapa saat kemudian. Prasetya bilang pada Ali untuk menemui Hanin di kamarnya.
Ali pun paham dan ia membiarkan sang Ayah untuk menemui bundanya.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺
__ADS_1
Berdiri mematung di sisi jendela di kamarnya. Hanin melayangkan pandangan keluar kearah jendela.
Pandangannya kosong, dia benar-benar belum siap untuk berinteraksi dengan Prasetya.
Bahkan melihat wajahnya pun Hanin belum siap. Hanin masih merasa muak dan juga jijik ketika bayang-bayang suaminya sedang berciuman dengan Kinanti masih berseliweran di pelupuk matanya.
Ketika Hanin terlamun sendirian di sisi jendela di kamar. Tiba-tiba pintu kamarnya di buka oleh seseorang.
Begitu Hanin mencium bau parfum yang sudah tak asing baginya. Ia tau yang datang itu adalah sang suami, Prasetya.
Tidak ingin buru-buru menoleh ke arah pintu kamar. Hanin tetap diam tak bergeming di tempatnya.
Langkah itu semakin lama semakin mendekati Hanin. Dan Hanin tetap mempertahankan ego nya untuk tidak mudah luluh untuk semua sikap yang Pras sudah lakukan terhadap dirinya.
Untuk kali ini, banyak sekali pertimbangan yang harus ia pikir.
Memaafkan atau mengambil keputusan untuk yang terburuk sekalipun Hanin sedang berfikir untuk itu.
"Han," suara merdu itu kini telah berada tepat di belangnya.
"Mas ridho kamu untuk sementara tingal di sini untuk menenangkan diri. Tapi jangan lama-lama ya sayang. Mas kesepian di rumah. Rumah itu tanpa kamu dan Ali. Seperti gua yang tak berpenghuni. Jiwa ku hampa, raga ku lemah dan aku tidak semangat. Kalian adalah separuh nyawa ku. Jika kalian pergi. Jiwa ku tidak utuh Hanin. Oya, aku telah menganti nomor ponsel ku. Nanti aku akan memberi tau mu nomor ponsel ku yang baru. Aku sudah memutuskan komunikasi dengan nya. Aku harap, ini menjadi bukti jika aku ingin memperbaiki hubungan kita." Prasetya kemudian bergerak makin mendekati Hanin. Dan Hanin tetap pada sikapnya.
Diam tak menjawab dan juga tidak menoleh ke arah sang suami.
"Aku pamit dulu ya, aku bekerja dulu. Izinkan aku datang kemari lagi. Tidak masalah kamu masih marah sama Mas. Karena Mas memang pantas untuk kamu perlakukan seperti ini. Mas hanya ingin bilang. Aku sangat mencintaimu Haningrum. Pulanglah jika kamu sudah siap untuk pulang. Aku menunggu mu."
Beberapa detik baik Hanin dan Prasetya saling diam.
Sejurus kemudian, Prasetya melabuhkan kecupan manis ke kepala Haningrum yang terbalut hijab tersebut.
Saat Pras mencium kepalanya lama, Hanin tetap pada pendiriannya. Ia tidak ingin mudah goyah.
"I love you bidadari ku." ucap Prasetya.
__ADS_1