
"Jika kamu tidak mencabut laporan mu sebelum laporan itu naik ke persidang. Aku juga akan melaporkan dirimu ke kantor polisi atas tuduhan pencemaran nama baik dan fitnah terhadap suamiku. Aku tidak main main dalam ancaman ku Murad." ancam Hanin yang kala itu ia sengaja mendatangi Murad di kantornya.
"Apa kamu datang kemari hanya untuk membela suami mu yang sudah mengkhianati mu itu. Kamu ini buta atau bagaimana Hanin. Suami mu bahkan sudah menghamili wanita lain tapi kamu masih mau dengan nya."
"Itu bukan urusan mu Murad."
"Tapi kamu istri yang mau saja di bodohi dengan kata kata manis Prasetya."
"Aku lebih tau bagaimana suami ku dari pada kamu Murad." tegas Hanin yang memandang Murad dengan sorot mata tajam.
Murad yang tidak tau lagi harus melakukan apa untuk menjauhkan Hanin dengan Prasetya. Nyatanya, Hanin terlihat gigih membela suaminya. Dan hal itu membuat Murad menjadi frustasi.
"Aku tidak akan mencabut laporan ku Hanin. Suami mu akan tetap mendekam di penjara."
"Jika kamu tidak mengindahkan peringatan ku. Aku juga akan mengirim mu ke penjara Murad. Apa yang kamu lakukan terhadap suamiku itu adalah suatu tindakan kejahatan luar biasa. Kau menjebak mas Pras dengan mencekoki dia minuman keras yang sudah kau campur dengan obat perangsang. Kau pun juga telah menuangkan sebuah obat perangsang ke minuman Kinanti bukan. Aku sudah tau semua rencana mu Murad. Entah apa yang ada di benak mu. Kau sudah hampir merusak hubungan baik antara aku dan mas Prasetya. Kamu hampir saja menghancurkan rumah tangga orang. Kau membuat suami ku tidur dengan wanita lain. Dan sekarang wanita itu mengandung anaknya mas Pras. Kamu jahat Murad. Jadi aku peringatkan, cabut laporan mu atau Mas Pras akan menghancurkan reputasi mu di dunia bisnis dan keluarga." Murad tidak menyangka, kata kata Hanin terdengar menusuk dan mengancamnya.
"Secinta itu kamu sama Prasetya, Haningrum. Suamimu sudah berzina pun kamu masih mau menerimanya."
"Suami ku berbuat kesalahan karena ada andil diri mu yang sudah punya niat jahat. Aku peringatkan sekali lagi Murad. Aku tunggu dalam waktu kurang dari 24 jam. Jika kamu tidak menarik laporan mu terhadap Mas Prasetya. Maka aku pun dalam kurun waktu kurang dari 24 jam juga akan melaporkan mu pada polisi dengan tuduhan melakukan fitnah dan pencemaran nama baik. Jadi, kamu pilih, siapa yang akan mendekam lama di penjara. Karena Mas Pras bisa membela diri jika tindakan pemukulan yang Mas Prasetya lakukan terhadap mu karena ia emosi. Mas Prasetya bisa mengunakan alasan itu untuk menyerang mu. Dan suami ku akan menunjukan semua kebusukan mu. Jadi, kamu tidak punya pilihan lain selain mengikuti perintah ku." Semua perkataan Hanin sudah cukup membuat Murad tidak berkutik. Ia tidak percaya, bahwa Hanin bisa seberani itu.
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
__ADS_1
Dan akhirnya, kurang hari dari 24 jam, Murad sudah mencabut laporannya.
Dan malam itu juga Prasetya bebas dari tahanan kepolisian.
Tapi, sebelum itu. Pras dan Murad telah bertemu dan saling bicara.
"Kamu mau mengakui tidak, semua kejahatan yang telah kamu rencanakan pada ku." ucap Prasetya pada Murad.
Dan dengan enteng nya Murad mengakui semuanya.
"Karena sudah tidak perlu lagi di tutupi. Ya, aku memang sudah merencanakan itu semua Pras. Karena aku iri dengan mu dan aku tidak terima kamu merebut Hanin ku." Tutur Murad.
Hanin yang mendengar pernyataan yang meluncur dari mulut Murad pun terperanjat. Karena ternyata motif Murad karena dirinya.
"Kamu mabuk Murad, kamu sudah gila." cetus Prasetya.
"Kamu tau Hanin, aku sudah sangat lama ingin melamar mu. Tetapi Prasetya mendahului ku. Aku sudah lama mengincar mu. Tapi justru Pras lah yang lebih dulu mendapatkan mu. Dia hidup bahagia bersama dirimu. Dan aku tidak terima itu. Ketahuilah Haningrum, kamu adalah seorang wanita yang sudah membuat ku jatuh cinta sejak lama. Aku selama ini berusaha untuk memantaskan diri ku. Tapi tiba-tiba semua harapan lenyap. Di saat kamu menerima lamaran Prasetya. Ya, ku akui, aku memang jahat. Kalian sudah tau itu kan. Tapi apa yang ku lakukan tidak juga membuat kalian hancur."
"Dasar tidak waras kamu Murad. Aku belum selesai dengan diri mu. Ayo Hanin, kita pulang saja." Ajak Prasetya yang kemudian langsung mengajak Hanin pergi dari hadapan Murad.
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
__ADS_1
Dengan perasaan hati yang penuh kelegaan. Prasetya malam itu akhirnya bisa bebas dan kini sedang dalam perjalanan kembali ke rumah.
Pras dan Hanin saat itu duduk di bangku penumpang bagian belakang. Sedangkan mobil di kendalikan oleh sopir.
Tidak membiarkan Hanin duduk berjauhan. Prasetya terus merangkul bahu Hanin.
"Harusnya kau menjadi seorang pengacara Han. Kau hebat sekali. Lalu apa gunanya Antony." sindir Prasetya pada pengacara yang di pilih Hanin untuk menangani kasusnya.
"Ya kan Hanin tidak menyangka jika Murad secepat itu menarik laporannya Mas."
"Memangnya apa yang kamu katakan pada Murad. Sampe dia tunduk sama kamu."
"Ada deh, aku tidak akan cerita sama Mas. Yang perlu Mas tau hanyalah. Seorang istri yang sudah percaya dengan suaminya jika. Jika suaminya berbuat salah dan kesalahan itu bukanlah seratusan persen karena di sengaja. Seorang istri masih bisa memberikan toleransi. Seperti sikap Hanin sama Mas Pras. Tapi jika Mas dengan sadar dan sengaja membuat sebuah kesalahan yang menjatuhkan harga diri sebagai seorang istri. Mungkin Hanin tidak akan bertahan di sisi Mas. Karena kesalahan yang pernah Mas lakukan itu sangat sensitif bagi kami para wanita. Dan satu lagi Mas. Jika seorang istri sudah percaya dengan suaminya. Dia akan memperjuangkan keutuhan rumah tangga nya dan akan membela suaminya sampe titik akhir. Itulah yang Hanin lakukan untuk Mas." Mendengar semua penuturan yang Hanin sampaikan langsung membuat hati Prasetya tersentuh.
"Bagaimana kamu bisa seluar biasa ini Haningrum." puji Pras sambil memegang dagu sang istri.
"Mas, jangan seperti ini. Ada orang lain di mobil." Hanin kemudian menurun tangan Prasetya yang tadi memegang dagunya. Hanin tidak nyaman jika bermesraan di tempat di mana di sana masih ada orang lain.
"Ucapan terimakasih saja tidak cukup untuk mu Han. Kamu boleh minta apa saja sama Mas. Sebagai bentuk hadiah karena kamu sudah bebaskan Mas."
"Hanin tidak perlu hadiah apapun Mas. Yang Hanin mau hanyalah. Mas Prasetya setia sama Hanin. Hanya itu yang Hanin mau dari seorang pria yang sangat aku cintai sepenuh hati ku. Aku hanya ingin Mas setia. Karena jika Mas sudah setia. Hanin sudah mendapatkan semuanya dari Mas Prasetya." tutur Hanin lembut.
__ADS_1
"Jika kita ada di kamar. Kamu sudah habis Hanin." ucap Prasetya yang saking gemasnya ia langsung mencium pipi mulus putih Hanin. Tanpa peduli lagi akan penolakan Hanin karena ia malu dengan sopirnya.