Maafkanlah Aku Istriku

Maafkanlah Aku Istriku
Sakit hati


__ADS_3

Mendengar namanya disebut oleh sebuah suara yang tidak asing.


Membuat Prasetya yang tadinya memejamkan kedua matanya kini membuka matanya lebar-lebar.


Saat ia membuka matanya lebar-lebar. Ia pun sangat kaget, ketika ia sadar, sedang berciuman dengan Kinanti. Prasetya otomatis langsung menarik wajahnya.


Kemudian, Prasetya menoleh ke arah pintu yang sudah terbuka lebar.


Dan di sana, ia melihat sang istri Haningrum telah berdiri tegap menatap ke arah dirinya dan Kinanti dengan pandangan gamang.


Melihat aksinya kini di sudah di tangkap basah oleh Hanin. Membuat Kinanti langsung menarik tangannya dari leher Prasetya.


Dan Prasetya sendiri langsung berdiri dan berjalan ke arah Haningrum.


"Hanin." pangil Pras dengan sudah runtuh perasaannya.


Tidak bisa lagi tahan berapa di tempat itu lebih lama. Karena telah melihat suaminya sedang berbuat mesum terhadap wanita itu.


Hanin langsung memutar tubuhnya dan berjalan meninggalkan rumah Kinanti.


Hanin berjalan dengan setengah berlari menuju mobil taksi yang membawanya sampai ke tempat itu.


Tidak ingin kehilangan jejak sang istri yang sangat ia cintai. Pras langsung mengejar Hanin.


Hanin langsung masuk ke dalam mobil.


Hanin yang saat itu belum sempat untuk menutup pintu mobil, Pras dengan tindakan cepat ikut menyelinap masuk kedalam mobil yang di tumpangi oleh Hanin.


Setelah keduanya sudah masuk di dalam mobil. Pras langsung menutup pintu mobilnya.


Hanin kini sudah tidak kuasa lagi untuk tidak menangis.


Ia menumpahkan semua tangis dan air matanya di dalam mobil.


Dengan bercucuran air mata Hanin menangis nyaris tanpa suara.


Sedangkan Pras sendiri mengeluarkan berbagai macam kata-kata permohonan maaf kepada sang istri.


Sang sopir taksi yang kala itu duduk di kursi kemudinya. Menjadi heran mana kala di kursi belakang kini telah terjadi huru hara.


Tapi sang sopir taksi tidak berani untuk menegur.


"Hanin, maafkan Mas, maafkan Mas Hanin, Mas khilaf." Tutur Prasetya berulangkali, sambil memegangi pundak Hanin. Tapi, Hanin selalu menepis sentuhan tangan yang Pras lakukan pada pundaknya.


"Han, Mas minta maaf. Aku bisa jelaskan semuanya." tutur Prasetya, dengan sudah di liputi rasa frustasi.


Sedangkan Hanin masih terus meneteskan air matanya dengan tanpa bersuara.


Hanin membuang mukanya ke samping, ia terlalu jijik untuk melihat wajah suaminya sendiri.

__ADS_1


Berulang-ulang, Prasetya mengucapkan kata maaf itu. Tetapi Hanin sama sekali tidak bergeming.


"Jalan Pak, langsung ke bandara." perintah Hanin pada sang sopir taksi, tanpa memperdulikan bagaimana sikap Prasetya yang sejak tadi ada di sampingnya.


Ia menganggap seolah olah Prasetya tidak ada di sampingnya.


Dan akhirnya, sang sopir pun melajukan mobilnya untuk menuju bandara.


Prasetya yang pada saat itu memang juga harus ke bandara tidak henti hentinya mencoba mengajak Hanin untuk bicara.


Tapi Hanin diam seribu bahasa.


Prasetya kini tidak peduli dengan semua barang-barangnya yang masih ada di hotel. Kebetulan saat itu ia membawa ransel nya. Dan semua dokumen penting sudah ia bawa.


Sehingga membuat Pras tidak perlu untuk kembali ke hotel.


Tanpa mengatakan sepatah kata pun. Hanin langsung keluar dari mobil taksi setelah mereka kini sudah tiba di bandara.


"Ini Pak ongkosnya. Kembaliannya ambil saja." Ujar Hanin, yang kemudian langsung bergegas masuk kedalam bandara untuk melakukan cek in.


Sepanjang perjalanan menuju konter untuk melakukan cek in. Prasetya terus mengajak Hanin berkomunikasi.


Tapi semua celotehan Prasetya tidak sama sekali di gubris oleh Hanin.


Karena mereka harus terbang dengan pesawat yang berbeda. Membuat Hanin dan Prasetya terpisah.


Hanin yang baru saja tiba kembali di rumah langsung naik ke lantai atas dan menutup pintu kamarnya.


Sesampainya di kamar, Hanin kembali menangis sejadi-jadinya.


Selang beberapa saat kemudian. Prasetya yang juga baru sampai di rumah langsung naik ke lantai atas ke kamarnya.


Tapi saat Pras ingin masuk ke kamar, sepertinya Hanin telah mengunci pintu kamarnya dari dalam.


Tidak sabar untuk bisa bicara dengan Hanin. Membuat Prasetya sedikit berteriak dan menggedor pintu kamarnya sedikit lebih keras.


Mendengar suara teriakan Prasetya. Bu Damayanti yang pada malam itu menginap kemudian keluar dari kamarnya.


Bu Damayanti kemudian naik ke lantai dua untuk mencari tau ada keributan apa di sana.


"Pras! Ada apa malam-malam teriak-teriak seperti itu." Tanya Bu Damayanti pada sang putra dengan wajah penuh tanda tanya.


"Mama." ucap Pras, yang kemudian ia memeluk mamanya untuk sesaat.


"Hanin mana? Apa dia sudah pulang?"


"Hanin sudah ada di dalam kamar Ma."


"Lalu, kenapa kamu menggedor pintu kamar mu sendiri?" tanya lagi Bu Damayanti.

__ADS_1


Prasetya nampak bingung harus menjawab apa.


Sedangkan di dalam kamar. Hanin sudah tidak tahan lagi menahan rasa sakit hatinya.


Ia kemudian mengeluarkan satu buah koper. Lalu ia menjejalkan beberapa pakaian miliknya dengan asal kedalam koper tersebut.


Hanin berniat untuk pergi dari rumah malam itu juga dengan membawa Ali.


Setelah semua siap, Hanin kemudian keluar dari kamar dengan menjinjing kopernya.


Melihat Hanin membawa koper. Prasetya langsung menahan Hanin dengan memegangi tangan sang istri.


Lagi lagi Hanin menepis tangan Prasetya yang ketika itu hendak memegang tangannya.


"Han, Mas mohon, maaf kan Mas. Jangan emosi dulu. Dengarkan penjelasan Mas." ucap Prasetya kembali memohon.


Bu Damayanti menjadi semakin bingung.


"Ada apa ini? Ada apa dengan kalian?" tanya Bu Damayanti dengan suara tegas.


"Maafkan Hanin Ma. Hanin harus pergi dari rumah ini. Hanin mungkin egois, tapi jujur Hanin tidak kuat jika terus berada di rumah ini lagi. Hanin akan pulang ke rumah mama dan papa." tutur Hanin yang ingin pulang ke rumah orang tuanya.


"Astaghfirullah, memangnya ada apa lagi. Pras!" seru Bu Damayanti sambil menatap anak laki-lakinya dengan tajam.


Tapi Pras diam. Ia sudah tidak mampu untuk membahas soal ke mesum an yang telah ia lakukan bersama Kinanti.


"Pras!" seru lagi Bu Damayanti pada anaknya. Karena Prasetya tak kunjung bicara. Hanin kemudian buka suara.


"Nikah kan saja anak Mama sama wanita itu. Mungkin mereka sudah saling mencintai. Hanin melihat dengan mata kepala Hanin sendiri mereka asik berduaan, bermesraan an bahkan mereka berciuman Ma." jelas Hanin pada Mama mertuanya.


"Astagfirullah, Prasetya." lagi lagi Bu Damayanti berseru.


"Jangan halangi Hanin kali ini untuk pergi Ma. Biarlah Hanin menjadi istri yang tidak taat sama suami. Rasa sakit hati Hanin rasanya sudah tidak bisa Hanin tahan jika terus berada di sini."


"Haningrum, aku bisa jelaskan semuanya. Kamu tidak perlu pergi." sela Prasetya.


Bu Damayanti kemudian mendekati Hanin.


"Hanin, tenangkan dirimu, ini sudah malam. Jika kamu mau pergi, besok pagi saja ya. Jangan biarkan Ali trauma di bangunkan malam malam dengan keadaan kedua orang tua bertengkar lalu kalian pergi. Kamu bisa pergi besok pagi. Tenangkan dirimu dulu. Jaga mental Ali. Dia juga kan baru sembuh. Mama mohon, besok pagi saja ya. Kamu bisa tidur di kamar Ali."


Merasa apa yang di katakan ibu mertua nya benar. Hanin pun menurut.


Tanpa bicara lagi. Hanin langsung bergegas berjalan ke kamar putranya. Dan ia langsung masuk kedalam kamar Ali.


"Sekarang, jelaskan sama Mama ada apa sebenarnya." cecar Bu Damayanti pada Prasetya.


Pras pun akhirnya menceritakan semua kejadiannya pada sang Mama.


πŸ”₯πŸ”₯Jangan lupa vote ya, sudah hari Senin πŸ™πŸ€—πŸ₯°β™₯️πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯ terima kasih

__ADS_1


__ADS_2