Maafkanlah Aku Istriku

Maafkanlah Aku Istriku
Godaan sang Pelakor


__ADS_3

"Pak, baju Pak Pras basah kuyup. Izinkan saya mengeringkan baju kemeja Bapak. Agar bapak tidak kedinginan." tutur Kinanti memberikan saran.


"Tidak usah Kinan. Tidak apa apa." tolak Prasetya.


"Saya akan menyetrika baju Bapak. Jadi Bapak bisa langsung mengenakannya kembali."


Setelah menimbang nimbang saran Kinanti. Pras akhirnya menurut.


Pras pun kini melepas satu persatu kancing kemejanya.


Setelah semua kancing bajunya terlepas. Prasetya menanggalkan kemejanya.


Sehingga kini bentuk tubuhnya terekspos jelas di hadapan Kinanti.


Dan Kinanti bisa melihat begitu jelas perut kotak kotak sixpack Prasetya.


Tubuh yang atletis dan begitu kokoh.


Setelah Prasetya melepaskan kemejanya. Ia kemudian mengulurkan kemeja itu kepada Kinanti.


Kinanti kemudian meraih kemeja Prasetya dan membawanya ke belakang. Kemudian ia menyetrika baju Prasetya dengan memberikan baju itu semprotan pewangi.


Setelah beberapa saat. Kinanti kembali ke depan dan memberikan baju Prasetya yang sudah kering itu kepada Pria tampan tersebut.


"Ini Pak, sudah kering. Pak Pras bisa pakai lagi."


Prasetya kemudian meraih kemejanya dan memakainya kembali.


Saat Prasetya sedang memakai baju. Kinanti berjalan ke arah meja makan dan dia menyiapkan makanan yang ia beli tadi.


Kinan menaruh semua makanan itu ke dalam wadah. Setelah dia selesai menyiapkan makanan itu. Kinanti kemudian mengambil dua piring kosong untuknya dan juga untuk Prasetya.


Setelah semua lengkap dan siap. Kinanti kembali berjalan ke arah ruang tamu dan menawari Pras makan siang.


Karena tidak enak jika menolak. Pras menurut, ia pun berjalan mengikuti langkah Kinanti yang berjalan ke arah meja makan.


Kini mereka menikmati makan siang yang sudah terlambat itu bersama dengan suasana hening.


"Apa Pak Prasetya mau menambah lauk nya. Saya ambilkan." tawar Kinanti.


"Tidak usah Kinan. Saya sudah kenyang. Terima kasih." tolak Pras lembut.


"Sebentar lagi aku juga harus pergi. Aku masih harus ke hotel dulu mengambil barang-barang ku, sebelum aku pergi ke bandara. Pesawat ku terbang jam 22.00 malam nanti." jelas Prasetya pada Kinanti.


Mendengar hal itu, ada perasaan sedih yang kinan rasakan. Ia baru saja merasa senang saat di kunjungi oleh Pras.


Tapi ia juga memahami itu meskipun perasaannya sedikit sedih.

__ADS_1


"Ya Pak. Tapi apakah Bapak bisa datang kemari lagi saat anak ini nanti lahir?


"Saya tidak bisa janji, tapi jika ada waktu insya Allah. Aku akan ke sini untuk menengok bayinya."


"Kira-kira mau dinamai siapa bayi-bayi kita?" tanya Kinanti minta saran pada Pras.


"Terserah kamu saja, mau di namai siapa." jawab Prasetya.


"Tapi Pak Pras bisa memberikan saran nama juga. Bagaimanapun, dia kan anak Bapak."


"Saya tidak ada ide nama yang bagus untuk di berikan. Tidak apa apa, kamu saja yang berikan dia nama."


Setelah mereka selesai makan bersama. Pras kemudian berinsut dari meja makan dan berjalan menuju ruang tamu.


Belum sampai Prasetya ke ruang tamu. Prasetya dikagetkan dengan bunyi suara pecahan piring yang terjatuh ke lantai.


Seketika Pras langsung menoleh ke belakang. Dan di sana, ia melihat Kinanti nampak meringis kesakitan sambil berpegangan pada sebuah kursi, menahan tubuhnya agar tidak jatuh.


Prasetya yang khawatir langsung mendekat kembali ke arah Kinan.


Prasetya kemudian meraih beberapa piring yang Kinan pegang. Lalu menaruhnya kembali ke atas meja.


Pada saat itu, Kinanti merasakan kram pada kakinya.


Pras kemudian membimbing Kinanti untuk berjalan menuju ruang tamu. Karena Kinanti nampak masih terlihat kesakitan. Pras berinisiatif langsung mengedong tubuh Kinanti.


Kemudian, Pras membobong tubuh Kinanti untuk dibawa ruang tamu di depan.


Sesampainya di sana, Pras meletakkan tubuh Kinan dengan hati hati di sebuah bangku panjang. Pras juga meluruskan kedua kaki Kinanti.


"Kamu harus hati-hati jaga kandunganmu." tutur Pras, yang saat itu duduk tepat di sebelah Kinanti.


"Iya Pak, saya akan lebih hati-hati lagi. Tadi saya hanya berniat membawa piring kotor ke dapur. Tapi tiba-tiba kaki saya kram."


Ketika mereka sedang berbincang, perut Kinanti nampak bergerak-gerak.


Bayi yang ada di dalam kandungannya menendang-nendang dengan begitu keras dan kencang. Sampai sampai membuat Kinanti meringis.


"Kenapa Kinan, ada apa?" tanya Prasetya yang kala itu melihat ekspresi wajah Kinanti yang meringis.


"Anak ini sangat lincah. Lihatlah, dia bergerak-gerak. Apa mungkin dia tahu ada papanya di sini, jadi dia senang." ucap Kinanti sambil memegangi perutnya yang sejak tadi bergerak-gerak terus.


Prasetya kemudian mengikuti pandangan Kinanti.


"Apa Pak Pras tidak ingin menyentuhnya? Selama ini kan Pak Pras tidak pernah menyentuh dan memberikan kasih sayang untuknya." ucap Kinanti lirih.


Prasetya hanya diam. Tak menjawab pertanyaan Kinanti.

__ADS_1


Dan entah kenapa, tahu-tahu Kinanti memegang tangan Prasetya. Kemudian ia meletakkan tangan Pras tepat di bagian perutnya yang tadi bergerak-gerak.


Dengan saling berpegangan tangan, telapak tangan Prasetya diletakkan persis di bagian perut Kinanti yang sejak tadi nampak bergerak.


Dan Prasetya bisa merasakan melalui telapak tangannya. Gerakan dan tendangan-tendangan bayinya, benihnya yang tumbuh di dalam rahim Kinanti.


Kinanti dan Prasetya nampak terhanyut dalam suasana kebersamaan mereka bertiga.


Makin lama, tendangannya itu makin kuat. Membuat Kinanti dan Prasetya makin tajub. Dan membuat kedua iris mata Kinan dan Pras saling bertemu dan menelisik dengan dalam. Merasakan berbagai macam rasa haru itu bersama.


Sampai sampai, Kinan tidak lagi bisa membendung rasa kebahagiaannya dalam moments kala itu.


Di satu sisi dia bahagia, tapi di lain sisi ia tau. Bahwa kini ia telah berdosa dan salah. Karena telah meleburkan diri nya kedalam pusaran dosa telah menyukai suami orang.


Kinanti tau, kebahagiaannya hanyalah sebuah kebahagiaan yang semu.


Kinanti kemudian bangkit dari sandarannya dan mendekatkan dirinya lebih dekat pada Prasetya. Wajah mereka kini saling berdekatan.


Untuk sejenak, mereka saling berpandangan. Pikiran mereka nampak kosong.


Entah apa yang ada di pikiran Kinanti. Dan entah apa juga yang ada di pikiran Prasetya.


Satu detik, 2 detik, 3 detik, 4 detik.


Wajah Kinanti makin mendekati wajah Pras. Dan Pras sendiri hanya diam terpaku.


Maafkanlah aku Bu Hanin, izinkan aku merasakan kehangatan suami mu.


Sejurus kemudian, Kinanti meletakkan bibirnya ke bibir Prasetya.


Sudah di buat gelap dengan sebuah godaan. Membuat mata Pras buta.


Ia menganggap yang ada di depannya itu adalah Haningrum. Padahal dia adalah Kinanti.


Yakin jika yang ada di depannya adalah Hanin. Pras tanpa ragu membalas ciuman yang di lancarkan Kinanti.


Hasrat terlarang itu makin menguasai keduanya.


Mereka pun kini berbalas ciuman basah yang sangat menggairahkan.


Bahkan Kinanti memindahkan tangan Prasetya yang sejak tadi menempel di perut buncitnya. Kini sudah berpindah ke bagian sumber ASI itu.


Dengan sama sama memejamkan mata. Pras dan Kinanti meleburkan diri kedalam maksiat dan dosa yang besar yang membuat keduanya lupa.


Setelah berapa detik mereka menikmati ciuman basah dan bergairah itu.


Sebuah suara terdengar di ampang pintu memangil Prasetya.

__ADS_1


"Mas Prasetya"...........seru suara seorang wanita.


__ADS_2