
Begitu sampai di tempat kos-kosannya, Kinanti langsung membuka tas dan ia mengambil sesuatu dari dalam tasnya
Kinanti mengambil sebuah tespek yang sudah ia beli dari sebuah apotik, dan kemudian ia membawanya ke kamar mandi.
Sesaat, Kinanti membaca cara penggunaan tespek tersebut.
Saat ia sudah tahu bagaimana cara penggunaannya dan bagaimana cara untuk mengetahui hasilnya. Kemudian Kinanti mengambil sesuatu untuk menampung urinenya.
Setelah itu, ia menggunakan alat tespek tersebut untuk mengecek urine miliknya. Untuk mengetahui apakah ia hamil atau tidak.
Setelah beberapa saat ia menunggu dengan perasaan hati yang sudah penasaran dan begitu berdebar-debar untuk melihat hasilnya. Dalam hati Kinanti berdoa. Agar hasil negatif.
Kinanti sampai-sampai memejamkan kedua matanya saking ia di bawa rasa takut.
Setelah menunggu sekian menit. Kinanti perlahan membuka kembali matanya dan ia melihat hasil tesnya.
Setelah ia melihat hasil tesnya, mata Kinanti nampak tak berkedip melihat tespek yang ada di tangannya.
Sebuah tanda dua garis merah terlihat dalam alat tespek tersebut.
Meski dua garis merah itu terlihat samar-samar dan tidak jelas. Kinanti sudah bisa mengambil kesimpulan bahwa dirinya saat ini tengah hamil.
Sejenak, Kinanti hanya diam terpaku di kamar mandi.
Merasa ragu dengan hasil ujicoba pertamanya. Kinanti kemudian mengeluarkan lagi satu tespek yang baru.
Ia kemudian mencoba untuk mengunakan alat tersebut untuk mengetes lagi. Dan hasilnya tetap saja sama. Dua garis merah.
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
__ADS_1
Kinanti kini duduk lemas di atas tempat tidur lantai milikinya di kostan.
Kinanti tidak menyangka. Jika saat ini dirinya tengah hamil.
Dan sudah bisa di pastikan bahwa anak yang ada di rahimnya saat ini adalah anak Prasetya.
Karena hanya dengan Pria itulah Kinanti pernah melakukan hubungan intim. Walau hubungan intim tersebut mereka lakukan dengan tidak saling sadar sepenuhnya.
Kinanti yang orang nya sangat tertutup hanya bisa diam membeku saat mengetahui dirinya berbadan dua.
Dia sendiri bingung harus melakukan apa.
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
"Mas, kopinya." Ucap Hanin pada Prasetya, saat ia membuatkan secangkir kopi expreso pesanan sang suami yang sedang lembur di ruang kerjanya.
"Makasih sayang." Jawab Prasetya sambil tersenyum manis pada sang istri.
"Ia, sebentar lagi sayang, tangung kalau tidak di selesaikan." Tutur Prasetya, kemudian ia meraih kopi yang Hanin buatkan dan kemudian ia menyeruputnya.
"Kamu ke kamar dulu saja. Nanti Mas menyusul."
"Ya sudah kalau begitu, Hanin ke kamar dulu ya Mas." Ucap wanita yang berparas cantik dan selalu mengenakan hijab tersebut.
"Ia sayang ku." Jawab Pras lembut.
Hanin kemudian berjalan menuju pintu ruang kerja Prasetya. Prasetya yang memperhatikan sang istri keluar dari ruangannya tersenyum.
Bagiku, kamu adalah seorang istri pembawa rezeki Hanin.
__ADS_1
Sejak menikah denganmu, Mas merasa, rezeki Mas begitu dimudahkan sama Allah. Berbagai macam tender selalu Mas bisa dapatkan dengan mudah. Perusahaan Mas juga makin hari semakin maju.
Aku yakin, yang membuat rezeki Mas mengalir deras ini salah satunya adalah karena dorongan dari doa doa yang kau panjatkan.
Kamu benar-benar seorang Istri Solehah Hanin. Aku sangat beruntung mendapatkan dirimu.
Ketika Prasetya sedang meresapi betapa ia sangat bersyukur mempunyai istri seperti Hanin. Getaran ponsel miliknya yang Ia letakkan di atas meja dekat laptop, mengalihkan perhatian Prasetya.
Prasetya kemudian mengambil ponselnya dan langsung mengangkat panggilan tersebut.
"Halo, Kinanti."
"Malam Pak, maaf saya langsung menelpon Bapak malam-malam seperti ini. Karena jika saya mengirimkan pesan, saya takut pesannya malah akan dibaca oleh istri Bapak." Tutut Kinanti.
"Iya tidak apa-apa Kinanti, kau ingin memberitahu aku tentang hasil tesnya ya? Bagaimana hasilnya?" tanya Prasetya yang saat ini sudah tidak dalam posisi duduk. Melainkan ia berdiri, karena ia merasa sangat penasaran dengan hasilnya.
"Iya saya sudah melakukan tesnya Pak. Dan hasilnya positif." Bagaikan di sambar petir, pikiran Prasetya langsung berkelana. Syok dan tidak percaya, tapi ia harus menerima kenyataan itu.
"Apa kau tidak salah mengetesnya. Cobalah beberapa kali untuk memastikan Kinanti." Ucap Prasetya yang masih belum yakin dengan hasil yang sudah Kinanti sampaikan padanya.
"Saya sudah mengetesnya beberapa kali dan hasilnya sama Pak. Dua garis merah. Saya sudah mengirimkan foto tespeknya kepada Bapak. Dan jangan lupa foto-foto itu nanti Bapak hapus setelah Bapak melihatnya. Agar tidak dilihat oleh istri bapak." Dalam keadaan seperti itu, Kinanti masih memikirkan istrinya, pikir Prasetya.
"Baik, nanti aku akan lihat."
"Saya menelpon Pak Pras hanya untuk memberi tau hal itu. Selamat malam Pak."
"Selamat malam Kinanti."
Setelah mendapatkan kabar perihal hasil positif tes kehamilan yang sudah di lakukan Kinanti. Pikiran Prasetya saat itu langsung kacau.
__ADS_1
Berbagai macam rasa kekawatiran yang ia bayangkan. Seolah olah sedang menunggu boom waktu, yang bisa kapan saja akan meledak.