
Di pertemukan kembali dalam satu ruangan, namun kali ini dalam persidangan.
"Cuman nanya doang. Ini juga murni kesalahan Enda. Jadi udah ya Ustadz, lepasin Yasmine. Dia nggak salah!." Enda berbicara dengan sangat lancar. Berbeda dengan Yasmine yang terdiam, dengan wajah tertunduk. Kali pertama di sidang perihal pria, sungguh malu rasanya.
"Terus, apa maksud kamu bertanya perihal pernikahan padanya?."
"Kan sudah saya bilang, saya cuman bertanya!" kalau waktu kecil tingkat kesabaran Enda di atas rata-rata bocah seusianya, saat dewasa kesabaran pemuda ini sedikit berkurang.
Lain halnya dengan Enda yang banyak bicara, gadis itu tengah terjerat dalam diam. Bagaimana tidak, karena kasus ini kedua orang tuanya mendapat panggilan. Pasangan itu segera datang usai mendapat panggilan langsung dari Kyai Bahi.
Sungguh, tubuh Yasmine bergetar hebat. Bermacam perasaan beradu dalam dirinya. Terlebih perihal di panggilnya kedua orangtuanya bukan semata karena kasus tersebut, melainkan ada maksud lain.
"Ustadzah Syabilla, kasus ini biar saya yang ambil alih." Titah sang Kyai, nggak bisa di bantah lagi. Maka, Yasmine beserta kedua orang tua di ajak untuk bertandang ke kediaman Kyai Bahi. Syailendra juga ikut serta, sampai sejauh ini dia belum tau maksud sang Kakek. Memang, setiap santri yang bersalah akan mendapat hukuman, dan hukuman itu akan di jatuhkan di ruang guru, alih-alih di kediaman sang Kakek.
"Mungkin karena aku cucunya, jadi Kakek melanjutkan sidang kami di kediamannya" gumam sang hati.
"Apakah Yasmine sudah ada yang melamar? kalau belum, saya ingin mewakilkan cucu saya untuk melamarnya."
Heh!!.. Baik Yasmine atau Enda, sepasang anak manusia ini saling berpandangan, namun lekas jua saling melepaskan.
"Kyai, bukankah ini tentang pertemuan dan perbincangan mereka?. Bukankah ini tentang hukuman yang harus mereka terima. Kenapa berujung pada lamaran?" Ayah Yasmine nampak bingung. Sedangkan sang Ibu mendunduk dengan tangan saling bercengkraman dalam pangkuan.
"Iya. Ini memang tentang hukuman mereka karena telah berhubungan tanpa alasan pasti."
Ingin rasanya Yasmine menyangkal, bahwasanya mereka enggak ada hubungan. Setelah menata hati sejenak, Yasmine beranggapan mungkin hubungan obrolan, itu yang di maksud Kyai Bahi. Begitulah kehidupan di pondok pesantren, interaksi wanita dan pria sangat di jaga, kalau hanya untuk sekedar bersenda gurau maka bersiaplah untuk mendapatkan sentilan. Seperti membaca Sholawat Kamila 40 kali di depan para guru, membaca Yasin sebanyak sepuluh kali di depan gerbang asrama, bahkan memacul pun bisa menjadi sebuah hukuman di sana (Autor pun pernah membaca Sholawat Kamila di depan para guru karena nge-cat rambut dengan warna nge-jreng!! 🤭)
"Kakek---."
"Bukankah kamu menanyakan perihal pernikahan dengannya." Sambar Kyai Bahi.
Enda seketika diam. Entah itu sebuah kesalahan atau keberuntungan, karena hal itu dirinya semakin di dekatkan dengan Yasmine, gadis dingin yang mulai mengusik hati.
Kyai Bahi menceritakan niat awalnya, yang sudah lama ingin menjodohkan Yasmine dan Enda. Namun karena Enda awalnya belum berniat untuk menikah, dirinya nggak bisa memaksa sang cucu untuk segera melamar sang gadis. Mengetahui Enda membahas perihal niat menikah, Kyai Bahi langsung bersemangat. Bukankah itu artinya sudah ada niat untuk menikah dalam diri sang cucu.
__ADS_1
Ketika manusia ber-angan begitu indah, sejatinya segala keputusan ada di tangan sang maha pencipta. Sayang sungguh sayang, sehari sebelumnya Yasmine telah di lamar seorang pemuda, teman sekampus Yasmine. Seorang anak pemilik perkebunan sawit di desa mereka.
"Siapa Ayah?." Tanya Yasmine, hatinya retak, seandainya Enda segera melamar, dirinya nggak akan bimbang harus memilih siapa. Ini bukan kali pertama Yasmine di lamar seorang pemuda. Sebelumnya juga ada yang melamar, namun kedua orang tuanya menolak. Melihat wajah bimbang mereka, Yasmine merasa lamaran itu sedang mereka pertimbangkan. Sebagai anak pancingan, dirinya merasa harus mematuhi segala keinginan kedua orang tua angkat itu, sebab mereka selalu memberikan yang terbaik dan bersikap baik pula kepadanya. Kasih sayang tak kunjung berkurang, meski anak kandung mereka telah lahir ke dunia.
"Yahya, teman masa kecilmu."
Anak orang berada, tentu mereka akan mempertimbangkan lamaran itu. Sedangkan Enda, mereka nggak tau apa pekerjaan pemuda ini, selain bertatus cucu Kyai.
Menunduk, Yasmine sungguh nggak berdaya.
"Kedatangan kami pun karena ingin menyampaikan perihal lamaran ini kepada Yasmine. Kami berharap putri kami mau mempertimbangkan lamaran ini. Tapi, kalau Yasmine hendak menerima lamaran cucu Kyai, kami pun nggak bisa melarang, karena dia yang akan menjalani pernikahan itu" di luar dugaan Yasmine, sang Ibu berkata seperti itu.
Meremat jemari, Enda sungguh sangat menyesal, karena sempat menolak anjuran sang Kakek untuk menikah.
"Yasmine" ujarnya pada sang gadis.
"Semuanya saya serahkan kepada Ayah dan Ibu" ujar gadis itu.
Sementara itu di tempat lain, Arjuna tengah berbicara dengan sang Ayah. Dia tau sang Ayah lebih muda dari sang Ibu. Dan perbedaan usia itu sempat menjadi rintangan dalam perjalanan cinta mereka.
"Ayah maju terus. Biarpun Ibu galaknya minta ampun, Ayah nggak takut." Tersenyum menampilkan lesung di kedua pipi, ketampanan itu tak jua luntur dari wajah sang Ayah. Tawa itu menular kepada Arjuna, pemuda ini tertawa dengan sepasang mata melengkung seperti bulan sabit. Hal apa lagi yang mereka tertawakan, selain wajah cemberut sang Ibunda.
"Kalian ngetawain Ibu?" menunjuk dengan bolpoin, sang Ibu yang berprofesi sebagai penulis ini memainkan benda itu di hadapan suami dan putranya.
"Lihat, galak banget kan" bisik sang Ayah.
"Iya Yah. Tapi tetap aja cantik." Sang putra berkomentar.
"Karena itulah, walaupun galak Ayah tetap maju. Selama dia masih sendiri, nggak salah kan kalau Ayah terus maju."
Ucapan sang Ayah tak lagi membuat Arjuna tertawa, justru sebaliknya. Pemuda itu menggigit bibir, kemudian memasang wajah muram"Masalahnya, wanita yang Arjuna suka sudah ada yang punya, Ayah....Ibu..." ujarnya lirih.
Sontak sang Ibu memukul kening sang putra"Heh!! kamu tau dosa kan?. Merebut wanita yang sudah bersuami itu nggak boleh!! dosa!" sang Ibu menegaskan.
__ADS_1
"Nggak berniat merebut kok Bu!!" sanggah Arjuna seraya memegangi kening.
"Terus??" Ayah dan Ibunya bertanya bersamaan.
"Kalau Arjuna mendoakan dia cepat berpisah dengan suaminya di sepertiga malam, nggak dosa kan??"
"Arjuna!! doa macam apa itu??" hardik sang Ayah.
Dari nada bicaranya, Arjuna dapat merasakan emosi sang Ayah melonjak naik. Sedangkan sang Ibu beranjak dari duduknya, bersiap menjewer telinga sang putra. Arjuna nggak akan sudi menunggu, jemari lentik Ibu kalau menjewer sakit banget!!.
"Siapa wanita itu, Arjuna!" sang Ayah bertanya, sedang sang putra sudah berada di muara tangga.
Seraya menapaki anak tangga pertama"Rahasia."
Geram, sang Ayah maju selangkah, dan Arjuna selangkah menurini tangga. Sengaja membangun jarak dari mereka, Arjuna berniat segera pamit diri dari kediaman mereka.
"Arjuna!" seru Ibunda.
Sudah cukup keningnya menjadi ladang jentikan jemari Ibu. Dia nggak akan sudi menerima jentikan itu lagi. Lekas menuruni tangga, Arjuna berseru dari lantai bawah"Arjuna pamit ke rumah Nenek. Assalamualaikum!!."
"Waalaikumsalam" sahut Ayah dan Ibu dari lantai atas, pasrah dengan jalan ninja sang putra menarikan diri.
"Ayah kalem, aku pendiam, kok anak kita jadi begitu?."
"Kamu lupa dia punya paman dari planet lain" sang Ayah terkekeh.
"Akh!! bocah satu itu!. Gimana kabar istrinya!" wanita ini mencari-cari ponsel miliknya, berniat menelpon sang adik laki-lakinya.
To be continued...
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya ya.
Salam anak Borneo.
__ADS_1