
Senyum di kulum, Bae nggak bisa menyembunyikan rasa senang di dalam dada. Terlebih Mecca juga senang meladeni tatapan penuh cinta Bae, alhasil Arjuna membangun jarak di antara Bae dan Mecca.
"Kelak kalau matanya di bikin rabun sama Allah, baru tau rasa!!."
Buset!! sindirian Arjuna ngeri sekali. Meski nggak percaya akan kepercayaan mereka, kerap berkumpul bersama Arjuna dan keluarganya membuat Bae merasa takut, karena mereka selalu melibatkan sang maha pencipta dalam setiap urusan, baik itu dunia atau akhirat.
"Bang Bae tuh!! suka ngedipin mata ke Mecca. Mecca cuman balas candaan dia saja, nggak ada maksud lain."
"Becanda?" tanya Arjuna berbisik pada Bae.
Pemuda berkulit putih itu cengengesan"Hihihi, kalau di bolehin aku seriusin."
"Berani ngadepin Abi Khair?."
Bae menggeleng, dia sadar ada banyak perbedaan di antara dirinya dan Mecca. Dari pada patah hati dia selalu menepis rasa ingin memiliki itu.
Mecca bukan nggak tau akan perasaan Bae, tapi balik lagi, dinding perbedaan itu sangat tinggi. Cukup menganggapnya sebagai Abang, sama seperti dirinya menganggap Arjuna, Mecca rasa hal itu jauh lebih baik.
"Gimana kabar pengantin baru?" Nenek Adila kepo dengan perkembangan sepasang pengantin baru, dia memberondong Mecca dengan berbagai pertanyaan, karena gadis ini tengah berlibur di desa ini dan menginap di kediaman Syailendra.
"Ya gitu deh, lagi lengket banget kayak perangko. Mecca seperti hantu, nggak di anggap ada di sana. Di ruang tamu nonton TV sambil bermesraan, di teras belakang makan cemilan sambil bermesraan. Tadi habis makan malam mereka mojok lagi di teras depan, sambil bakar ubi. Sumpah Nek, mata Mecca sakit banget melihat kelakuan mereka!!." Berbicara dengan gerak tangan, seolah memperagakan kemesraan Syailendra dan Fateena di kediaman itu.
Bae terkekeh, Mecca benar-benar lucu di matanya. Adila juga terkekeh, cucu yang satu ini banyak bicara dan selalu ada-ada saja tingkahnya.
Arjuna, pemuda ini membayangkan apa yang di kisahkan oleh Mecca, perasaan iri pun muncul seketika. Meski dia sangat ingin melewati hari-hari indah bersama Salwa dalam ikatan suci pernikahan, kalau waktunya belum tiba dia bisa apa?!. Kini Arjuna hanya bisa tersenyum masam, kalau dia memberengut maka akan menjadi bahan ejekan Bae, Mecca dan Nenek Adila.
Api unggun bekas Syailendra dan Fateena membakar ubi terlihat dari halaman depan rumah Nenek Adila, dia hendak memanggil mereka berdua untuk bergabung, namun Mecca melarang.
"Biarin aja Nek, Mecca ke sini biar nggak nyesek melihat mereka mesra-mesraan.
"Oh, oke deh. Biar nggak bosan gimana kalau kita main tantangan atau kejujuran."
Saran Nenek Adila di setujui mereka semua, malam itu ada banyak kejujuran terungkap. Dari perasan Bae yang hanya di anggap lelucon oleh Mecca, padahal dia sangat tau hal itu bukan candaan semata. Sampai kejahatan Mecca di masa lalu.
__ADS_1
"Hemmm, Mecca mau jujur sama Nenek."
Kedua alis Adila terangkat naik. Kejujuran apa ini?.
"Bubur ba'ayak yang dulu Nenek bikin, yang hilang di kediaman Ibu Jena. Sebenarnya waktu itu Mecca yang ambil."
"Heh!!!" sontak Adila dan Arjuna menatap Mecca. Gadis ini cengengesan.
"Hihihi, maaf."
"Mecca!! kok mencuri makanan!!" hardik Arjuna.
"Kan punya Nenek sendiri. Lagi pula waktu itu Mecca masih kecil sekali, jadi nggak apa-apa dong berbuat kesalahan."
"Justru karena masih kecil, mengambil milik orang lain tanpa izin itu bisa membahayakan diri sendiri. Bagaimana jadinya kalau hal itu menjadi kebiasaan, dan terbawa hingga dewasa?" Bae seperti pak Ustadz, setelah sempat memberikan nasihat kepada Arjuna kini dia juga memberikan nasihat kepada Mecca.
Adila lagi-lagi di buat tertegun akan sosok Bae. Pemuda ini sangat paham akan norma-norma baik dalam kehidupan.
Dua jempol kembali terangkat untuk Bae. Bae jadi tersipu malu"Maaf Nek, Bae banyak ngomong ya."
Mengusap pucuk kepala Mecca"Nenek maafin, tapi nanti minta maaf juga sama Om Gibran ya."
Teringat Om Gibran, lelaki itu menjadi sasaran kemarahan Adila saat kejadian menghilangnya bubur tersebut. Cubitan jemari lentik Adila mendarat sempurna di perutnya.
"Iya Nek, nanti Mecca telepon Om Gibran."
"Bagus!" seru Adila.
Sementara Arjuna menarik tubuh Bae agar lebih dekat dengannya"Kamu sudah kayak Kakek Bahi, kenapa nggak login aja biar dapat restu menikahi Mecca" Arjuna, mulutnya nggak ada filter malam ini. Untungnya Bae bukanlah orang yang mudah tersinggung, dia malah menyadari hal itu hanya gurauan.
"Di depak Mamah dari kartu keluarga nanti, memang kamu mau aku datang melamar Mecca cuman modal si joni?" kali ini giliran Bae yang berbisik, ketika membahas joni di bawah sana mereka spontan menurunkan volume saat bicara.
"Ya enggak lah."
__ADS_1
Jawaban Arjuna membuat Bae tertawa, begitu juga dengan Arjuna sendiri.
Sementara Adila dan Mecca nggak mendengar bisikan dua lelaki ini.
"Bisik-bisik saja terus!!" Adila menatap Bae dan Arjuna bergantian.
"Hehehe, obrolan cowok Nek, nggak baik kalau sampai terdengar di telinga Mecca."
"Pasti jorok deh" terka Mecca.
"Hus!!" Adila menyuruh Mecca nggak menanggapi ucapan para lelaki, nggak ada habisnya kalau bicara perihal pikiran liar para lelaki.
...----------------...
sebuah cincin dengan mata hijau, Jena menatap cincin yang tersimpan rapi di dalam kotak itu. Agam mendapati sang istri tengah memandanginya, dia pun duduk bersamanya di tepian ranjang.
"Nggak rela memberikan cincin itu kepada calon menantu kita?. Kita bisa mencarikan cincin yang lain saja."
"Bagaimana aku bisa nggak rela, sedangkan Bunda memberikan cincin ini kepadaku dengan suka rela" menangkup wajah sang suami, lelaki yang sangat menyayangi dan menghargai dirinya selama ini. Dalam lamunan itu Jena memikirkan bagaimana pedihnya Salwa bertahan mengarungi biduk rumah tangga bersama Randy, Jena teringat akan dirinya yang juga sempat menjalani kehidupan berumah tangga dengan lelaki yang nggak baik untuknya saat itu. Apalagi Salwa juga tersingkirkan oleh Mia, sama seperti dirinya yang dahulu juga tersingkirkan oleh Tiara.
"Mas, aku nggak menyangka Arjuna sama seperti mu, saat jatuh cinta nggak akan mudah untuk berpaling."
Agam memperbaiki kerah baju yang dia pakai, membuat Jena tersenyum.
"Dasar orang tua, sudah tua pun masih bisa berlagak keren!!."
"Jenaira Sayang, tua itu nggak bisa di hindari, tapi meski sudah tua jiwa kita harus selalu muda. Ingat, di dalam surga nggak ada orang tua, itulah mengapa kita harus selalu berjiwa muda."
"Heii!! hentikan omong kosong itu!" Jena mencubit pipi Agam pelan. Agam nggak diam saja, dia menoel pipi Jena dan terjadilah kegaduhan di sana.
Kanaya bersama anaknya saling berpandangan. Bukan hal baru lagi kalau dua orang tua di lantai atas sana masih sering bercanda seraya berkejar-kejaran seperti bocah TK. Ckckckkc!!.
To be continued...
__ADS_1
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya ya.
Salam anak Borneo.