Memeluk Kekasih Dalam Doa

Memeluk Kekasih Dalam Doa
Risalah cinta


__ADS_3

"Wajar mau di kepret Ibu, doamu aneh tau!."


Memutar bola mata, Arjuna jengah dengan ucapan Syailendra. Dari tadi yang di bahasa itu melulu, dia jadi menyesal sudah mencurahkan isi hati padanya.


"Dari pada doa Abang, maksa sama Allah" giliran Arjuna yang bicara. Bukan cuman dirinya, sang Abang juga mencurahkan isi hati kepadanya.


"Bukan maksa, Abang cuman lebih menekankan sama Allah."


"Hilih!, masa doanya"Ya Allah, kalau dia bukan jodohku, jadikanlah dia Ibu dari anak-anak ku." Meledek, Arjuna mengulangi cara Enda melayangkan doa kepada sang maha pencipta.


"Kan Abang lagi usaha."


"Sama, aku juga usaha Bang. Makanya ku sebut namanya di sepertiga malam ku." Ujar Arjuna.


"Dengan memintanya cepat berpisah dari suaminya?" Enda menatap Arjuna lekat. Kali ini sikap Arjuna memang rada aneh bagi Enda. Sejauh ini nggak pernah terdengar menaruh hati kepada wanita, eh giliran suka maunya sama yang sudah di miliki orang. Kalau begini apakah Arjuna sudah bisa di katakan pebinor??.


Melepaskan peci di atas kepala, Arjuna merebahkan diri di pelataran Masjid desa tempat tinggal Nenek Adila"Suaminya kasar kok sama dia. Cuman di awal pernikahan aja dia baik. Giliran Salwa mau berpakaian sopan malah di larang, dan nggak segan mencaci Salwa. Ingat itu hatiku jadi panas Bang!. Masa, demi lelaki seperti itu Salwa menolak lamaranku!." Arjuna berbicara pelan, takut obrolan ini di dengar orang lain. Makhlum saja, telinga Netizen di desa ini tajam banget!.


Ikut merebahkan diri di pelataran Masjid berbahan kayu Ulin itu"Gimana ya, Salwa cantik sih. Wajar kalau itu suami tergila-gila sama tubuhnya."


Plak!!. Arjuna memukul kening Enda, sontak pemuda itu mengaduh dan duduk kembali. Sedangkan Arjuna memalingkan wajah dan masih dalam posisi rebahan.


"Kira-kira dong!. Kalau wajah tampan aku lecet gimana? kamu mau tanggung jawab?."


Memiringkan badan hingga memunggungi Enda"Tampan tapi lamaran di tolak. Kasihan banget!."


Ingin menyangkal tapi itulah kenyataannya. Setelah memikirkan siapa yang lebih dahulu melamar, Yasmine dan keluarga menerima lamaran teman masa kecil Yasmine. Bukan apa-apa, Yahya dan Enda sama-sama baik, sama-sama mapan dan bisa memberikan kehidupan yang baik untuk Yasmine, insa Allah. Melihat gelagat kedua orangtuanya lebih condong kepada Yahya, maka Yasmine memutuskan untuk bersama Yahya, orang yang melamarnya sebelum Enda.


Pemuda itu masih kuliah, untuk sekarang mereka hanya terikat tali pertunangan.


"Memang lamaran kamu di terima?" dengan nada datar tapi cukup nyaring, Enda seolah memberikan kaca kepada Arjuna. Dua anak manusia ini sama-sama di tolak lamarannya, yang membedakan hanyalah waktu, karena Arjuna yang lebih dulu mendapatkan penolakan.


Merubah posisi menjadi tengkurap"Kalau ngomong jangan keras-keras, bahkan dinding dan lantai pun punya telinga Bang."


Mengerti akan maksud perkataan Arjuna, Enda hanya mengusap keningnya pelan"Akh! sudahlah. Kita lupakan dulu keresahan ini." Ujarnya akhirnya.

__ADS_1


Usai membahas masalah percintaan masing-masing, dua pemuda ini memeriksa pembangunan hunian milik Arjuna. Terletak nggak jauh dari kediaman Nenek Adila, ada dua bangunan yang sedang di proses, karena ini kali pertama berkunjung ke lokasi tersebut, Enda menanyakan bangunan tersebut"Itu mau kamu bangun jadi apa?."


"Rumah."


"Yang ini?" tunjuk Enda pada bangunan di depan mereka.


"Rumah juga."


Kening Enda di buat berkerut"Kamu bikin rumah dua?."


Mendekati sang Abang lagi"Lho, katanya mau sekalian bangun rumahnya. Ini rumah aku dan itu rumah Abang." Rupanya bangunan yang pertama di tunjuk Enda adalah calon hunian miliknya.


Terkekeh"Abang cuman bercanda waktu itu."


"Bagiku nggak ada bercanda kalau masalah hunian Bang." Sahut Juna mengajak Enda ke lokasi bangunan itu.


"Ayo kita lihat. Aku sengaja mengundang Abang ke sini biar tau. Modelnya mau samaan apa Abang punya model impian sendiri."


"Udah di bangun baru ngasih tau. Udah telat dong, kerangkanya udah di bikin."


"Akh! kalau begini tabungan Abang bakal terkuras, soalnya Abang maunya hunian yang modern. Nggak mau samaan kayak kamu" berceloteh, dua pemuda ini berjalan mengitari bangunan hunian mereka.


Arjuna tersenyum"Terserah Abang sih. Ingat ya, tanah nya belum di bayar. Punya Nenek Adila nih, kita belum membicarakan soal harga sama Nenek."


Kedua bola mata Enda membulat"Heh bocah!. Bisa-bisanya kamu bangun rumah nggak tau harga tanahnya!. Gimana kalau harga tanahnya mahal, deposit ku bisa menjerit!!."


"Ya elah Bang, panik amat. Tenang, tanah di sini murah, apalagi punya Nenek Adila. Beliau pasti ngasih harga cucu buat kita." Saat ini Arjuna sedang nggak memakai masker, pemandangan yang jarang terlihat bagi warga desa. Dan karena hal itu Arjuna menarik banyak perhatian sekarang, termasuk tukang bangunan yang sedang bekerja di dekat mereka.


"Den, cakep begitu kok suka di tutup pake masker?."


"Hanya kebiasaan Pak. Rasanya lebih percaya diri aja kalau memakai masker."


"Kalau saya Pak, gimana?" memamerkan pahatan illahi di wajahnya, Enda berpose bak seorang model di depan Pak tukang bangunan.


Dua bapak-bapak itu mengacungkan dua jempol masing-masing"Cakep banget Den!."

__ADS_1


Syailendra tersenyum puas. Melirik seolah meledek pada Arjuna.


"Pasal wajah doang bangga. Oke, mulai sekarang aku bakal pelan-pelan ninggalin masker. Abang siap bertanding nggak?."


Menepuk pundak sang Adik"Bisa narsis juga kamu kulkas empat pintu."


...****************...


Yasmine semakin menjadi pendiam. Sejatinya cinta yang telah berkecambah kini tumbuh dengan suburnya. Namun sayang, perasaan cinta itu harus di pupuk lelaki lain, bukan lelaki yang sudah lama di pandangi dalam diam. Kalau begitu akankah kembang yang mekar dapat seindah yang di bayangkan?.


"Ya Allah, engkau sang maha pembolak-balik hati, bantu aku menghapus rasa yang nggak seharusnya ada ini" pintanya di tengah malam yang sunyi.


"Duhai sang maha pencipta, titipkan sabar itu lebih banyak lagi, kalau memang dialah jodoh pertama dan terakhir ku" Salwa pun melayangkan doa saat itu.


Mereka para pemuda yang sedang di usik cinta, doa-doa mereka tengah bertarung di atas sana, melangit begitu tinggi demi mencapai restu illahi. Entah, doa siapa yang akan lebih dahulu di kabulkan, entah doa siapa yang hanya mengambang dan perlahan memuai di atas awan, karena sang pendamping impian bukanlah jodohnya.


"Ya Allah, kalau dia bukan jodohku, kenapa bayangnya masih lekat di dalam kalbu. Apakah ini tipu muslihat setan?. Jika itu benar maka tolong hapus perasaan cintaku padanya." Bergumam Arjuna malam itu. Sangat perlahan hingga tersamarkan denting jam di dinding.


Syailendra pun telah melangitkan doa kepada sang maha kuasa, dan doanya nggak pernah berubah, meminta Yasmine menjadi Ibu dari anak-anaknya kelak.


Saat hendak keluar dari Masjid, atensi Syailendra tersita pada sebuah Risalah amaliyah. Risalah itu tergeletak di ujung bagian depan shaf perempuan. Rasanya nggak elok membiarkan Risalah berisi surah Yasin, Waqiah, Al-mulk juga doa-doa keseharian itu tergeletak di lantai. Maka Enda pun berniat memindahkannya ke rak Al-Qur'an.


Pada tepian risalah tertulis dengan jelas siapa pemilik Risalah itu. Menelan saliva usai membuang nafas perlahan"Bahkan Risalah milikmu pun aku yang menemukan. Aku sudah pernah meminta jarak untuk kita kepada Allah, tapi rasanya begitu sulit."


Niat hendak pergi dari Masjid terjeda, Enda tertarik pada benda milik Yasmine itu. Di sudut pintu yang menghadap jalanan, Enda membuka setiap helai lembaran Risalah.


"Sungguh pelik, tak ayal aku seperti waqaf mu'annaq, hanya boleh berhenti di salah satu dari kalian." Pada lembaran terakhir, Yasmine menuliskan kata-kata itu.


"Maka jadikan aku fi'il mudore mu, aku janji akan memberikan jatah bahagiaku hanya kepadamu." Tulis Enda di bawah kata yang Yasmine tuliskan.


To be continued...


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya ya.


Salam anak Borneo.

__ADS_1


__ADS_2