
Kedatangan Randy menjadi pemicu sakitnya Pak Anton, Ayah Salwa. Baru datang setelah sekian lama mengajukan perceraian, dan dia datang bersama Mia, wanita yang telah di nikahinya di bawah tangan. Dia pun mengungkapkan akan segera meresmikan pernikahan mereka secara negara setelah urusannya dengan Salwa usai, demi menghormati dan menghargai Salwa yang telah bersamanya dahulu. Pil pahit dalam kehidupan, bukan sekali ini harus Pak Anton tenggak, namun jika itu menyangkut anak-anaknya betapa hati semakin terluka.
Merenung sejak kepulangan Randy, orang tua ini pun sampai melupakan waktu sholat Asharnya. Saat hendak mengambil air wudhu, rasa sakit di dada tiba-tiba datang menyerang hingga dia pun tumbang. Di tambah saat terjatuh dadanya mengenai bak mandi, alhasil semakin menjadi sakit yang di derita.
Kini Salwa terduduk lemas di depan kamar inap sang Ayah. Bukan semata karena sakit sang Ayah, Arjuna mengurusi prosedur di rumah sakit, dia bahkan membayarnya. Berkali Nur melarang, namun keharusan untuk membayar harus dipenuhi, kalau ingin Anton di rawat di sana.
"Rumah sakit apa ini!! mereka malah memeras orang lemah." Hanif menggerutu. Bukan nggak punya biaya, karena panik Salwa meninggalkan dompet di rumah.
"Nanti aku bayar" ucap Salwa lirih.
"Nggak perlu."
"Aku nggak mau berhutang budi."
"Aku tulus kok, cuman membayar biaya mendaftaran saja. Lagipula, kenapa Ayah kamu nggak punya kartu berobat dari pemerintah?."
"Entahlah, aku juga baru tau" sahut Salwa.
"Ibu juga nggak punya?."
"Dulu kami semua punya, lama nggak di bayar jadinya nggak bisa di pakai lagi. Harus di urus lagi Nak Arjuna" jawab Nur malu-malu.
"Mau saya bantu uruskan nanti?."
Mendengar niat baik Arjuna, Salwa lekas bersuara"Enggak perlu. Nanti aku saja yang urus." Sungguh wanita ini nggak mau berurusan dengan lelaki yang satu ini, orang yang sudah dia tolak namun kini datang sebagai penyelamat.
"Iya Nak Arjuna, nanti biar Salwa yang urus" Nur berucap.
"Iya Bu" sahut Arjuna.
Salwa pamit diri menuju toilet, saat itu ponsel Arjuna berdering. Maka pemuda itu pun pamit diri untuk menerima telepon.
Rasa penasaran Randy akan Arjuna semakin menjadi, setelah dengan mudahnya mereka bertemu namun Arjuna tetap menolak kerjasama yang Randy ajukan. Orang yang menelpon adalah Randy, dia masih berniat meluluhkan hati Arjuna.
"Maaf Pak Randy, saya sedang di rumah sakit. Lain waktu saja kita bicara bisnis lagi."
"Oh ya? di rumah sakit mana? saya juga sedang berada di rumah sakit."
"Rumah sakit C" ujar Arjuna.
"Wah!! kebetulan, saya juga di rumah sakit itu. Bagaimana kalau kita ngopi bersama, saya janji nggak akan bicara bisnis."
Nggak jauh dari Arjuna, Salwa terlibat berlari kecil. Dia nampak ketakutan.
"Nanti saja. Saya sedang sibuk" tanpa basa-basi Arjuna memutus panggilan.
Gegas dia menghampiri Salwa"Kamu kenapa??."
__ADS_1
"Aku melihat mantan suamiku di sini. Aku nggak mau lagi bertemu dengannya!" ujarnya lirih.
Salwa menutupi wajahnya dengan juntaian kerudung yang dia kenakan, terlihat jelas dia ketakutan. Bagaimana enggak, sebelum pulang dari rumahnya Randy berniat mengambil ciuman di pipinya, sungguh hal yang menjijikan!!.
"Ku lihat kamu sedikit kurus dari saat terakhir kita bertemu. Kamu cantik Salwa" bisikan itu membuatnya hendak muntah.
Benar saja, kini Randy berada di hadapan Arjuna, dan Salwa tentunya"Itu dia!!" bisik Salwa. Lekas Arjuna menarik lengan Salwa yang terbungkus baju lengan panjang untuk bersembunyi di belakangnya. Apalah besarnya tubuh Salwa, kalau di belakang Arjuna dia masih bisa bersembunyi.
"Lihatlah, kita benar-benar bertemu Pak Arjuna" seru Randy langsung mengulurkan tangan. Mau nggak mau Arjuna menyambut uluran tangan itu.
"Hal apa yang membawa anda ke sini?" sekedar berbasa-basi, Arjuna bertanya.
"Sebentar lagi saya akan jadi Ayah."
"Oh ya?? wah selamat Pak Randy."
"Ya Terimakasih. Lantas, bagaimana dengan anda? apa yang membawa anda kemari?" mata Randy melirik sosok di belakang Arjuna.
"Owh, juga memeriksa kandungan Istrinya?. Tapi yang saya tau anda belum menikah."
Arjuna tersenyum saja. Dia masih memikirkan cara untuk menjawab ucapan Randy.
Salwa menarik kemeja Arjuna, dengan jemari yang bergetar. Berharap jangan sampai Randy tau bahwa itu dirinya. Sementara Mia melirik Salwa, seorang wanita yang menutupi rapat wajahnya.
"Kenapa menutup wajahnya seperti itu."
"Ayah kami sakit, mendadak dadanya terasa sakit. Karena panik dia meninggalkan cadarnya di rumah. Jadi, ya... seperti inilah dia, bersembunyi demi menutup wajahnya."
"Sangat nggak di sangka Pak Arjuna memiliki istri yang memakai cadar."
"Kenapa dengan wanita bercadar?" nada nggak suka mulai terdengar dari Arjuna.
Salwa mengangguk sekedar menyapa Mia, yang terus memandangi dirinya. Mia pun membalas sapaan itu"Siapa namanya?."
"Wawa" sahut Arjuna.
Mulut Mia membulat, dengan mengangguk samar.
"Itu hanya tentang selera" Randy menjawab pertanyaan lawan bicara.
"Ya. Dan selera saya wanita seperti dia" ada gelenyar aneh menyapa jiwa, hati Salwa bergetar mendengar ucapan Arjuna.
"Hahaha, iya. Selera orang memang berbeda-beda. Bagaimana dengan acara ngopi kita?."
"Lain waktu saja."
"Baiklah. Kami permisi ya."
__ADS_1
"Heem" sahut Arjuna.
Saat jauh dari Arjuna, Randy tertawa kecil"Seleranya rendah sekali. Sukanya wanita ninja."
"Hemm, kalau aku?" dengan manjanya Mia meminta pendapat Randy.
"Apa perlu aku jelaskan lagi?." Melirik Mia nakal.
Mia tertawa malu, Randy sangat menggilai tubuhnya, selalu menyatakan cinta saat mereka bercinta.
Kembali pecah, hati yang sedang di balut untuk sembuh itu kembali tersakiti. Di saat dirinya hamil, Randy telihat uring-uringan. Sedangkan saat Mia hamil, wajahnya terlihat bahagia sekali.
Salwa meninggalkan Arjuna tanpa bicara. Di setiap langkah kenangan saat bersamaan Randy kembali berkelebat di dalam pikiran. Hingga"Saat aku hamil, dia terlihat nggak bahagia" Salwa berkata lirih.
Perih hati wanita ini seolah sampai pada hatinya, Arjuna menatap punggung Salwa yang terus melangkah"Nggak seharusnya saat itu kamu memilih dia dari pada aku" gumam sang hati.
Mengikuti langkah Salwa, Arjuna melihat Salwa menyeka air mata beberapa kali. Dia pun melontarkan tanya"Kamu masih mencintainya?."
"Enggak. Aku sendiri yang bersiasat agar di lepaskannya."
"Kenapa?."
Langkah Salwa berhenti"Terimakasih sudah membantu kami. Biaya pengobatan Ayah akan tetap aku bayar. Berikan aku nomor rekeningmu" alih-alih menjawab pertanyaan Arjuna, Salwa berkilah pada masalah sang Ayah.
"Masalah Ayah biar kami yang mengurusnya. Kamu kembalilah kerumahmu."
"Uang itu nggak perlu di kembalikan Salwa."
"Sudah ku bilang, aku nggak mau berhutang budi. Kalau kamu nggak mau memberikan nomor rekening, aku bisa mengantarkannya ke rumah Nenekmu."
Mempercepat langkah Salwa pun meninggalkan Arjuna.
"Bagaimana kalau kamu membayar dengan cara lain?."
Salwa berbalik, dan kini wajah tampan itu terlihat jelas di matanya"Dengan cara apa?."
"Menikahlah denganku."
Waktu seolah berhenti, menyisakan dua insan yang saling berhadapan. Rasanya nggak kuat untuk beradu pandang, hingga Arjuna hanya menatap ke lain arah.
"Sudah ku katakan, aku akan menjadi seorang...."
"Ibuku pun seorang janda saat di nikahi Ayahku" sambar Arjuna.
Nur dan Hanif diam mendengarkan. Sungguh hati Nur sangat ingin Salwa bahagia bersama pria yang tepat, apakah itu Nak Arjuna?.
To be continued...
__ADS_1
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya ya.
Salam anak Borneo.