Memeluk Kekasih Dalam Doa

Memeluk Kekasih Dalam Doa
Pagi yang manis


__ADS_3

Setelah resmi menjadi seorang istri, Fateena menanyakan apakah Syailendra memberikan izin untuknya tetap mengajar di panti. Mengingat dirinya yang kerap menghabiskan waktu di dapur restoran, Syailendra rasa dengan beraktivitas di luar rumah maka Fateena nggak akan bosan. Namun kini giliran Syailendra yang melontarkan tanya kepada sang istri.


"Kamu sendiri apa masih mau mengajar di sana?." mempersiapkan diri hendak berangkat ke restoran, Syailendra tersenyum senang saat Fateena mengambil sisir di tangannya, dan dengan perlahan mulai membantunya merapikan rambut.


Sedikit berjinjit Fateena menjawab"Kalau Mas mengizinkan, aku akan tetap mengajar. Tapi kalau Mas nggak mengizinkan aku akan di rumah saja. Mungkin aku akan belajar menanam sayuran seperti Juwita.


Mengerti dengan perbedaan tinggi badan mereka hingga membuat sang istri sedikit kesulitan merapikan rambutnya, Syailendra menarik Fateena ke tepian ranjang dengan dirinya yang duduk di sana.


Garis senyum melengkung indah di bibir Fateena"Terimakasih atas pengertiannya, suamiku."


Hei!! Syailendra melirik nakal kepadanya"Coba ulangi?."


"Ulangi apa?."


"Kata-kata yang tadi."


"Terimakasih."


"Selanjutnya" mengalungkan tangan di pinggang kecil Fateena.


Wanita ini memanggilnya dengan sebutan suami lagi. Syailendra membenamkan wajah di perut Fateena, dia tersipu malu. Obrolan mereka terjeda karena saling menggoda, Fateena bahkan gagal menyisir rambut sang suami dengan benar, sebab gemas dia pun mengacak rambut Syailendra.


Sejenak bercanda, Fateena kembali bertanya"Bagaimana suamiku, aku akan lanjut mengajar atau di rumah saja."


"Kalau kamu masih mau mengajar aku siap menjadi supir pribadimu, istriku."


Fateena kembali tertawa, hanya seperti ini saja hati mereka sudah di penuhi bunga-bunga. Andai Syailendra tau dari awal beginilah manisnya bercanda dengan kekasih halal, saat di suruh mencari istri dia akan langsung mencari Fateena, alih-alih menolak tawaran itu dulu.


Sedikit berwisata ke masa lalu, Fateena yang dulu dingin kini perlahan menghangat. Dirinya yang dulu irit biara kini sudah bisa mengajak lawannya untuk bicara lebih dulu. Juga senyumnya, yang dulunya jarang terlihat kini selalu menghiasi wajah cantik di balik cadarnya.


Sebelum dia mengenakan cadar itu, Syailendra mendaratkan ciuman di kedua pipi"Jam berapa biasanya kamu selesai mengajar?."


"Sebelum waktu Dzuhur."


"Hemm, baiklah" mengikat dengan perlahan"Segini?" ujarnya membantu Fateena mengikat tali cadarnya.


"Segitu cukup."


Usai mengikat erat Syailendra membalikkan tubuh sang istri dan merapikan kain penutup wajah itu"Sejujurnya bahkan kedua matamu pun terlihat cantik."

__ADS_1


"Oh ya? apa aku harus menutupnya juga?."


"Dengan memakai kaca mata hitam?" canda Enda lagi.


"Enggak mau!!" Fateena merengek tapi dia tau Enda hanya bercanda. Kemesraan di pagi ini, membuat Mecca melengos lagi. Waktu libur masih dua hari, dan dirinya harus menyaksikan kemesraan ini selama itu lagi. Sebenarnya Mecca bisa saja meninggalkan mereka berdua saja bukan, tapi pribadi Fateena sangat di sukainya. Dia senang memiliki Kakak ipar yang baik dan perhatian kepadanya, apalagi Fateena kerap memanjakannya.


Ekor mata Fateena menangkap bayangan Mecca yang terlihat kepalanya saja, menyembul di muara pintu kamar.


"Eh Mecca, ada apa?."


"Kakak akan mengajar ya hari ini?."


"Iya. Kenapa? mau titip sesuatu? Kakak bisa membelikan apa yang kamu mau? makanan? atau minuman?."


"Jangan memanjangkannya!! nanti dia besar kepala."


"Mas, melihat Mecca aku seperti melihat Rania, aku merindukannya."


Mecca merasa senang, dirinya ada yang membela"Julid banget sih Bang!."


Seraya mencibir, Syailendra melirik kepada Mecca.


"Enggak!!." Sambar Enda


"Boleh" sahur Fateena.


"Abang!! Mecca pasti akan bosan di rumah sendirian."


"Temani Nenek Adila saja, beliau juga sendiri di rumah." Meraih ponsel di nakas seraya menarik lengan Fateena.


Wajah manis Mecca terlihat masam, Fateena jadi nggak tega meninggalkannya.


"Sudahlah Mas, biar dia ikut aku saja. Lagipula di panti dia bisa bermain dengan anak-anak di sana, ada beberapa yang usianya nggak jauh di bawahnya."


Awan mendung seketika sirna, Mecca tau sang Abang nggak bisa menolak keinginan Fateena.


"Awas ya, jangan bikin ulah di sana!!. Jangan nakal kamu!!."


Seperti sedang hormat kepada sang saka merah putih"Siiaaaaapppp!!."

__ADS_1


Enda dan Fateena menggelengkan kepala bersamaan.


...****************...


Anton masih di rawat di rumah sakit, beberapa kali Arjuna menengoknya namun nggak pernah bicara berdua saja dengan Salwa. Sikap Arjuna kerap menciutkan hati Salwa, dia terlihat nggak lagi suka padanya. Padahal sebelumnya Arjuna nggak begini, dia bahkan mengajak Salwa bicara banyak ketika mereka bertemu di tepi danau. Dia juga menawarkan payung kepadanya saat bus mogok di hari hujan, dia juga selalu mengajak Salwa menikah di setiap kesempatan. Setelah Salwa menjawab akan menerimanya setelah waktunya tiba, Arjuna justru membangun jarak di antara mereka, Salwa sungguh nggak mengerti dengan sikap itu.


Mengungkapkan hal itu saat Nur menanyakan dirinya yang terlihat murung, akhirnya Nur pun memberanikan diri untuk bertanya kepada Arjuna. Rasanya malu ketika hendak bertanya, namun mengingat kegagalan Salwa dalam berumah tangga, Nur nggak mau kegagalan itu terulang lagi hanya karena malu bertanya.


Mengajak Nur makan siang di kantin rumah sakit, Arjuna bicara penjang lebar tentang perasaan di dalam dada.


"Saya bahkan sangat ingin segera menikahinya."


"Tapi Nak Arjuna seolah enggan bicara dengannya. Maaf sebelumnya Nak, kalau semua kebaikan ini hanya karena kasihan, Ibu nggak nggak pa-pa kalau Nak Arjuna nggak jadi menikahi putri Ibu."


"Enggak Ibu. Maaf kalau sikap saya melukai hati Salwa. Setelah dia bilang bersedia saya nikahi setelah waktu yang di tentukan usai, rasa ingin memiliki di dalam diri saya semakin besar. Dengan bicara dengannya saja membuat saya berdeber, saya nggak mau nantinya bersikap kurang ajar kepadanya. Maafkan saya Bu" menunduk Arjuna merasa bersalah telah menimbulkan salah sangka di antara mereka.


Ada perasaan lega saat Nur mendengar hal itu. Itu artinya Arjuna sangat menghargai putrinya sebagai wanita. Sepasang manik Nur nampak berkaca-kaca, sangat nggak menyangka sang putri begitu di cintai lelaki sebaik Arjuna. Permintaan maaf atas penolakan yang dahulu Salwa lakukanpun terlontar.


"Semua itu sudah berlalu Bu, itu bukan apa-apa lagi bagi saya" ujarnya. Padahal penolakan Salwa sempat mempengaruhi hidupnya. Sulit tidur dan sulit mengatur emosi, hal ini sempat singgah pada diri Arjuna.


"Terimakasih Nak Arjuna, Ibu sangat tau Nak Arjuna sangat menjaga Salwa meski nggak berada di dekatnya. Kehadiran Pram bersama kami sangat membantu, terlebih saat di tempat ini."


"Sama-sama Bu, hal ini memang sudah seharusnya saya lakukan."


Senyuman itu, begitu indah di pandang. Nur bahagia kalau memang pada akhirnya Arjuna akan menjadi menantunya.


Usai berbicara dari hati ke hati dengan Arjuna, Nur nggak mengatakan betapa Arjuna mencintai Salwa, dia nggak mau Salwa menjadi besar kepada di cintai lelaki setampan dia.


"Dia serius dengan perasaannya, yakinlah pada Ibu" ujar Nur.


"Tapi kenapa dia seolah membangun jarak di antara kami Bu."


"Mungkin untuk menghindari fitnah. Kalian belum bisa terlalu dekat, hubungan kalian belum sah, akan ada banyak bisikan setan kalau kalian terlalu dekat saat ini."


Menerima ucapan sang Ibunda, meski nggak cukup yakin Salwa mencoba mempercayai apa yang di katakan Ibunya.


To be continued...


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya ya.

__ADS_1


Salam anak Borneo.


__ADS_2