Memeluk Kekasih Dalam Doa

Memeluk Kekasih Dalam Doa
Ahmad Arjuna Pratama


__ADS_3

Subuh telah tiba, saat Adzan di kumandangkan sosok pemuda itu masih termenung. Sebuah penolakan, sungguh menyakitkan hati. Di mana banyak wanita tergila-gila padanya, gadis yang sempat di gadang-gadang akan menjadi pasangan hidup, justru menolaknya, bahkan tanpa melihatnya terlebih dahulu.


Foto sang gadis bersurai panjang, nampak kumal dalam genggaman. Di saat pilihan itu dia serahkan kepada kedua orang tua, saat mendapatkan penolakan, bukan hanya hatinya yang kecewa, tapi Ayah dan Ibunda.


Terdengar suara pintu di ketuk.


Dengan malas dia bangkit dari tempat tidur.


"Ayo subuhan ke Mushola." Sang Ayah, seperti kebiasaan selalu mengajaknya untuk sholat berjamaah.


"Ayah duluan saja. Juna mau ambil masker dulu."


"Ayah tunggu di depan ya." Arjuna, sang putra hanya mengangguk samar.


Sudah beberapa hari mereka di tempat ini, kediaman Nenek Adila. Sebuah desa kecil nan jauh dari perkotaan. Usai melaksanakan sholat subuh, Arjuna bersama sang Ayah berjalan menyusuri tepian kampung. Di sana masih banyak pepohonan, rumput nan hijau, dan bunga-bunga indah yang di tanam di halaman rumah warga. Sejak kecil Arjuna kerap menginap di kediaman Neneknya saat libur sekolah. Dia sangat senang tinggal di sana, karena suasananya sangat berbeda dengan pesisir, tempat Ayah dan Ibunda tinggal.


Sang kakek memiliki banyak rumah kontrakan di tempat itu, dan sang Nenek memilih pindah ke sana dan mengelola bisnis rumah kontrakan tersebut. Sudah cukup baginya hidup mewah, sejak kelahiran Arjuna, sang Nenek nggak lagi gemar berpesta dan pamer berhiasan. Semua ada masanya, dan bagi Adila, hidup sederhana di desa dengan bisnis juragan kontrakan, rasanya sudah cukup dan nyaman di jalani saat hari tua.


Atas saran Adila, gadis itu di lirik keluarga Ahmad. Para orang tua sudah setuju, hanya saja sang gadis sudah memiliki kekasih. Begitu cinta dan sayang kepada sang kekasih, hingga lamaran Arjuna di tolak.


"Namanya bukan jodoh. Juna nggak bisa memaksa" ujarnya saat Agam menanyakan perasaannya, usai di tolak.


"Tapi kamu jadi lebih pendiam."


"Itu perasaan Ayah saja" mempercepat langkah. Hari ini Arjuna berniat kembali ke kota, sebab pekerjaan di kantor sudah lama menantinya.


"Ayah ke kantor nggak?." Bertanya sedikit nyaring, sebab adanya jarak di antara mereka.


Sang Ayah mengatakan akan ke kantor. Maka Ayah dan anak itu berangkat ke perkotaan bersama. Sedangkan sang Ibunda, masih tinggal di sana. Nanti sore usai pulang bekerja, sang suami akan menjemputnya.


Tibalah waktu makan siang. Betapa terkejut Arjuna atas kedatangan Syailendra. Abang yang satu ini sangat gemar membuat jantung berdebar kencang. Dia datang hampir tanpa suara, beruntung Arjuna telah selesai minum sebelum Enda menepuk pundaknya.


"Ngapain Abang ke sini?. Abang nggak kerja sama dengan perusahaan Kakek kan?."

__ADS_1


"Maksud kamu Abang jadi koki di sini?. Enggak dong. Abang hanya mampir, mau makan siang sama kamu."


"Aku sudah selesai" Arjuna menunjuk piring di hadapan. Dan piring itu memang telah kosong.


"Kok nggak nungguin?" kening Enda seketika berkerut.


"Abang nggak bilang dari awal kalau mau makan siang sama-sama. Ini bukan salah Arjuna ya."


"Ya sudah, temani Abang makan."


"Oke! oke!. Tapi Bang, makanan di restoran Abang kan lebih enak. Kok malah ke sini?."


"Itu bukan restoran Abang!." Enda menekankan.


"Iya tau. Itu restoran punya Abi Khair. Tapi Abang kan CEO nya."


"Mana ada CEO pegang panci sama penggorengan. Aktif di dapur kotor pula" sahut Enda seraya memesan makanan.


Arjuna tersenyum kecil, seraya memasang maskernya"Ada, ini Abang contohnya."


"Enggak. Sudah kebiasaan."


"Kamu sangat tampan---."


"Abang lebih tampan" sambar Arjuna.


Terkekeh, itulah yang selalu terjadi saat dirinya kalah berdebat dengan Arjuna. Pemuda di hadapan Enda ini bukan tanpa sebab memakai masker. Saat kecil dia sempat mengalami kecelakaan, terjatuh saat mengejar layang-layang. Tentu yang mengajari mengejar layang-layang adalah Enda, saat mereka bertandang ke desa tempat tinggal Nenek Adila. Dagunya terluka dan harus di jahit. Malu karena luka itulah yang membuatnya selalu memakai masker.


Selain itu, ada sebab lain mengapa dia selalu memakai masker. Memiliki wajah tampan, hidung mancung dengan garis rahang yang menambah ketampanan seorang Arjuna, dia juga punya tahi lalat di bawah mata sebelah kanan, membuatnya sering menjadi pusat perhatian. Dirinya yang memiliki sifat seperti sang Ibunda, nggak suka menjadi pusat perhatian, merasa lebih nyaman saat memakai masker.


Berkacamata, dengan masker dan Topi, begitulah style Arjuna saat masih kuliah dahulu. Hingga sekarang pun style itu masih kerap menjadi pilihannya, dengan earphone di telinga, Arjuna membentengi diri dari orang lain.


Selain para keluarga, dan rekan Ayah Ibunda, Arjuna nggak punya banyak kawan. Seperti sekarang, dia hanya punya Enda. Enda lagi, Enda lagi. Saat susah ataupun senang, putra dari sahabat Ayah dan Ibunda inilah tempat berbagi. Arjuna yang pendiam, irit bicara, dan nggak suka keramaian, sangat berbeda dengan Enda yang petakilan. Usil dan selalu ceria. Meski begitu, Arjuna bisa menjadi banyak bicara kalau bersama Enda. Ya!, hanya Enda. Adik perempuan Enda yang bernama Mecca pun jarang berbincang banyak dengannya. Padahal Mecca selalu punya modal untuk mengajaknya mengobrol, dan Arjuna selalu punya kata yang membuat obrolan mereka usai.

__ADS_1


"Kamu, ngelamar cewek kok nggak kasih tau."


Akh!! obrolan ini. Arjuna rasanya ingin pergi jauh aja. Itu baru rencana, dan sudah di tolak. Ada rasa kesal karena kabar itu sampai kepada Enda, yang artinya dirinya menjadi bahan obrolan orang lain.


"Mana sih ceweknya?. Abang mau tau, secantik apa sih orangnya, sampai berani nolak kamu."


Uluran tangan Enda, di tepis Arjuna"Sudahlah Bang. Nggak usah bahas cewek lagi. Namanya bukan jodoh, mau apa lagi."


"Abang mau lihat orangnya aja."


"Nggak boleh menatap wanita yang bukan mahram" ucap Arjuna melipat kedua tangan di dada.


"Ck!. Dasar cucu kyai, kalau ngomongin cewek suka bawa-bawa mahram."


"Kayak Abang bukan cucu kyai aja!" balas Arjuna membuat Enda tertawa. Mereka sedang membicarakan kyai Bahi, semoga enggak bersin-bersin orangnya di pondok pesantren sana.


"Ayo dong Jun, kasih tau ceweknya yang mana?."


"Udah kerja."


"Terus?."


"Terus apa?."


"Katanya kamu di kasih fotonya. Sini Abang lihat."


"Sudah Juna kembaliin." Bohong. Nyatanya foto gadis itu nampak kumal di atas meja kerjanya, di kediaman Nenek Adila.


"Akh! Juna nggak asik!" seloroh Enda.


"Sudah dari dulu kok nggak asik. Makanya yang mau temenan cuman Abang doang." Alih-alih memasang wajah sedih, saat mengatakan itu Arjuna nampak biasa-biasa saja.


To be continued...

__ADS_1


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya ya.


Salam anak Borneo.


__ADS_2