Memeluk Kekasih Dalam Doa

Memeluk Kekasih Dalam Doa
Hari yang mendebarkan


__ADS_3

Meliputi dirinya dengan balutan busana muslim, kerudung yang semula biasa saja kini nampak lebih panjang dan lebar dari biasanya. Salwa juga kerap menutup wajah menggunakan masker akhir-akhir ini. Bukan tanpa alasan, mengetahui bahwa wanita ini benar-benar ingin terbebas dari bayang sang mantan, Pram dengan gamblang memberitahu bahwa Randy masih mengintainya. Teringat bagaimana permainan mereka dahulu di atas ranjang, perbuatan yang nggak senonoh dan menyimpang bagi Salwa, seketika bulu kuduknya merinding. Juga bisikan Randy tempo hari saat bertandang ke kediaman mereka, Salwa di buat meringkuk mengingatnya.


Untuk beberapa saat wanita ini terdiam dalam ketakutan, rupanya Randy masih menginginkan tubuhnya. Setelah berpisah, Salwa barulah merasakan apa itu bernafas lega. Dirinya bebas ingin berpenampilan seperti apa, bahkan sejak awal kepulangannya ke desa ini Salwa telah mengenakan kerudung. Dirinya pun lebih bebas mengekspresikan diri, hendak memakai gamis atau daster panjang pun itu sudah nggak menjadi masalah.


Sehari lalu, mematut diri di depan kaca, Salwa menyadari berat badannya berkurang. Ya, beban pikiran tentu menjadi penyebab utama. Lantas, apa yang akan Randy lakukan kalau tubuhnya kembali langsing dan aduhai seperti dulu? sedangkan penyebab dirinya di cerai hanya karena berbadan gendut.


Sempat kehilangan selera makan, Salwa mendoktrin diri untuk selalu makan. Untuk apa? agar berat badannya kembali naik dan Randy benar-benar nggak menginginkan nya lagi.


Sedang menikmati semangkuk bakso di warung tetangga, Salwa di kejutkan dengan kedatangan Pram. Saat mencari tau keberadaan Yasmine dahulu, Pram menyamar menjadi pedagang makanan. Kali ini, Karena Salwa sedang di awasi orang bayaran Randy maka Pram juga melakukan penyamaran.


Tubuh kekar berotot itu menghilang di balik gamis hitam dengah ukuran jumbo. Pram juga memakai penutup wajah dan kedua matanya memakai celak nan tebal. Garis hidung nan tinggi membuat orang mengira Pram adalah wanita keturunan Arab dengan hidung mancung. Setelah melalui pelatihan singkat dari Mecca, cara berjalan Pram boleh di acungi jempol karena memang terlihat seperti wanita.


"Mau pesan apa?" tanya tetangga Salwa, saat Pram datang dan mengambil duduk di samping sang target.


Jari telunjuknya menunjuk bakso milik Salwa.


"Pakai sayur nggak?."


Pram menggeleng dan pemilik warung langsung menyiapkan pesanan Pram. Tingkah Pram ini membuat Salwa melirik padanya.


Pandangan mereka bertemu, sungguh mata itu nggak memakai hiasan sedikitpun, tapi terlihat begitu indah. Mengedipkan kedua mata, Salwa menatap Pram kemudian tersenyum"Sedang berkunjung ke desa ini ya?" mengajak Pram yang di yakininya perempuan saat ini.


Nggak jauh dari tempat itu seorang pria sedang memperhatikan gerak-gerik mereka. Pram tau betul posisi orang tersebut, dan dia lebih suka bermain dalam diam kali ini.


"Nona Salwa ini saya, Pram" sedikit membuka penutup wajah.


Uhuk!!! uhuk!!!. Sontak Salwa terbatuk. Untung Salwa memilih tempat duduk di pojok, hingga saat Pram sedikit menyibak penutup wajahnya nggak terlihat oleh orang selain Salwa.


Usai memberikan Salwa minum dan membiarkan calon Nona muda nya minum, Pram kembali berkata"Anda sedang di awasi seseorang. Bersikap biasa saja, seolah kita teman" bisiknya dengan suara kecil, seper perempuan.


Sungguh geli hati Salwa, tingkah laku Pram sangat nggak di sangka. Merasa di tertawakan, Pram mengusap wajahnya di atas penutup wajah, dia juga terkekeh geli.


"Heii Nona, anda tertawa saat sedang di mata-matai seseorang??" ujar Pram lagi.


Berhenti tertawa, Salwa hendak mengedarkan pandangan.


"Jangan!!. jangan melihat ke mana-mana!" seru Pram dengan suara tertahan.

__ADS_1


"Siapa yang mengawasi ku??. kamu kenapa sampai berpenampilan seperti ini!! Kamu lucu" ujar Salwa"Lagipula, kamu bisa memberitahu ku lewat telepon" lanjut Salwa.


"Nomor telepon anda dan keluarga di sadap sejak tiga hari yang lalu."


Melepaskan ponsel di tangan, Salwa membenarkan letak duduknya. Wanita ini baru menyadari dirinya sedang berhadapan dengan orang berbahaya.


"Siapa?."


"Siapa orangnya" kembali menikmati bakso meski tangannya gemetar. Pikirannya langsung tertuju kepada Randy, munginkah??.


"Mantan...."


Klontang!! sendok di tangan Salwa terjatuh ke dalam mangkok bakso.


"Tenang, saya di tugaskan untuk selalu menjaga anda.


"Ta.... tapi...aku harus ba...bagaimana Pram. Aku sangat tau Randy orang seperti apa."


"Tenang Nona. Saya janji akan selalu menjaga anda sampai Nona resmi menjadi Nyonya di kediaman Tuan Arjuna. Nona pikirkan hal apa yang Randy benci, agar dia memilih langkah mundur sendiri." Ternyata cara berpikir Salwa dan Pram sama, saat seseorang begitu terobsesi kepadamu, maka buatlah dia ilfeel kepadamu.


"Aku harus gendut. Tapi dengan begitu apa Arjuna masih menyukaiku?" wajah wanita ini tertunduk.


Mengangkat wajah, Salwa menatap mata Pram"Apa?. Aku janji nggak akan bilang sama Arjuna. Kamu nggak tau saja, sudah beberapa hari kami nggak bertukar kabar. Biasanya dia lebih dulu mengirimi ku pesan."


"Itu karena nomor anda di sadap. Nona nggak tau saja gimana kesepiannya Tuan saat ini."


Wajah Salwa seketika merona, heii!! ada apa dengan wajahnya!.


"Cepat, kamu mau ngomong apa Pram!" untuk menutupi rasa malu, Salwa mendesak Pram agar segera bicara.


"Maaf sebelumnya Nona, kata Tuan Arjuna Nona semakin cantik dengah tubuh berisi."


Heii, wajah Salwa terasa hangat. Kenapa udara di sini terasa panas sekarang!


Kembali menikmati baksonya"Haish!! mana ada lelaki yang menyukai wanita gendut!."


"Ada, Tuan Arjuna contohnya."

__ADS_1


"Pram!!" hardim Salwa salah tingkah.


Pram tertawa di balik penutup wajahnya. Mereka akhirnya menikmati bakso bersama dengan Pram yang terus mengatakan segala kata manis Arjuna tentang Salwa. Hemmm, agak ember juga mulut Pram ini!!.


...****************...


"Masyaallah! kamu cantik sekali Fateena!!" seru Jenaira. Menemani Zafirah dan Fateena ke butik Tuan Hanan, ada banyak gaun pengantin cantik di sana. Jena jadi ingin mencoba gaun-gaun itu, dan tentu saja keinginan itu nggak bisa di bendung lagi.


" Masyaallah, tentu saja! Dia calon menantuku Jena!" seru Zafirah terpukau akan kecantikan Fateena. Tanpa riasan, hanya mengenakan gaun yang beberapa waktu lalu mereka pesan, sungguh benar apa yang di kata orang tentang karya seorang Hanan. "Kamu akan terlihat cantik dengan mengenakan gaun rancangannya saja."


Meski bukan Hanan sendiri yang melayani mereka saat itu karena ada kesibukan lain. Marina, sang istri secara langsung memberikan pelayanan terbaik kepada mereka.


"Kalau ada yang kurang, kami akan langsung memperbaiki nya Nyonya. Atau ada sesuatu yang kurang pada gaun ini, kami akan menambahkannya" ujar Nyonya Marina.


Zafirah dan Jena kompak menggeleng"Enggak!! ini sudah sangat sempurna" ujar mereka berdua.


"Syukurlah kalau begitu" Marina ikut senang menyaksikan kepuasan pelanggan mereka.


Sementara itu Fateena menatap diri di depan cermin nan besar, nggak menyangka dirinya terlihat sangat cantik saat ini. Terlebih sebentar lagi dirinya akan resmi menjadi istri dari Syailendra, mengingat hal itu wajahnya merona. Melihat Fateena mengibaskan tangan di wajah, seperti orang kepanasan, Marina menjadi khawatir.


"Nona, apa gaunnya terasa berat dan pegap?."


"Enggak Nyonya, gaun ini nyaman sekali di pakai" Fateena langsung menggeleng.


"Sayang, kamu baik-baik saja? wajahmu merah" ujar Jena, maju menyentuh kening Fateena.


"Enggak kok Bu. Aku hanya merasa semua ini seperti mimpi."


"Terasa mimpi karena akan menjadi menantuku??" sambar Zafirah dengan senyum nakal.


"Atau karena akan menjadi istri Syailendra??."


"Umma~~~" Fateena semakin malu karena candaan Umma.


Para Ibu-ibu mentertawakan Fateena yang semakin di buat tersipu malu.


To be continued...

__ADS_1


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya ya.


Salam anak Borneo.


__ADS_2