
"Semakin ku sadari, kita seperti dua huruf dalam hukum Idgham mutajanisain, makhroj kita sama tapi sifat kita berbeda."
Terdiam, Salwa termenung mengingat apa yang telah Arjuna katakan sebelum lelaki itu pamit undur diri.
"Idgham??" perlu di ingatkan kembali, Salwa bukanlah wanita yang bersekolah di pesantren, hukum-hukum dalam membaca Al-Qur'an itu terasa asing di telinganya. Apalagi dirinya mengenyam bangku mengaji hanya saat masih kecil saja, nggak heran kalau bacaan Al-Qur'an wanita ini masih banyak kekurangan.
Berbeda dengan Arjuna, dirinya dan Syailendra tubuh kembang dalam ruang lingkup pondok pesantren, barulah saat lulus SMA mereka menimba ilmu di Universitas Charlotte. Dua beradik berbeda Ayah dan Ibu ini nggak menginap di dalam asrama seperti kebanyakan santri lainnya, Syailendra tinggal di kediaman Kyai Bahi sedangkan Arjuna memilih untuk pulang dan pergi saja. Kebebasan mereka tentu berbeda dengan santri lain.
Seolah mengerti, Salwa melayangkan tanya saat itu. Padahal sedikitpun dia nggak mengerti dengan maksud perkataan Arjuna. Dari sorot matanya, Salwa hanya mengira bahwa Arjuna tetap ingin bersamanya meski telah di tolak.
"Kenapa harus aku?, banyak wanita lain di dunia ini, yang lebih baik dan lebih pantas untuk mu."
"Menyukai tanpa ku sadari. Entahlah, aku pun nggak tau. Aku sudah mencoba, tapi apa kamu tau, pada saat dirimu mencintai seseorang tanpa sebab, saat itu pula seribu sebab sekalipun nggak akan bisa mencabutnya dari hatimu."
Di sukai lelaki tampan, tutur kata lembut dan perhatian. Hati wanita mana yang nggak bergetar?!. Salwa sudah pernah jatuh dalam pelukan lelaki dengan kriteria seperti itu, dan kini saat menjumpai lagi lelaki seperti itu, rasa takut begitu mengusai sang hati.
Teringat Randy yang sangat perhatian, bahkan perihal rambut yang menjuntai di kening saat dia membaca buku pun di perhatikan. Sebegitu baiknya Randy dahulu, hanya karena Salwa nggak bisa selalu melayani nafsunya, hanya karena Salwa gendut, dia di tinggalkan. Sungguh miris, ternyata begitu mudah untuk melepaskan diri dari seorang Randy. Segenap cinta itu telah di berikan kepada Randy, bahkan cinta untuk dirinya sendiri pun telah tiada. Kini saat kenyataan membuka mata hati, Salwa kehabisan rasa percaya diri.
Wanita yang sebentar lagi akan menyandang status janda, pantaskan menerima seorang pemuda yang dulu di tolaknya?. Apa yang akan masyarakat katakan, setelah gagal membina rumah tangga dirinya datang kepada Arjuna?? yang sejatinya masih bujangan??. sangsi masyarakat terasa menakutkan, untuk sekedar di bayangkan saja sudah membuat Salwa bergidik.
Ya!! sekarang pun Salwa bergidik membayangkan hal itu. Nur baru datang dari rumah, dengan rantang makanan di tangan.
"Kamu kenapa? ketiduran terus mengigau?."
"Ibu!. Bikin kaget Salwa saja" seraya memegangi dada.
"Maaf, tadi pintunya nggak tertutup rapat jadi Ibu langsung masuk."
"Kenapa kamu tadi?" mengulang pertanyaan.
__ADS_1
"Enggak kok."
"Beneran nggak ada apa-apa?."
Sendirian, sejujurnya Salwa nggak kuasa menahan rasa bimbang ini sendirian.
Diamnya Salwa menambah keyakinan sang Ibunda, bahwa hati sang putri sedang nggak baik-baik saja. Meraih jemari Salwa"Bilang sama Ibu, ada apa?."
Beberapa detik Salwa masih diam, hingga sorot mata mereka bertemu, barulah dia berbicara"Untuk ketiga kalinya, Arjuna meminta Salwa untuk menjadi istrinya."
"Kemarin sore itu?."
Mengangguk pelan, Salwa pun menceritakan kejadian kemarin sore. Juga saat mereka bertemu Randy dan Mia. Hancur hati sang Ibunda, mendengar Randy terlihat menerima kehamilan Mia. Berbeda kisahnya saat mengetahui Salwa hamil, Randy menolak pada awalnya.
"Terimalah Nak Arjuna" lirih Ayah saat itu. Rupanya sang Ayah mendengar obrolan dua wanita kesayangannya itu sejak tadi. Dengan mata tertutup namun indra pendengar nya dapat mendengar dengan sangat baik.
"Ayah...., Ayah gimana dadanya?" Salwa langsung menanyakan keadaan sang Ayah. Sejak sore kemarin Anton terlihat lemah, untuk bicara pun tak berdaya.
"Ibu panggil perawat dulu" gegas sang istri keluar dari ruangan itu. Alih-alih hanya ruangan kelas tiga, Arjuna menempatkan Pak Anton di ruangan VVIP.
Setelahnya dua orang perwat datang bersama satu dokter. Sang dokter menyatakan keadaan Ayah semakin membaik namun masih harus di rawat. Salah seorang perawat memberitahu cukup dengan menekan tombol di dekat ranjang Ayah saja, maka mereka akan datang. Nggak perlu berlarian hingga membuatnya ngos-ngosan seperti sekarang ini.
Makhlum, ini kali pertama mereka berada di ruangan seperti ini. Dan mengenai rantang makanan itu, nggak lama setengah perawat dan dokter itu pergi hidangan untuk Ayah dan mereka yang berada di kamar itu pun datang. Ibu sengaja membawa makanan dari rumah, karena mengira pihak rumah sakit hanya akan memberikan makanan kepada Ayah saja, nggak seperti sekarang yang bahkan mereka pun mendapat kan jatah makanan. Lagi-lagi Ibu mengucapkan terimakasih seraya tersipu malu.
"Menikahlah dengan Nak Arjuna" lagi, Ayah mengungkit masalah itu.
"Nggak semudah itu Ayah. Ada banyak hal yang harus di pertimbangkan" ucap Salwa pelan.
"Lihatlah, dia sangat baik. Memberikan yang terbaik untuk keluarga kita" imbuh Ibu setuju dengan Ayah.
__ADS_1
"Ayah, Ibu" lirih Salwa menatap kedua orang tuanya secara bergantian"Bukankah hal seperti ini juga pernah di berikan Randy kepada kita?."
Teringat akan kebaikan Randy, dua orang tua itu terdiam. Sangat betul, hal manis seperti ini kerap mereka terima dari Randy, pria yang pada akhirnya menorehkan luka di hati dan rasa malu di wajah mereka. Datang bersama Mia, tentu hal itu membuat Salwa semakin menjadi buah bibir para tetangga. Menantu yang selalu mereka banggakan, putri yang selalu membuat mereka sejahtera, menjadi gunjingan setelah biduk rumah tangga mereka kandas. Di tambah akan kehadiran Mia yang mampu menggeser posisi sang putri dalam sekejap mata, hati yang hancur itu sudah tak tertolong lagi.
"Ayah merasa, Nak Arjuna bukan lelaki seperti Nak Randy" ucap Ayah setelah sekian detik terdiam.
Salwa menatap jendela kaca, memunggungi sang Ayah. Wanita ini nggak berani berharap lagi pada seorang pria, sebab dirinya pun bukan lagi wanita yang menarik. Seperti itulah pikiran Salwa saat ini.
...----------------...
"Kamu kapan?. Nenek cariin cewek ya?." Nenek lagi yang menawarkan calon istri pada Arjuna. Dan kali ini Nenek Arabella.
"Dua minggu cukup kan untuk masa perkenalan. Minggu depannya bersanding di pelaminan barengan Enda sama Fateena."
Arjuna menutup wajahnya dengan bantal. Pemuda ini sedang bertandang ke kediaman sang Nenek, yang katanya sedang rindu padanya. Rupanya, ada maksud lain dari kata rindu itu.
Datang dengan es cendol olahan Abi Khair, seraya menikmati minuman itu Arabella menawarkan calon istri padanya.
Pada awalnya Arjuna duduk tegak di atas sofa, saat mendengar tawan itu, spontan tubuhnya merosot hingga rebahan seperti sekarang ini.
"Hei!! ekspresi seperti apa itu??. Selalu saja menolak calon yang Nenek tawarkan, jangan bilang kamu nggak suka perempuan ya!." Hardik Arabella.
"Hei!! perkataan seperti apa itu?" balas Arjuna seraya menegakkan badan"Arjuna lelaki tulen ya Nenek ku yang manis. Arjuna lelaki perkasa!!."
Haiss!! selalu saja memiliki jawaban. Arabella memutar kedua bola mata, sikap Arjuna sama seperti Agam saat ngotot hanya mau menikah dengan Jena.
To be continued...
selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya ya.
__ADS_1
Salam anak Borneo.