Memeluk Kekasih Dalam Doa

Memeluk Kekasih Dalam Doa
Duka keluarga Ahmad


__ADS_3

Suara air mengalir menemani awal hari ini, Arjuna duduk di sebuah batu besar tepian anak sungai yang terletak tak jauh dari kediamannya. Sendiri saja, namun sudah beberapa orang yang menyapa dirinya, singgah sekejap sekedar mengucap salam dan menanyakan kabar. Desa yang asri dengan suara alam yang indah, setiap waktu di desa ini terasa sangat menyenangkan.


"Assalamualaikum" seorang lelaki dewasa kini menyapa Arjuna.


Lekas menengok pada orang yang mengucap salam itu"Waalaikumsalam, paman Wahid.


"Sendiri saja?."


"Iya Paman" Arjuna tersenyum tipis.


"Cepat cari teman, biar nggak kesepian."


Senyuman Arjuna berubah menjadi tawa"Heheeh, iya Paman. Sedang di usahakan. Doakan saja ya."


"Ya Allah semoga Nak Arjuna lekas bertemu wanita baik dan solehah" paman Wahid mengangkat tangan dan berdoa kepada sang maha pencipta.


Arjuna lekas meng-aminkah doa orang ini.


"Kalau sudah bertemu lekas di halalkan ya. Jangan lupa mengundang paman."


"Tentu paman, Arjuna nggak akan melupakan paman Wahid."


Saling melempar tawa akhirnya dua lelaki ini berpisah. Arjuna menarik nafas kemudian membuangnya"Hupffhh!! semoga doa paman Wahid segera terkabul, dan semoga wanita itu adalah kamu Salwa" bergumam penuh harap.


Terdengar lantunan sholawat nabi saat itu, dari ponsel Arjuna yang dia letakan di atas batu besar, tempat secangkir kopinya berada.


"Assalamualaikum" ujarnya menerima panggilan itu. Beberapa detik Arjuna terdiam. Kemudian mulutnya mengucap"Innalilahi."


"Juna akan mengabari Bang Enda, kami akan langsung ke sana." Bergegas Arjuna kembali ke kediamannya, dia sedikit berlarian agar lebih cepat sampai.


Fateena sedang menyirami bunga-bunga kecil yang kemarin baru di belinya, kebetulan bertemu Arjuna langsung menanyakan keberadaan Syailendra.


"Ada apa?" mendengar Arjuna mencarinya, Enda yang memang hendak keluar langsung menyahut.

__ADS_1


"Tante Kanaya meninggal."


"Innalilahi wainnailaihi rojiun" spontan Fateena dan Syailendra berucap.


"Karena apa Arjuna?."


"Hanya sesak, setelah di bawa ke rumah sakit sudah enggak tertolong."


"Cepat bersiap Bang, jenazahnya sedang dalam perjalanan ke kediaman pantai."


Mereka bertiga gegas menuju kediaman pantai. Semua keluarga langsung menuju kediaman pantai, termasuk Kyai Bahi. Dalam perjalanan Fateena memberi kabar kepada Salwa. Wanita itu juga akan segera menuju kediaman pantai bersama Hanif saja, karena Ibu dan Ayah sudah berangkat ke kebun.


Rasa tak percaya, itulah yang Arjuna rasakan saat ini. Baru tadi malam dia melakukan panggilan video dengan sang paman menanyakan kabar si kecil. Gadis kecil berusia satu tahun lebih itu begitu senang mengetahui Arjuna mencarinya. Dia meminta sang Ibu mengambil ponsel sang Ayah agar lebih dekat padanya, yang tengah di gendong oleh Kanaya.


Saat itu Arjuna sempat menanyakan kabar Kanaya, dan Alhamdulillah kabarnya baik-baik saja saat itu. Bagaimana Arjuna nggak sangat terkejut setelah kemarin mereka masih sempat bertanya kabar. Namun inilah kehidupan, segala yang bernyawa pasti akan mati, berpulang pada pangkuan sang illahi.


"Lantas, bagaimana dengan Nuha Mas" Fateena teringat gadis kecil itu, putri Gibran dan Kanaya. Sebagai seorang artis terkenal yang sedang naik daun, Gibran kerap menghabiskan waktu di luar rumah, bahkan di luar negeri. Segala urusan Nuha Kanaya yang mengurusi. Tentu gadis itu sangat dekat dan masih sangat tergantung dengan sang Ibu, mengingat dirinya masih meminum ASI. Kini saat Kanaya telah tiada, bagaimana nasibnya?.


"Nuha....ya Allah" lirih Syailendra. Bukan hanya mereka yang memikirkan Nuha, keluarga mereka pun sama.


"Kanaya, setelah sekian tahun kita akhirnya memiliki keturunan" lirih Gibran memandangi tubuh tak bernyawa itu.


...****************...


Seminggu telah terlalu, dan selama itu pula Nuha nggak mau berpisah dari Arjuna. Gadis ini menerima susu formula namun harus Arjuna yang memegangi botol susunya. Gibran menunda semua jadwalnya, dirinya ingin lebih fokus kepada Nuha saat ini. Memang, sejak kecil sekali Nuha sudah terlihat nyaman bersama Arjuna, setiap kali Kakak sepupunya itu menelpon dia terlihat bersemangat. Di tambah Arjuna sangat baik padanya, kasih sayang terhadap Nuha tulus dan Nuha dapat merasakan itu.


"Bagaimana ini Juna, saat aku pergi dia nggak menangisiku, tapi melihat kamu memakai pakaian rapi dia langsung mengejarmu." Gibran kehabisan akal, membujuk Nuha untuk ikut pulang bersamanya.


"Ya sudah, kamu pulang saja. Biar Nuha kami yang rawat." Adila mengambil Nuha dari Gibran, meski kesedihan masih terasa tapi kehidupan harus tetap berjalan. Siang ini Gibran mulai menjalani syuting, hanya dua iklan saja.


"Nggak bisa gitu dong Mah, dia anakku tapi terlalu lengket dengan bocah ini!" ujarnya menunjuk Arjuna.


"Lho, kok nyalahin Arjuna. Kami kan saudara, nggak salah dong kalau kami akrab" ujarnya membela diri.

__ADS_1


"No!!" jari telunjuk Nuha mengacung kepada Gibran, dia tau Gibran sedang mengomel pada Abangnya.


Merasa di bela, Arjuna mengulurkan tangan kepada Nuha. Gadis kecil itu tertatih padanya. Gibran mendengus, mengapa saat dirinya mengulurkan tangan Nuha hanya tertawa saja.


"Hei Nuha, kamu itu sebenarnya anak siapa?. Bocah ini bahkan belum punya istri, akan jadi apa kamu kalau terus tinggal dengannya di sini."


Plak!! Adila menepuk kening Gibran"Kamu kenapa sih?. Ada Mamah di sini, Mamah masih bisa mengasuh Nuha."


Gibran memberengut, Arjuna terkekeh melihat wajah sang paman"Sebentar lagi kok paman. Tinggal beberapa minggu Arjuna akan punya istri. Kalaupun Nuha masih tetap ingin di sini, Arjuna dan Salwa bisa kok merawat Nuha."


Menatap Arjuna lekat, hal ini membuat Arjuna bertanya"Kenapa melihat Arjuna seperti itu?."


"Kamu yakin Salwa akan bisa menerima Nuha?."


Arjuna dan Adila saling berpandangan.


"Maksud paman?."


"Salwa kan belum punya anak. Kamu yakin dia akan langsung menerima Nuha saat baru menikah?. Mengurus anak kecil itu nggak semudah yang kamu bayangkan Arjuna."


Memikirkan hal itu, Arjuna yang memang berniat ingin mengasuh Nuha tiba-tiba merasa khawatir. Melihat Arjuna yang termenung, Adila memukul lengannya.


"Jangan di pikirkan!. Nenek tau kamu sangat sayang pada Nuha. Kalau Salwa nggak mau merawatnya, Nenek bisa kok merawatnya."


"Mamah, kok bicara seperti itu. Seolah-olah Nuha sudah nggak punya orang tua. Masih ada Gibran di sini sebagai Ayahnya."


"Kamu itu seorang artis. Kamu yakin bisa merawat Nuha sambil bekerja??. Atau kamu mau sudah mau mencari Ibu baru buatnya?. Ini masih kepagian ya Gibran!!."


"Yang mau nyariin Ibu baru tu siapa?. Kok jadi kemana-mana sih mikirnya. Lagipula, nggak akan ada wanita seperti Kanaya di dunia ini, Gibran nggak yakin akan menikah lagi Mah." Raut wajah Gibran berubah mendung, mengingat Kanaya membuat hatinya kembali berduka.


To be continued...


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya ya.

__ADS_1


Salam anak Borneo.


__ADS_2