
Kehilangan jejak Yasmine, membuat Syailendra resah. Kemana perginya gadis itu?. Mengapa seolah menghilang dari muka bumi ini??. Kepiawaian Pram dalam mengawasi seseorang kini di pertanyakan, sebab dia kehilangan jejak sang target.
"Kok bisa sih Pram?. Bukannya kamu penguntit handal?" awal hari yang seharusnya di mulai dengan keceriaan, justru di awali dengan pertanyaan meragukan dirinya. Pram sudah berusaha mencari Yasmine, namun gadis itu nggak jua di temukan. Hal terakhir yang dia ketahui, Yasmine telah memutuskan tali pertunangan dengan Yahya. Kesedihan usai gagal mengarungi bahtera rumah tangga jelas menjadi penyebab menghilangnnya Yasmine, tapi Pram nggak menyangka Yasmine begitu pandai bersembunyi.
"Maaf Tuan, tapi saya sudah mencarinya di mana-mana. Saya mengawasi kediamannya berhari-hari, menyamar sebagai menjual es doger. Bukannya mendapatkan informasi tentang Yasmine, saya malah di taksir seorang janda anak empat."
"Huppffhh!!" Arjuna yang sedari tadi hanya memperhatikan, nggak bisa menahan tawa. Sebelumnya Pram sudah menceritakan perihal janda beranak empat itu, usia mereka terpaut sangat jauh. Maaf, wanita itu lebih pantas menjadi Ibunda Pram, bukan istrinya. Sejak sang janda mengutarakan isi hati kepada Pram, sejak hari itu pula Pram berhenti mengawasi kediaman Yasmine.
Ingin rasanya Pram protes, sebab Arjuna mentertawakan dirinya. Namun, rasa tahu diri itu mengurungkan niatnya untuk protes, Arjuna adalah Tuan mudanya.
Begitupun dengan Syailendra, pemuda ini mengakhiri interogasi terhadap Pram, karena kisah sang janda beranak empat itu. Dia memalingkan wajah seraya menahan tawa. Wajah kesal Pram saat Arjuna mentertawakan dirinya, sudah cukup menjadi pengingat bagi Enda agar nggak menambah rasa kesal Pram lagi.
"Ya sudah, kamu terus cari dia ya" ujar Enda akhirnya.
"Siap Tuan, saya akan terus mencarinya."
Pagi itu tiga pemuda berpisah di simpang menuju desa. Pram melaksanakan tugas yang di berikan Syailendra, mencari keberadaan Yasmine. Arjuna ada janji temu dengan Bae, mereka akan membicarakan perihal Randy yang terus mencari cara untuk bekerja sama dengan perusahaan mereka. Sementara Syailendra, pemuda ini mendapat tugas menghadiri rapat di sekolah sang Adik, Mecca. Awalnya Enda hendak menolak tugas itu, setelah sang Abi mengatakan ada pertemuan penting dengan teman lamanya, begitupun dengan sangat Umma yang harus ikut bersama Abi, maka dengan terpaksa Enda yang harus menghadiri rapat para wali murid itu.
Kehadiran Enda di sekolah Mecca, membuat sekolah sedikit heboh. Pasalnya, baru kali ini Enda menampakkan diri di sekolah tersebut, dan kehadirannya mengundang perhatian para gadis. Salah satu teman Mecca yang sudah kenal dengannya, menjadi heboh saat melihatnya datang.
"Mecca!!!, si Abang koki datang!!." Seru sahabat Mecca yang bernama Milla.
Belum sempat Mecca menjumpai sang Abang, Enda sudah berada di depan Milla"Ruang rapatnya di mana?."
"Di sana Bang" ujar Milla dengan mata berbinar. Seperti kucing betina yang sedang menatap ayam panggang.
__ADS_1
"Mau Milla anterin Bang?."
"Heh!! aku ada di sini ya" hardik Mecca. Dia sangat tau Milla begitu menyukai cowok tampan, dan dia nggak mau Milla menjadi tertarik dengan Syailendra. Bisa-bisa Milla akan setiap hari main ke rumahnya, demi berjumpa dengan Enda. Akh!! Mecca nggak suka terlalu di dekati orang lain meskipun itu Milla. Memang sih Enda sudah tinggal di kediaman barunya, di desa. Tapi tetap saja Mecca nggak suka kalau Milla selalu main ke kediamannya. Agak aneh ya watak Mecca ini, tapi bukan berarti Mecca adalah gadis sombong. Dia hanya nggak suka terlalu akrab dengan orang lain selain keluarganya.
"Yahh Mecca~~~" lirih Milla.
"Hahaha, sorry Mill, Abang duluan ya" tanpa perasaan Syailendra berlalu dari hadapan Milla, dengan senyuman lebar. Selain membuat hati Milla bergetar, para gadis yang menyaksikan interaksi itu pun ikut bergetar hatinya. Mereka baru tau kalau Mecca memiliki Abang yang sangat tampan.
"Pantas saja Mecca cantik sekali, dia punya Abang setampan itu" ujar salah seorang gadis dengan kerudung berponi. Berponi??. Entah dapat ide dari mana, para gadis mulai mengikuti trend memakai kerudung dengan memperlihatkan rambut bagian depan mereka, dan salah satunya gadis yang baru saja terpesona anak ketampanan Enda.
Berbeda halnya nya dengan Milla, kerudung gadis ini masih terlihat normal"Eh, kok gitu sih kerudungnya?. Kamu nggak punya ciput??" dengan polosnya Milla bertanya. Rekan yang lain tertawa, pertanyaan polos Milla membuat gadis itu memberengut.
"Ini model kerudung terbaru Mill."
"Kamu nggak update banget sih jadi kaula muda" ujarnya lagi. Sementara teman yang lain ada yang mengangguki, karena mereka juga memakai kerudung dengan model poni seperti itu. Dan gadis lain yang nggak mengikuti trend aneh itu menahan tawa, lucu sebenarnya melihat model kerudung mereka.
"Milla!!" hardik mereka.
"Beneran kok, lagian kalian nggak takut di hukum guru BP?."
Mendengar guru BP di sebut, sebagaian dari mereka membenarkan model kerudung menjadi normal kembali. Sementara gadis yang tadi terpesona akan Enda masih bertahan, bersama beberapa temannya masih percaya diri dengan model kerudung Seperti itu.
"Dasar nggak mau trend. Cupu deh kalian!" selorohnya merapikan poni yang keluar itu.
"Diana!, Sinta, Lia!!, kalian ke ruang BP. Model kerudung apa itu??."
__ADS_1
Seperti Voldemort, saat di sebut sang guru BP hadir di dekat mereka. Sontak tiga gadis itu terkejut, dan dengan pasrah melangkah menuju ruang BP bersamaan dengan suara bell tanda pelajaran akan segera di mulai.
Syailendra berdecak geli di ujung lorong"Ckckckck, dasar cabe-cabean" ujarnya yang sedari tadi memperhatikan para gadis itu berdebat pasal model kerudung terbaru yang justru terlihat aneh.
"Abang! ayo masuk. Rapat sudah mau mulai."
"Iya, iya!!" Mecca mengajak Enda masuk ke ruangan tersebut. Di sana sudah banyak para wali murid dan juga guru.
...****************...
Usai menghadiri rapat di sekolah Mecca, Syailendra bergegas menuju restoran. Hari semakin siang, sebentar lagi waktu makan siang. Di saat itu restoran akan ramai pengunjung, yang akan menghabiskan waktu makan siang di restorannya.
Di tepi jalan Syailendra melihat seorang wanita berjalan cepat. Ada seorang lelaki yang juga berjalan cepat di belakangnya. Wanita itu memakai cadar berwarna hitam, dengan tas belanjaan di tangannya. Lelaki itu menghalangi jalan sang wanita, karena jalanan sedang sepi Enda menepikan mobil, memperhatikan mereka melalui kaca spion. Karena sang wanita nampak enggan meladeni sang pria, Enda merasa harus membantu kalau sang pria tetap memaksa sang wanita untuk berbicara dengannya.
Alih-alih hanya mengajak bicara, pria itu menarik paksa cadar sang wanita hingga lepaslah cadar tersebut.
Sungguh, Enda sangat nggak menyangka, wanita itu adalah Yasmine!!.
Yasmine terjatuh usai pria itu menarik paksa cadarnya. Terlihat kesakitan, Enda segera keluar dari dalam mobil dan berlari menghampiri Yasmine.
"Kamu nggak apa-apa?" bertanya seraya membantunya berdiri. Dengan terpaksa Enda memegang pergelangan tangan Yasmine, setidaknya kulit mereka nggak bersentuhan.
"Mas---- Syailendra" Yasmine terbata.
To be continued...
__ADS_1
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya.
Salam anak Borneo.