
Ketika kedewasaan nggak bisa di ukur dari banyaknya usia, hal seperti ini tengah terlihat pada diri Arjuna. Sudah jelas Pram nggak mungkin menikamnya dari belakang, sudah jelas Pram nggak mungkin menikung wanita idamannya, tetap saja rasa resah dan gelisah mengusik sang hati. Perasaan itu membuat dada sesak, kalau memendamnya sendiri rasanya nggak kuat. Maka Syailendra menjadi tempat mencurahkan keluh dan kesah seorang Arjuna.
"Kenapa harus dia?."
"Karena di lebih sering bersama Salwa, alih-alih kamu" sahut Syailendra.
"Aku belum bisa selalu bersamanya Bang!! aku punya rasa suka yang teramat dalam padanya. Akan jadi masalah kalau aku selalu bertemu dengannya!."
"Oleh karena itulah kamu menyuruh Pram untuk menjaganya dan keluarganya. Iya kan?."
"Heem" sahut Arjuna, lelaki ini bersedekap.
"Pram hanya menjalankan tugasnya, dan gosip itu salah besar. Kamu tau betul akan hal itu, lantas apa yang kamu kesalkan?."
Meresapi pertanyaan Syailendra, Arjuna menggigit bibir, dia tersadar akan tingkah kekanak-kanakan ini.
"Sekarang di mana Pram? apa kamu berkata kasar padanya?."
"Entahlah, aku menyuruhnya menyelesaikan masalah ini."
Mengambil duduk di sofa tunggal dari ruang tengah kediaman Arjuna, Syailendra menepuk pundak Arjuna kemudian berkata"Kamu sendiri yang bilang kalau Pram salah satu orang yang sangat kamu percaya di dunia ini. Hanya karena gosip yang jelas nggak benar itu kamu sampai memarahinya. Bahkan mengusirnya dengan tuntutan harus menyelesaikan masalah ini. Ayolah, jangan gelap mata hanya karena cinta."
Memainkan ponsel di tangan, penyesalan mulai menyeruak di dalam dada. Semua perkataan Syailendra benar, dan Arjuna malu karena sempat di kendalikan cinta, alih-alih dirinya yang mengendalikan cinta itu sendiri.
"Lantas, aku harus bagaimana Bang?."
"Ponsel sudah di tangan, apa lagi yang kamu tunggu? cepat hubungin Pram dan minta maaf padanya."
Anjuran ini nggak langsung di laksanakan Arjuna, Syailendra kembali berkata"Apakah seorang Arjuna begitu gengsi meminta maaf? padahal dia sendiri sadar telah berbuat salah."
"Iya!! iya!!. Aku akan segera meneleponnya" cemberut, Arjuna pun mencari nomor ponsel Pram dan segera menghubunginya.
"Assalamualaikum, tugas sudah di laksanakan Tuan" Pram langsung bersuara di ujung telepon.
"Waalaikumsalam. Tugas apa?."
"Menyelesaikan gosip nggak benar itu. Saya langsung mendatangi kantor tabloid tersebut, dan bicara akan menuntut mereka yang asal-asalan membuat kabar."
"Kamu bicara dengan pemburu beritanya?."
__ADS_1
"Enggak. Saya langsung bicara dengan atasannya."
Syailendra menahan tawa, Pram yang terlatih cepat dan sigap tentu punya cara tersendiri dalam menghadapi masalah itu. Dia nggak suka bertele-tele, baginya membuang waktu adalah sebuah kerugian besar.
"Oke, kembali ke kediamanku." Titah Arjuna.
"Siap Tuan." Panggilan di tutup dan Syailendra tertawa lepas.
"Hahahaha, bos yang cemburuan dan bawahan yang sigap. Aku salah menerka Pram akan merajuk dan melarikan diri untuk merenungi kesalahan yang enggak sengaja dia perbuat."
"Ya...bagus deh kalau masalah itu telah selesai."
"Bagaimana? sekarang kamu sudah tenang? sudah nggak cemburu lagi?." Meledek Arjuna dengan tawa aneh.
"Hahaha, kalian memang cocok menjadi bos dan bawahan. Sebagai bos yang labil, orang seperti Pram memang cocok menjadi penjagamu."
"Aku nggak cemburu!."
"Oh ya??" senyuman itu terlihat menyebalkan.
"Ck!! terserah Abang mau bicara apa!. Aku lelah, mau mandi dulu" langsung melenggang menuju kamar di lantai atas.
......................
Pagi yang cerah, secerah hati Arjuna. Kabar terbaru tentang gosip kemarin sudah di ralat pihak tabloid. Sebelum berangkat ke kantor dia memasak sesuatu untuk Pram, yang menginap semalam di kediamannya.
Udara pagi nan sejuk dengan sajian dari sang Tuan muda. Mimpi apa Pram semalam, sangat jarang dia mendapat sajian yang di masak sendiri oleh Arjuna.
"Apa begitu enak?" senyum di wajah Pram membuat Arjuna bertanya. Dia terlihat begitu menikmati hidangan olahannya.
Pram mengangguk senang.
"Maaf."
"Uhuk!! uhuk!!" Pram tersedak. Permintaan Maaf itu baru terucap pagi ini. Sejatinya Arjuna hanyalah manusia biasa, masih ada rasa gengsi di dalam dirinya, apalagi mengakui kesalahannya kepada Pram, yang sudah menerima omelannya kemarin.
"Nggak akan ada potong gaji bulan ini. Aku...aku seharusnya nggak marah dan bersikap seperti itu padamu."
Mendengar gajinya akan aman, Pram langsung berterimakasih kepada Arjuna. Dia juga mengatakan kemarahan Arjuna kemarin bukan apa-apa baginya.
__ADS_1
Kesehatan Anton kian membaik, setelah beberapa hari di rumah sakit hari ini dia sudah di perbolehkan untuk pulang.
Pertemuan Arjuna dan Salwa kembali terjadi. Mengingat sikapnya sempat membuat Salwa merasa nggak di cintai, Arjuna pun menyapanya sebelum pamit undur diri, setelah mengantarkan Anton kembali ke rumah.
"Maaf kalau aku jarang menghubungimu. Aku tau kamu baik-baik saja, maka dari itu aku nggak lagi menanyakan kabarmu secara langsung" ujarnya. Lelaki ini menatap ke lain arah, seolah enggan untuk melihat Salwa secara langsung.
Setelah apa yang di sampaikan Ibunya tentang alasan Arjuna menjaga jarak dengannya, Salwa dapat memahami akan tatapan ke lain arah itu.
"Iya. Nggak apa-apa kok" sahutnya.
Setelah itu Arjuna pamit untuk pulang. Salwa memandangi punggung lelaki ini sebelum menghilang masuk ke dalam mobilnya.
"Ya Allah, begitu baik akhlak lelaki ini. Semoga dia benar-benar berjodoh dengan ku" gumam sang hati.
"Baik, ganteng pula. Mimpi apa Kak Salwa di incar lelaki seperti Bang Arjuna?!" terkekeh, Hanif mulai menggoda Salwa.
"Mimpi apa?. Aku nggak mimpi apa-apa. Aku juga nggak tau kenapa dia masih memintaku menjadi istrinya, padahal aku sudah berkali-kali menolaknya." Wajah merona Salwa membuat Hanif tersenyum. Dia dapat merasakan bahwa Salwa memiliki perasaan terhadap Arjuna. Lagipula, siapa yang nggak luluh kepada lelaki sebaik Arjuna, lelaki tampan, lelaki mapan, dan soleh insa Allah.
Teringat tabiat Randy yang di ceritakan Salwa, Hanif kembali berujar"Kak, sejujurnya aku sangat senang Bang Arjuna masih menginginkan Kakak menjadi istrinya. Aku menanyakan Bang Arjuna pada orang-orang di desa sebelah, tentang bagaimana orangnya Bang Arjuna ini."
Salwa memasang teling baik-baik, dia juga penasaran orang seperti apa Arjuna di mata warga desa.
"Kata orang-orang di desa sana dia pria yang baik."
"Begitukah?."
"Hemm" Hanif mengangguk.
"Baik saja?" tanya Salwa lagi.
"Iya baik. Baik dalam segala hal, baik itu sikap, dan agama. Insa Allah dia pria yang paling cocok untuk Kakak. Dan yang jelas dia nggak akan melarang Kak Salwa untuk memakai kerudung. Nggak kayak Bang Randy" ada nada kesal saat dia mengingat mantan Kakak iparnya itu.
Salwa tenggelam dalam pikirannya. Apa yang di katakan Hanif benar. Melalui Pram, Arjuna bahkan sempat menyarankan untuk memakai cadar saat Salwa mengeluhkan tatapan aneh para lelaki di desanya, setelah predikat janda melekat pada dirinya."
To be continued...
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya ya.
Salam anak Borneo.
__ADS_1