Memeluk Kekasih Dalam Doa

Memeluk Kekasih Dalam Doa
Malam kita


__ADS_3

Usai melepas gaun pengantin, Fateena di ajak untuk duduk di halaman belakang. Suasana malam di desa itu sangat berbeda dengan suasana di tempat tinggalnya bersama kedua orang tua. Malam bertabur bintang di iringi nyanyian jangkrik, suara merdu itu beradu dengan suara riak sungai kecil di sekitaran kediaman Syailendra. Sungguh tempat yang cocok untuk menenangkan pikiran.


"Katakan, kenapa Mas mengajak ku kemari? di saat orang lain masih berkumpul dalam perayaan pesta pernikahan kita?" sudah sejak tadi dia ingin bertanya, Syailendra selalu menyuruhnya diam terlebih dahulu sedangkan dirinya sibuk di dapur.


"Makanlah dulu" alih-alih menjawab, sepiring masakan Syailendra di hidangkan di hadapan Fateena.


Lapar, Fateena benar-benar merasakan lapar saat ini. Kenapa? bukankah mereka sedang berpesta seharian ini, mengapa dia merasakan lapar di antara banyaknya menu makanan.


"Kenapa Mas membuatkan aku makanan."


"Karena aku tau kamu sangat lapar" jawab Syailendra. Kini dirinya sudah melepas atribut pernikahan dari tubuhnya. Mengganti baju sakral itu dengan kemeja lengan pendek berwarna abu dan celana hitam panjang berbahan kain. Selama ini saat bertemu Syailendra selalu menata rambutnya begitu rapi dengan memamerkan keningnya. malam ini rambut pria ini terlihat berbeda. Nampak tak tersentuh pomade Fateena baru menyadari Syailendra memiliki rambut lurus alami yang menutupi keningnya. Seketika Syailendra telihat lebih muda dengan rambut seperti itu, dan Fateena mengakui pria ini selalu tampan dengan model rambut seperti apa pun.


"Yasmine Fateena!! sudah cukup memandangi ku. Kamu bisa menikmati ketampanan ini sepanjang hidupmu. Jadi lebih baik kamu makan dulu sekarang."


Sangat narsis!!. Seperti itulah tanggapan Fateena saat ini kepada Syailendra. Pemuda ini nampak lebih kalem saat mereka belum sah menikah, sekarang setelah ikrar suci dan mereka sah menjadi suami istri, Syailendra begitu leluasa menggodanya, bahkan tadi dia berani menciumnya tanpa permisi. Mencuri ciuman! hal itu Enda lakukan beberapa detik setelah mereka sampai di dalam rumah ini. Fateena sangat terkejut, namun sejurus kemudian dia teringat bahwa mereka telah resmi menjadi suami istri.


"Bismillahirrahmanirrahim, hap!" Fateena menyendok masakan itu ke mulut. Enak!!. Bukan rahasia lagi kalau Syailendra memang pandai memasak karena dia seorang koki. Ini juga bukan kali pertamanya mencicipi masakan sang suami. Namun kali ini masakan Syailendra terasa lebih nikmat dari biasanya, Fateena jadi ingin lagi dan lagi memakan masakan itu.


"Pelan-pelan" ujar Enda ketika Fateena menikmati masakan itu dengan cepat.


"Aku tau kamu sangat lapar, tapi pelan-pelan saja makannya. Aku nggak akan memintanya kok."


Ada rasa malu menyapa Fateena saat itu, apakah dia terlihat rakus saat ini?. Dia pun meletakan sendok dan meraih gelas berisi air minum yang telah Syailendra sediakan di hadapannya.

__ADS_1


Tiga tegukan, Fateena meletakan kembali gelas berisi air itu"Katakan Mas, kenapa langsung membawaku kemari. Aku bahkan belum berpamitan pada semua orang, juga mengucapkan terimakasih."


"Karena para cacing di dalam perutmu sudah konser."


He??. Kedua bola mata Fateena membulat.


"Makanan yang di ambilkan Mecca nggak kamu makan habis, kamu pasti nggak suka sayur ya."


"Makanan kedua yang di ambilkan Salwa juga nggak kamu makan sampai habis, kamu pasti nggak suka daging ya?."


Rupanya Syailendra memperhatikan Fateena saat di acara pernikahan mereka. Wanita ini hanya makan sedikit di sana, itulah mengapa perutnya terus berdendang hingga terdengar di telinga.


Belum apa-apa Fateena sudah ketiban malu, ketahuan merasa lapar di hari yang indah itu. Sebenarnya dia pemakan segalanya asalkan itu halal. Rasa deg-degan membuatnya kehilangan selera makan saat itu. Itu saja, dan Enda menduga dirinya nggak menyukai makanan yang tersedia di sana. Nggak ingin sang istri terus merasakan lapar, dia pun berinisiatif langsung membawanya pulang. Haduh!! tipis sekali kan alasan pemuda ini.


Fateena menahan tawa, begitu pun dengan Syailendra.


"Iya, asalkan itu halal" sahut sang istri.


"Ups!! jadi aku sok tau dong. Maaf ya, kamu jadi aku culik ke sini. Lanjutkan makannya, aku mau mengambil ponsel dan melakukan panggilan video pada mereka di pondok pesantren."


Ucapan Enda di angguki Fateena, sementara Syailendra pergi dia segera menyelesaikan aktivitas makan.


Harus membayar atas tindakan menculik sang istri. Enda di tuntut untuk menjamu mereka semua di kediaman mereka, dengan hidangan yang mereka berdua sediakan. Sungguh hukuman yang kecil bagi Enda. Kalau soal memasak meski dalam jumlah banyak, itu sih bukan apa-apa baginya.

__ADS_1


Merasa ragu hendak melangkah menuju kamar mereka. Tangan Fateena di tarik pelan oleh Syailendra hingga mereka kini duduk berdua di balkon kamar. Ada kursi berukuran besar di sana, dengan pemandangan bulan nan temaram di atas sana.


Alih-alih bercinta, saat itu dua insan ini hanya saling bertukar cerita. Tentang kehidupan dan diri masing-masing. Kisah hidup Fateena yang kerap menjadi gunjingan para tetangga membuat Syailendra menarik nafas berat. Seandainya dia datang lebih cepat, insiden memalukan gagal menikah dengan Yahya itu nggak akan ada dalam lembaran kehidupan Fateena. Syailendra merutuki diri yang menolak anjuran sang Kakek saat itu hingga terlambat melamar Fateena.


"Maaf. Kalau aku menuruti nasihat Kakek, aku yang lebih dulu melamarmu." Meraih jemari Fateena, memandangi cincin yang telah terselip di jari manis sang istri.


"Apa kamu marah karena aku datang terlambat?."


Fateena menggelengkan kepala"Enggak. Aku di arahkan pada kebaikan sembari menunggumu datang, meski harus di iringi dengan ocehan masyarakat."


"Ya, kamu wanita yang selalu berpikir positif."


"Daripada meratapi nasib, akhirnya aku menyadari akan lebih baik kalau hati ini di latih untuk menerima kenyataan. Seperti cadar itu, awalnya aku hanya ingin bersembunyi di baliknya. Namun karena aku telah ikhlas, hatiku justru semakin mantap untuk selalu memakainya. Bagaimana denganmu, apa kamu mengizinkan aku untuk terus memakainya."


Menarik pelan kedua pipi Fateena"Tentu saja!. Kamu terlalu cantik istriku. Akan lebih aman kalau kamu memakainya."


Fateena meraih jemari Syailendra yang masih singgah di pipi, menariknya hingga tangan mereka saling berpegangan"Terimakasih Mas. Dan Maaf, karena aku sempat menolakmu."


"Jalan cinta kita harus sedikit berliku, agar ada kisah manis di dalamnya" ujar Syailendra kemudian menarik tubuh sang istri ke dalam pelukan. Sentuhan dan belaian saling berbalas di antara mereka, di bawah sinar rembulan mereka saling bertukar saliva. Owh!! hal ini nggak boleh berhenti sampai di sini saja!. Syailendra mengendong Fateena dan berpindah ke tempat tidur mereka.


Bismillahi Allahumma jannibna as-syaithana wa jannibi as-syathana maa razaqtana.


To be continued...

__ADS_1


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya ya.


Salam anak Borneo.


__ADS_2