Memeluk Kekasih Dalam Doa

Memeluk Kekasih Dalam Doa
Gagal fokus


__ADS_3

Menemui Ayah dan Ibunda, Salwa sangat bahagia. Bahkan untuk mengantar Salwa pun Randy nggak bisa, karena sibuknya pekerjaan. Dia hanya titip salam dan mentransfer sejumlah uang kepada Ayah dan Ibu mertua.


Awalnya, Randy berniat mengutus sang asisten untuk mengantar Salwa, namun wanita itu menolak. Sudah lama nggak pulang ke desa dengan menaiki bus, dia rindu suasana seperti itu.


Berbekal koper berukuran sedang, Salwa sudah memberi kabar kepada kedua orang tuanya. Hanif di utus untuk menjemput sang Kakak di halte. Baru saja memasuki jalan utama desa tersebut, bus yang Salwa tumpangi mogok, tepat di jembatan besar. Semesta kembali menguji kesabaran seorang Salwa, membawa diri ke sebuah warung kecil di dekat jembatan itu, sang hujan begitu deras menyapa bumi"Akh!! aku seolah lupa dengan ramalan cuaca di ponsel, seharusnya aku membawa payung!" gumamnya. Para penumpang yang keluar gegas kembali masuk ke dalam bus. Lumayan berjarak dari bus yang mogok itu, mau nggak mau Salwa menunggu di depan warung dengan koper di sampingnya, alih-alih berlari dalam hujan menuju bus. Udara sejuk di desa yang asri itu seketika semakin dingin, perlahan membuat tubuh kecil itu menggigil. Memeluk diri sendiri, Salwa mencoba menenangkan tubuhnya yang bergetar.


Sebuah payung terulur ke hadapan Salwa.


"Eh! payung ini!!" seru sang hati.


Wanita ini mengangkat pandangan, demi melihat sosok yang mengulurkan payung tersebut padanya.


Seorang pria tinggi tegap dengan rambut hitam legam. Hidung yang mancung, garis rahang yang tegas, dan memiliki tahi lalat di bawah matanya. Sejenak bertemu pandang, Salwa mengingat sosok yang dahulu juga memberikan payung tersebut kepadanya. Waktu itu sang pemberi payung mengenakan masker berwarna hitam, dan memakai kacamata.


"Ya, sorot mata yang sama. Apakah dia orang yang sama juga?" tanya Salwa dalam hati.


"Ahmad Real Estate" Salwa bergumam namun hanya dalam hati. Ya, siapa yang nggak tau dengan perusahaan ternama itu. Sebuah perusahaan pengembang dalam berbagai proyek. Seperti perkantoran, perumahan, pusat perbelanjaan, lapangan golf, restoran bahkan tempat rekreasi.


Melihat Salwa memandangi nama perusahaan sang Kakek yang tertera di payung, lekas Arjuna bersuara"Sepertinya Nona mau kembali ke bus. Pakai saja payung ini."


Ah ya!. Salwa harus segera kembali ke dalam bus, agar saat bus sudah bisa beroperasi kembali dirinya nggak tertinggal.


"Kamu nggak perlu payung ini?."


Menggeleng"Enggak. Saya ke sini cuman mau membeli air minum ini, setelah itu kembali ke mobil saya" memperlihatkan air mineral di tangannya.


"Mobil kamu yang mana?."


Arjuna menunjuk sebuah mobil berwarna hitam, yang terparkir di ujung warung tersebut.


"Sebelum payung ini saya pinjam, boleh saya mengantarkan kamu ke dalam mobil?."


"Hah?."


Reaksi terkejut Arjuna membuat Salwa lekas bersuara"Maaf bukan bermaksud apa-apa. Lihatlah, kalau mau kembali ke mobil setidaknya kamu harus terkena hujan."


Oh, Arjuna mengerti. Salwa ingin membalas kebaikan dengan kebaikan pula.

__ADS_1


Arjuna yang memegangi payung dengan Salwa di sampingnya. Andai mereka dalam ikatan yang halal, akan lebih baik kalau Arjuna merangkul pundak sang wanita agar mereka nggak kebasahan. Bukan seperti sekarang, dirinya harus rela kebasahan di pundak sebelah kiri demi menjaga Salwa agar terhindar dari hujan.


"Siapa nama kamu?." Bertanya usai mengantarkan Arjuna ke dalam mobil.


"Nona, orang-orang sudah masuk ke dalam bus semua."


Ucapan Arjuna membuat Salwa panik"Oh!!. Kalau begitu saya pinjam dulu payungnya."


"Ambil saja. Saya punya banyak kok di rumah."


Menatap Arjuna beberapa detik, wanita ini segera tersadar karena ucapan Arjuna"Nona akan ketinggalan bus."


Salwa berjalan perlahan di dalam hujan usai mengucapkan terimakasih kepada pemuda tak di kenal itu. Setelah berada kembali di dalam bus, Salwa baru menyadari satu hal.


"Kok dia tau aku dari bus ini?. Bukankah sebelumya aku pergi ke warung dan cukup lama di sana. Berarti dia pun sudah lama memperhatikan aku?."


Di tengah pikiran yang menerka-nerka, sang ponsel di salam tas kecilnya berdering. Sang suami sedang menelpon dirinya.


"Assalamualaikum Mas."


"Waalaikumsalam. Kamu sudah sampai di rumah Ayah dan Ibu, Sayang?."


Kembali meminta maaf dengan suara lembut, Salwa pun selalu memberikan maaf kepadanya.


...----------------...


^^^Tak semua rindu dapat di tuntaskan dengan pertemuan, sebab itulah doa di ciptakan.^^^


...🥀🥀🥀🥀...


Mengetahui bahwa cinta tak bertepuk sebelah tangan, sungguh sebuah penyesalan tengah menggerogoti relung jiwa. Sebab hanya manusia biasa, awalnya Yasmine begitu ikhlas menerima Yahya. Namun sampai sekarang lelaki itu tak jua berhasil masuk ke dalam hatinya. Apalagi sudah beberapa hari ini Yahya nggak bisa di hubungi, begitu kata sang Ayah.


"Orang tuanya pun sedang mencari keberadaanya." Ujar Ayah lagi, saat menghubungi Yasmine.


Keyakinan itu mulai goyah, rasa takut di khianati pun singgah pada diri mereka. Dalam waktu dekat Yasmine akan menyelesaikan sekolahnya, begitu juga dengan Yahya. Perbedaan usia hampir 4 tahun itu memang sangat terasa, dari sikap Yahya yang dewasa dan sabar menghadapi Yasmine yang irit bicara. Pada pertemuan sebelumnya, Yahya terlihat begitu senang bercerita banyak dengan Yasmine. Tentang kuliahnya, juga tentang bisnis keluarga yang baru di gelutinya.


Hanya Yahya yang banyak bercerita, sedangkan Yasmine sebagai pendengar setia. Saat berpisah, Yahya hendak mencium kening gadis ini, namun segera Yasmine membangun jarak di antara mereka.

__ADS_1


"Belum halal Mas" ujarnya.


Terlihat menarik nafas, Yahya akhirnya tersenyum kembali, memaklumi betapa Yasmine sangat menjaga diri.


"Maaf ya Mas" Yasmine merasa nggak enak hati, karena bukan sekali ini saja dia menolak kontak fisik di antara mereka.


"Nggak pa-pa. Justru aku sangat bangga, akan memiliki istri solehah seperti dirimu."


Seharusnya, saat calon suami mengatakan hal seperti itu, setidaknya hati sang gadis akan merasa bergetar. Sayangnya hal ini nggak terjadi pada diri Yasmine. Di lihat dari rupa, Yahya pemuda yang tampan. Meski masih kuliah namun dirinya sudah bergabung dalam bisnis keluarga, tentu demi memberikan kehidupan yang layak untuk sang istri. Dari hasil kerja kerasnya sendiri, enggak lagi hanya meminta kepada orang tua seperti yang sudah-sudah.


"Hatiku seperti mati rasa, sangat berbeda saat hanya mendengar suara orang itu" Yasmine berkata dalam hati, seraya terbayang wajah Enda.


"Astaghfirullah!!" gadis ini menepuk kedua pipi. Gadis ini tersadar dari wisata masa lalu, saat terakhir kali berjumpa Yahya. Akh! ini tentang Yahya, kenapa yang terbayang wajah Enda!!!.


"Hei!! Kak Yasmine kenapa?" tegur seorang santriwati.


"Enggak kok. Hanya sedang melamun saja."


"Kok melamun, Kyai Bahi sedang membacakan kitab."


"Kakak dengar kok" sahut Yasmine lagi, gadis ini membuka kembali risalah Al-muawwanah.


"Oh ya?. Kalau begitu sampai di halaman berapa kita?" seolah hendak membalas Yasmine yang kerap mendisiplinkan mereka, santriwati ini tersenyum nakal, dan para santriwati di sekitar mereka kompak meletakan kitab di dada, agar Yasmine nggak melihat halaman yang sedang mereka buka.


Yasmine kena batunya, sepagi ini dia ketahuan nggak fokus saat belajar.


"Hemm, maaf. Kakak sedang banyak pikiran" akhirnya Yasmine mengakui keteledoran.


Wajah memelas Yasmine membuat mereka tertawa kecil. Sontak Ustadzah Kholifah meminta mereka untuk tenang kembali.


"Syuuttt!!. Lanjutkan belajarnya. Yasmine buka halaman 15."



"Syukron Ustadzah."


To be continued...

__ADS_1


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya ya...


Salam anak Borneo.


__ADS_2