
Riak kebahagiaan tak kunjung usai, Arabella memandangi foto pernikahan Arjuna dan Salwa dengan senyum yang tak kunjung usai jua. Di tambah video kiriman Syailendra, Nenek cantik paruh baya ini semakin senang. Dia bahkan menawarkan sejumlah perhiasan untuk Fateena.
"Enggak mau, nanti kalau ketahuan Arjuna kita mengintip mereka apa nggak bahaya?. Meskipun aku di paksa tapi dengan menerima hadiah itu aku resmi bersekongkol denganmu Mas."
"Ini berlian lho sayang" malam itu Syailendra berencana bermain basket di lapangan dekat danau. Dia sudah membuat janji dengan ustadz Wahab dan dua orang teman lainnya, Fatur dan Joe.
Fateena yang nggak mau di tinggal sendiri di rumah mendapat tawaran untuk ikut dengannya, sebab Fatur juga membawa istri sedangkan Joe masih bujangan.
"Cantik banget lho perhiasannya, kalau nggak mau kalung, ambil cincin saja. Nggak enak menolak hadiah dari Nenek Ara."
Langkah Fateena terhenti, ucapan Syailendra ada benarnya"Tapi Mas.... kata Mas kan itu berlian, meski hanya cincin pasti harganya fantastis."
Langkah besar Syailendra dalam sekejap membuat langkah mereka berdampingan, lelaki ini merangkul pundak Fateena seraya mengeluarkan ponsel"Kalau gitu pilih yang kecil saja berliannya. Nih banyak kok yang berukuran kecil." Ya, sejatinya Fateena seorang wanita yang lumrah menyukai perhiasan seperti itu, namun rasa tau dirinya lebih besar dari rasa ingin memiliki. Maka pilihannya jatuh pada sebuah cincin dengan berlian kecil di atasnya.
"Kenapa memilih yang itu? yang besar dong seperti yang Nenek pakai" begitu bunyi pesan dari Arabella saat Fateena menjatuhkan pilihan.
"Di suruh pilih yang matanya besar Mas."
"Pilih lagi aja. Dari pada Nenek Ara ngambek" celingukan mencari Wahab dan teman-teman, ehhh kok mereka belum datang.
"Jariku kecil, kalau memakai cincin dengan mata besar rasanya aneh. Lagipula apa nggak terlalu mencolok??."
"Bukan hanya jarinya, orangnya juga kecil" mulut jahat!! Syailendra masih celingukan mencari teman-teman, ucapan Fateena di jawab spontan saja.
Di samping lapangan basket ada taman kecil. Fateena melihat ayunan kayu di sana, demi membuktikan bahwa dirinya nggak kecil, dia naik ke atas ayunan itu meski tertatih.
Fateena sedikit berlari namun Syailendra cukup melangkah besar saja untuk sampai dengan cepat ke depan ayunan.
"Turun, nanti jatuh."
__ADS_1
Karena Fateena sudah berada di atas ayunan, tinggi badan mereka terlihat berbeda, kini dia lebih tinggi dari sang suami. Wanita ini mengangkat dagu dengan mata memicing menatap Syailendra"Oho, jadi begini rasanya saat Mas melihat ku, lihatlah si kecil ini juga bisa melihat Mas seperti Mas melihat ku."
Tersenyum smirk, jelas Enda meledek tingkah sang istri. Tak ayal demi meladeni tingkah Fateena, Syailendra juga naik ke atas ayunan itu. Kini mereka saling berhadapan, tangan Syailendra menahan tubuh Fateena yang hampir terjatuh.
Kembali mendongak menatap wajah sang suami, jahilnya Syailendra menatap Fateena seperti Fateena menatapnya tadi, mengangkat dagu dengan mata memicing"Bahkan di atas ayunan pun kamu tetap imut."
Kalah telak, Fateena memberengut. Atas bantuan Syailendra dia dapat turun dengan baik dari atas ayunan. Diamnya Fateena membuat sang suami tertawa namun tanpa suara. Ternyata si kulkas empat pintu ini sangat menggemaskan kalau sedang merajuk.
Syailendra kembali ke ayunan namun dalam posisi duduk, dia menarik Fateena hingga duduk di pangkuannya. Hais!! bahkan kakinya menggantung saat duduk di atas ayunan itu, kalau begini kan dirinya memang terbukti kecil.
"Kok diam?." Ayunan mulai di mainkan perlahan.
"Enggak diam kok. Memang aku nya pendek, mau gimana lagi."
"Hihihihi" tertawa renyah. Ini yang dia suka dari Fareena, dia lekas mengakui kenyataan alih-alih membuang waktu dengan mencari banyak alasan.
"Tapi aku suka. Aku rela menunggu lama lho demi si kecil yang cantik ini."
"Ya Allah, gara-gara angin membelai wajahnya aku jadi luluh. Apa ini cobaan punya suami cakep, mau marah saja susah" bisik hati Fateena.
Mata yang terlihat menyipit, Syailendra tau Fateena sedang tersenyum di balik kain penutup wajah.
"Apalagi kalau sedang senyum, untung ada penutup wajah itu kalau enggak aku bisa diabetes."
"Kok diabetes?!" pergerakan ayunan terhenti, Fateena turun karena mulai pusing.
"Kata Ayah Agam kami harus hati-hati sama wanita manis, kalau dia tersenyum bisa menyebabkan gangguan pada detak jantung, sesak nafas, dan yang lebih parah bisa menyebabkan diabetes karena terlalu manis itu."
Fateena memutar bola mata ke kiri, kanan, atas dan bawah, dasar lelaki bermulut manis, joga sekali menggombal!!.
__ADS_1
"Assalamualaikum" rupanya di tengah lapangan sudah ada Wahab, Fatur dan Joe. Beberapa waktu lalu mereka diam menyaksikan ke-uwu an pasangan ini. Mey, istri Fatur sampai mencubit lengan sang suami karena gemas melihat tingkah mereka.
"Waalaikumsalam" sahut Syailendra, Fateena menyahuti dengan pelan.
"Kapan main basket nya kalau kalian terus bermesraan di sana. Keburu malam!!" seru Joe.
"Ayolah, kasihanilah si jomblo ini" ujarnya menambahkan.
"Salah sendiri nggak usaha nyari jodoh. Di jodohin malah kabur dari rumah" menggenggam jemari Fateena, Syailendra menuju lapangan.
"Bawel" sahut Joe.
Di sana Fateena berkenalan dengan Mey, wanita cantik dengan rambut panjang, lurus hitam dan lebat. Dia memiliki poni yang menutupi kening, poni yang rata seperti bonek horor dari Jepang.
Di tepi lapangan mereka saling bertukar cerita tentang awal bertemu dengan para suami. Mereka terlihat cocok hingga terjadilah pertukaran nomor ponsel. Mey bercerita bahwa dia hanyalah seorang Ibu rumah tangga dengan satu putri, namun itu putri bawaan sang suami dengan istri sebelumnya yang tak lain dan tak bukan adalah Juwita. Ya! ada kisah unik yang menjembatani persahabatan Fatur dan Wahab. Kisah mereka ada dalam novel Meet You Again, silahkan mampir.
Gadis kecil itu bernama Miya, saat dia sedang di kediaman Juwita maka Mey akan kesepian di rumah. Jadi demi mengisi waktu luang dia berkebun kecil-kecil saja. Dari sekedar iseng menjadi kesukaan, dan sampai sekarang Mey jadi suka menanam bunga-bunga.
Halaman belakang yang luas, juga halaman depan yang luas, Fateena memang sempat berniat mengisi halaman depan dengan bunga-bunga, sedangkan halaman belakang dengan sayuran.
"Lain kali ajari aku menenam bunga ya."
"Boleh saja, tapi Juwita lebih pro, suaminya sarjana pertanian lho."
"Bagaimana kalau kalian berdua yang mengajariku."
"Ide bagus. Sejujurnya aku juga ingin belajar darinya, agar semakin mengerti tentang bercocok tanam sayuran" sahut Mey. Mereka berdua tenggelam dalam obrolan itu, sedangkan para lelaki sedang mencari keringat di lapangan sana.
To be continued...
__ADS_1
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya ya.
Salam anak Borneo.